Perhelatan BRI JF3 Fashion Festival 2026 kembali membuktikan bahwa mode ramah lingkungan (sustainable fashion) tidak terpaku pada satu formula kaku. Berlandaskan tema “Recrafted: Shaping the Future,” para desainer lokal hingga internasional membuktikan bahwa akhir dari fungsi suatu barang justru menjadi titik awal lahirnya karya busana bernilai tinggi.
Kain perca, busana lawas berpuluh tahun, kunci vintage, hingga material tak biasa seperti sisik ikan, tulang sapi, dan cangkang kerang disulap menjadi koleksi yang memukau di panggung runway.
Berikut deretan desainer dan jenama yang menghadirkan inovasi sustainability di BRI JF3 Fashion Festival 2026:
- Howard Laurent (Koleksi The Key): Menghadirkan 30 looks couture bernuansa glamor yang memanfaatkan hingga 50 persen material daur ulang, seperti kunci vintage, manik-manik tak terpakai, dan sisa kain.
- RAEGITAZORO (Koleksi LUMEN): Raegita Oktora mengolah kembali pakaian, taplak meja, dan kain peninggalan mendiang ibunya menjadi 30 looks bergaya arsitektural dan berpotongan presisi, menghidupkan kembali cerita serta memori keluarga.
- AMOTSYAMSURIMUDA (Koleksi Heirloom Fantasy): Menyulap tumpukan tekstil antik dan kain lama milik orang tuanya menjadi busana pria (menswear) kontemporer yang sarat unsur nostalgia.
- Adrie Basuki (Koleksi Jantung Nadi): Mengembangkan Kain Marmer dari olahan kain sisa yang dipadu batik cap tradisional serta pewarna alami Nusantara (jahe, kunyit, kayu manis, dan pisang). Koleksi ini diperagakan langsung oleh para penyintas kanker payudara, paru-paru, dan limfoma.
- AGATHANDY by Agatha Nindya (Koleksi LOKAKINI): Di bawah naungan APPMI, desainer ini menggabungkan siluet jas modern dengan beskap tradisional, serta memadukan perca lace dan batik menjadi ornamen dekoratif.
- YASA (Koleksi NIHI Voyage): Menerjemahkan lanskap Sumba ke dalam busana pria dengan memanfaatkan elemen unik seperti limbah tulang rusuk sapi, capit kepiting, dan cangkang kerang sebagai hiasan.
- The Theme (Koleksi The Life Journey): Dirancang oleh Novi Susanti dan Ferdinand Natan, jenama ini mengolah limbah sisik ikan kakap dari nelayan Bintan menjadi aksesori berbahan payet berestetika tinggi melalui teknik hand sewing.
- Louise Marcaud (Koleksi Louiseguard S/S 2027): Desainer asal Prancis ini memanfaatkan batik, lurik, dan kain deadstock yang ia kumpulkan dari pasar serta workshop di Jakarta dan Yogyakarta, mengintegrasikannya ke dalam 13 dari 20 looks bergaya tailoring ala Prancis.
Advertisement
Industri Harus Berani Berubah
Komitmen terhadap perubahan cara kerja industri ini juga ditegaskan oleh Chairman JF3 Fashion Festival, Soegianto Nagaria.
"Industri fashion terus berubah. Karena itu, kita juga harus berani berubah, meningkatkan kualitas, memperkuat cara bekerja, membangun kolaborasi yang lebih setara, serta menciptakan ekosistem yang memberi ruang bagi lebih banyak talenta untuk tumbuh secara berkelanjutan. Melalui semangat Recrafted: Shaping the Future, JF3 tidak hanya ingin menjadi tempat untuk menampilkan karya, tetapi ruang untuk membangun standar, membuka kemungkinan baru, dan mendorong perubahan nyata bagi industri fashion Indonesia," ujar Soegianto.
Melalui eksplorasi ini, BRI JF3 Fashion Festival 2026 menegaskan bahwa masa depan industri mode tidak selalu harus bergantung pada bahan baru, melainkan pada keahlian melihat potensi besar dari apa yang sudah ada.