Ketergantungan pada teknologi membuat anak mudah terpapar layar, termasuk saat orang tua bekerja dari rumah dan memakai gawai untuk menyelesaikan tugas. Kondisi ini, menurut psikolog anak dan keluarga Saskhya Aulia Prima, tidak otomatis menjadi masalah selama penggunaan layar tidak berubah menjadi kebiasaan utama anak.
Ia menekankan pentingnya konsistensi aturan di rumah, sehingga penggunaan screen time terarah dan proporsional sesuai usia anak. Prinsip ini disampaikan Saskhya dalam sebuah konferensi pers.
"Jadi, sebenarnya yang perlu kita pegang itu kan konsistensi, pada saat kita tahu aturannya, bagaimana sih yang sehat. Misal, untuk anak usia sekian, screen time sehari berapa lama, begitu," katanya dalam konferensi pers di Parentalk Festival 2026 di Tangerang Selatan, Rabu (30/9).
Saskhya menjelaskan, dalam pengasuhan selalu ada situasi yang membuat gawai menjadi pilihan sementara, misalnya ketika orang tua harus mengikuti rapat, menyelesaikan pekerjaan, atau sedang melakukan perjalanan jauh bersama anak.
Dalam kondisi seperti itu, anak dapat diberi akses gawai secara terbatas. Yang utama adalah cara orang tua menempatkan penggunaan layar dalam rutinitas harian, bukan semata ada atau tidaknya gawai.
"Konsisten itu kan nggak selalu full, kadang yang menjaga anak lagi keluar dan kita (orang tua) kerja. Sesuatu yang sementara itu sebenarnya nggak akan terlalu berpengaruh, kecuali berubah menjadi permanen," ujar Saskhya.
Advertisement
Jangan Sampai Gadget Jadi Aktivitas Utama Anak
Saskhya menegaskan, gawai sebaiknya hanya menjadi salah satu dari banyak pilihan aktivitas untuk anak. Masalah muncul ketika solusi sementara bergeser menjadi kebiasaan dan menjadikan gawai sebagai kegiatan utama sehari-hari.
Menekankan perannya yang terbatas, Saskhya mengatakan, "Makanya bukannya kita boleh pakai gadget, tapi gadget is one of the things yang bisa menstimulasi anak, hanya salah satu," katanya.
Karena itu, orang tua disarankan menyediakan alternatif aktivitas agar anak tidak bergantung pada layar untuk hiburan atau pengalihan perhatian. Anak bisa diajak bermain, beraktivitas di luar rumah, atau melakukan kegiatan yang sesuai dengan usianya.
Orang tua juga dapat menyiapkan rangkaian kegiatan untuk dilakukan bersama saat memiliki waktu luang, termasuk pada akhir pekan, sehingga pilihan aktivitas anak tetap beragam.
Pemberian screen time dalam situasi tertentu tidak serta-merta menandakan kegagalan pola asuh. Yang lebih penting adalah memastikan penggunaannya bersifat sementara dan menjadi salah satu pilihan, bukan satu-satunya cara menenangkan, menghibur, atau mengalihkan perhatian anak.