Hipertensi pada Anak, Faktor Penyebab, Tanda-tanda, dan Cara Pencegahan Tekanan Darah Tinggi di Usia Dini

Hipertensi pada anak dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti gangguan ginjal dan pola hidup yang tidak sehat.

Aditya Eka Prawira
Oleh Aditya Eka Prawira - Reporter
Hipertensi pada Anak, Faktor Penyebab, Tanda-tanda, dan Cara Pencegahan Tekanan Darah Tinggi di Usia Dini
arti mimpi anak sakit Ilustrasi dibuat AI (© 2025 Liputan6.com)

Hipertensi pada anak kini menjadi isu yang sangat penting di zaman modern. Sebelumnya, kondisi tekanan darah tinggi lebih sering diasosiasikan dengan orang tua, tetapi saat ini anak-anak juga dapat mengalaminya. Menurut dokter spesialis penyakit dalam, RA Adaninggar Primadia Nariswari, hipertensi tidak mengenal batasan usia. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui penyebab hipertensi pada anak agar dapat melakukan pencegahan dan mendeteksi sejak dini.

"Jadi jangan dikira hipertensi itu hanya penyakit orang tua. Sekarang, dengan berubahnya gaya hidup dan perubahan zaman, penyakit yang dulu dikatakan sebagai penyakit orang tua kini juga bisa terjadi pada anak-anak," ungkap Ning dalam siaran langsung Instagram Kementerian Kesehatan RI pada Jumat, 26 Juli 2024. Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal, umumnya lebih dari 140/90 mmHg. Pada anak, hipertensi dapat dikategorikan menjadi dua jenis utama: hipertensi sekunder dan hipertensi primer, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber pada, Selasa(8/4/2025).

Hipertensi Primer

Hipertensi primer muncul akibat faktor gaya hidup yang tidak sehat. Ning menjelaskan bahwa sekitar 90 persen kasus hipertensi disebabkan oleh pola hidup yang buruk. "Kalau melihat lifestyle, siapa pun bisa terkena hipertensi, tidak hanya usia lanjut, tetapi mulai dari remaja, dewasa muda, hingga lansia bisa mengalami hipertensi," jelasnya.

Anak-anak yang mengalami obesitas dan diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena hipertensi primer. "Seperti yang kita ketahui, anak-anak dengan obesitas dan diabetes kini meningkat, dan ini biasanya diikuti juga dengan hipertensi," tambah Ning.

Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder umumnya muncul sebagai akibat dari kondisi medis tertentu, contohnya adalah gangguan pada ginjal atau ketidakseimbangan hormon. "Hipertensi sekunder biasanya disebabkan oleh penyakit, seperti gangguan ginjal atau masalah hormonal tertentu. Apabila penyakit dasarnya diobati, hipertensi biasanya juga akan ikut sembuh," jelas Ning.

Oleh karena itu, penanganan hipertensi pada anak sangat krusial untuk menghindari komplikasi di masa depan. Dengan melakukan deteksi dini dan memberikan pengobatan yang tepat, anak dapat memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan aktif.

Lima tanda dan Gejala dari Hipertensi

Hipertensi dikenal sebagai kondisi yang berbahaya, salah satunya karena sering kali tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, hipertensi sering disebut sebagai silent killer. "Kebanyakan orang dengan hipertensi tidak menyadarinya karena tidak bergejala. Kita tidak akan tahu apakah kita hipertensi atau tidak tanpa memeriksa tekanan darah," jelas Ning. Meskipun demikian, ada beberapa anak yang mungkin mengalami gejala ringan seperti:

  1. Sakit kepala
  2. Nyeri di tengkuk
  3. Pusing
  4. Rasa berputar atau vertigo

Walaupun begitu, Ning menekankan bahwa nyeri di tengkuk tidak selalu menjadi indikasi hipertensi. "Harus dipastikan dengan pengukuran tekanan darah," ujarnya. Di sisi lain, hipertensi sekunder biasanya disertai gejala yang terkait dengan penyakit yang mendasarinya. "Jika hipertensi disebabkan oleh penyakit ginjal, misalnya, gejala-gejalanya akan berkaitan dengan penyakit ginjal tersebut," tambah Ning.

Faktor Risiko yang dapat Memicu terjadinya Hipertensi

Ning mengungkapkan bahwa terdapat dua kategori faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi. Kategori pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat diubah, yang mencakup beberapa aspek penting.

1. Faktor Risiko yang Tidak Bisa Diubah

  1. Genetik: Anak-anak yang memiliki orang tua dengan riwayat hipertensi memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.
  2. Usia: Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah cenderung menjadi lebih kaku, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya hipertensi.

Kategori kedua adalah faktor risiko yang dapat diubah. Ini termasuk berbagai kebiasaan dan pola hidup yang dapat disesuaikan untuk menurunkan risiko hipertensi.

2. Faktor Risiko yang Bisa Diubah

  1. Pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan yang mengandung garam dan lemak jenuh secara berlebihan.
  2. Kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan berolahraga yang jarang dilakukan.
  3. Obesitas yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.
  4. Kebiasaan buruk seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan kurang tidur.

"Jika penyebab hipertensi lebih banyak berasal dari faktor gaya hidup, maka dengan memperbaiki pola hidup, risiko hipertensi bisa dikurangi," ujar Ning. Dengan memahami kedua kategori ini, kita dapat lebih waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan yang efektif.

Langkah-langkah untuk Mencegah Hipertensi pada Anak

Mencegah hipertensi pada usia dini sangat krusial untuk menghindari masalah kesehatan di masa depan. Terdapat beberapa langkah yang dapat diambil, antara lain:

  1. Menerapkan Pola Makan Sehat: Anak-anak harus dibiasakan untuk mengonsumsi makanan yang rendah garam, kaya serat, serta banyak buah dan sayuran.
  2. Bergerak Aktif: Melakukan olahraga secara teratur dapat membantu menjaga berat badan yang ideal dan kesehatan jantung.
  3. Menjaga Konsumsi Gula dan Lemak: Sebaiknya hindari makanan cepat saji dan minuman manis yang dapat menyebabkan obesitas.
  4. Mengelola Stres dengan Baik: Ajarkan anak cara-cara sehat untuk mengatasi stres, seperti berolahraga atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.
  5. Melakukan Pemeriksaan Tekanan Darah Secara Rutin: Deteksi dini sangat penting untuk mengetahui apakah anak memiliki hipertensi atau tidak.

"Meskipun seseorang memiliki kecenderungan genetik untuk hipertensi, jika menjalani pola hidup sehat, mereka belum tentu akan mengalami hipertensi juga," ungkap Ning. Dengan meningkatnya angka kasus hipertensi di kalangan anak-anak, orang tua harus lebih waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini. Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat merupakan kunci utama untuk menjaga tekanan darah anak tetap dalam batas normal dan mengurangi risiko penyakit di masa mendatang.

Rekomendasi