Protes Pelajar Guncang Prancis, Ratusan Sekolah Ditutup

Ratusan sekolah di Prancis ditutup menyusul aksi pelajar yang meluas. Menteri Pendidikan membeberkan dampaknya dan rencana penanganan.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Protes Pelajar Guncang Prancis, Ratusan Sekolah Ditutup
Lebih dari 400 orang, sebagian besar di antaranya anak-anak, ditahan di Prancis pada Selasa (30/9/2026) setelah para pelajar di berbagai wilayah memblokade sekolah mereka. (Foto: Jean-François Badias/AP)

Gelombang protes pelajar di Prancis memicu penutupan sebagian hingga seluruhnya di ratusan sekolah pada Senin. Menteri Pendidikan Prancis �c9douard Geffray menyebut 24 sekolah telah "dibakar atau dijarah" sejak aksi dimulai, dengan bentrokan melibatkan polisi antihuru-hara dalam beberapa hari terakhir.

Dikutip dari BBC, Senin (5/10/2026), Geffray mengatakan kegiatan belajar mengajar akan "ditangguhkan seluruhnya atau sebagian" di sekitar 400 hingga 500 sekolah menengah karena kondisi keamanan "belum terpenuhi". Ia menyampaikan penutupan bersifat situasional mengikuti perkembangan di lapangan.

Aksi yang dipicu persoalan pendidikan itu berawal pekan lalu di Paris, lalu melebar ke sejumlah kota lain seperti Montpellier, Nantes, dan Marseille. Para siswa sekolah menengah dan kelompok pendukungnya memprotes kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, serta kondisi bangunan sekolah yang dinilai rusak dan tidak terawat.

Pada Jumat, Menteri Kehakiman Prancis G�e9rald Darmanin mengatakan 735 dari sekitar 3.700 sekolah di negara itu terdampak "dengan satu atau lain cara" akibat aksi protes yang disertai kekerasan. Geffray memperingatkan jumlah sekolah yang terdampak pada Senin bisa mendekati angka tersebut, namun ia menjanjikan "kembalinya kegiatan belajar mengajar secara bertahap dan sebagian" di lokasi-lokasi yang memungkinkan.

Geffray juga menyoroti kehadiran pihak luar dalam unjuk rasa para pelajar. "Ada aktivis, terutama dari kelompok sayap kiri ekstrem, yang menyusup ke dalam gerakan pelajar sekolah menengah, membajak gerakan tersebut dari para siswa sendiri, dan melakukan kekerasan ekstrem," kata Geffray. "Jelas, hal ini menimbulkan risiko bagi staf maupun siswa kami," lanjutnya.

Menurut Geffray, sebanyak 78 tenaga pendidikan terluka sepanjang rangkaian aksi. Ia menggambarkan situasi ini sebagai "sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya".

Pada hari yang sama, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nu�f1ez menyampaikan 1.747 orang ditangkap pada Jumat. Secara keseluruhan, lebih dari 5.000 orang telah ditangkap sejak gerakan protes dimulai, menurut AFP, dengan sekitar 85 persen di antaranya merupakan anak di bawah umur.

Masih merujuk AFP, penyelenggara aksi menyerukan demonstrasi berlanjut pada Selasa. Mereka menuding pemerintah belum mengambil "langkah-langkah konkret" untuk menjawab tuntutan yang disuarakan.

Pada Minggu, Perdana Menteri Prancis S�e9bastien Lecornu mengatakan pemerintah mengambil langkah lebih lanjut untuk "mengatasi kesulitan yang dihadapi para siswa sekolah menengah dan tenaga pendidikan". Langkah itu mencakup memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, memperbaiki fasilitas, menata ulang hari sekolah, serta membuat platform penerimaan mahasiswa universitas lebih transparan.

Lecornu menambahkan, pemerintah mempercepat pembahasan rancangan undang-undang "vandal pays" guna memastikan pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan menanggung biaya akibat tindakan mereka.

Rekomendasi