Dinkes Papua Barat Perluas Layanan Kesehatan ke Tujuh Kampung Terpencil di Manokwari Selatan

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat memperluas jangkauan layanan kesehatan ke tujuh kampung terpencil di Manokwari Selatan, menghadirkan akses medis komprehensif bagi masyarakat pedalaman.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dinkes Papua Barat Perluas Layanan Kesehatan ke Tujuh Kampung Terpencil di Manokwari Selatan
Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat memperluas jangkauan layanan kesehatan ke tujuh kampung terpencil di Manokwari Selatan, menghadirkan akses medis komprehensif bagi masyarakat pedalaman. (AntaraNews)

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat telah memperluas akses layanan kesehatan bagi warga di tujuh kampung terpencil di Distrik Isim, Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel). Program kesehatan bergerak ini berlangsung pada 2 hingga 5 Agustus 2026, menjangkau daerah yang selama ini sulit diakses. Inisiatif ini bertujuan mengatasi kendala geografis dan transportasi yang menghambat masyarakat pedalaman mendapatkan fasilitas kesehatan.

Kepala Seksi Layanan Primer Dinkes Papua Barat, dr. Siti R. Saifoeddin, menyatakan bahwa program ini merupakan upaya menghadirkan layanan medis langsung. Tujuh kampung yang menjadi sasaran adalah Isim, Tubes, Duhugesa, Umusi, Dibera, Inyuara, dan Tahosta. Kampung-kampung ini memerlukan waktu tempuh yang jauh untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat.

Dengan melibatkan tim medis lintas bidang, termasuk dokter spesialis, program ini diharapkan mampu meningkatkan deteksi dini berbagai penyakit. Penanganan yang lebih cepat diharapkan dapat menekan risiko komplikasi serius. Layanan komprehensif ini merupakan bentuk "jemput bola" agar masyarakat pedalaman juga merasakan akses kesehatan yang merata.

Perluasan Akses dan Tujuan Program Kesehatan Bergerak

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat meluncurkan program kesehatan bergerak untuk menjangkau masyarakat di tujuh kampung terpencil di Distrik Isim, Manokwari Selatan. Program ini dilaksanakan dari tanggal 2 hingga 5 Agustus 2026, dengan fokus pada penyediaan layanan kesehatan langsung di lokasi. Kampung-kampung yang menjadi sasaran meliputi Kampung Isim, Tubes, Duhugesa, Umusi, Dibera, Inyuara, dan Tahosta, yang dikenal memiliki akses terbatas ke fasilitas medis karena kondisi geografis yang sulit.

Menurut dr. Siti R. Saifoeddin, tujuan utama program ini adalah menghadirkan akses layanan kesehatan secara langsung kepada masyarakat pedalaman. Kondisi geografis dan transportasi yang menantang seringkali menjadi penghalang bagi warga untuk menjangkau fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, inisiatif "jemput bola" ini diharapkan dapat memastikan bahwa masyarakat di daerah terpencil juga mendapatkan pelayanan medis yang komprehensif.

Program ini dirancang untuk meningkatkan deteksi dini terhadap berbagai penyakit, memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan efektif. Dengan demikian, risiko komplikasi penyakit dapat ditekan, serta kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan dapat meningkat. Kehadiran tim medis yang lengkap, termasuk dokter spesialis, menjadi kunci keberhasilan program perluasan layanan kesehatan ini.

Tim Medis Lintas Bidang dan Layanan yang Diberikan

Tim medis yang terlibat dalam program kesehatan bergerak ini berasal dari berbagai bidang, menunjukkan pendekatan yang komprehensif dalam pelayanan. Dokter spesialis anak, spesialis penyakit dalam, serta spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT) turut serta dalam kegiatan ini. Kehadiran para spesialis ini memungkinkan deteksi dan penanganan lebih lanjut untuk beragam kondisi kesehatan yang mungkin tidak terjangkau oleh layanan kesehatan dasar di daerah terpencil.

Pada hari pertama pelaksanaan, program ini melayani sekitar 192 warga dari Kampung Duhugesa, Umusi, Dibera, dan Inyuara. Kemudian, pada hari kedua, sebanyak 221 warga dari Kampung Isim, Tubes, dan Tahosta mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Total warga yang dilayani menunjukkan antusiasme dan kebutuhan tinggi terhadap akses layanan kesehatan di wilayah tersebut.

Selama periode 2 hingga 5 Agustus, tim medis melakukan berbagai pemeriksaan penting. Pemeriksaan tersebut meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, dan malaria. Selain itu, penilaian status gizi juga dilakukan secara khusus bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia, memastikan kelompok rentan mendapatkan perhatian yang memadai.

Temuan Kesehatan Dominan dan Edukasi Penting

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Fransiska R. Liling, mengungkapkan bahwa gangguan lambung atau sindrom dispepsia dan hipertensi menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan. Temuan ini didapatkan selama pelaksanaan kegiatan di ketujuh kampung terpencil tersebut. Kondisi ini menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala dan edukasi mengenai gaya hidup sehat di masyarakat pedalaman.

Dr. Fransiska menambahkan bahwa rata-rata warga yang memiliki riwayat hipertensi berusia di atas 40 tahun. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk melakukan pemeriksaan secara berkala melalui fasilitas kesehatan terdekat. Hal serupa berlaku untuk gangguan lambung, yang memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Melalui program ini, banyak warga yang baru mengetahui kondisi kesehatan mereka, seperti hipertensi, dan langsung mendapatkan edukasi serta penanganan awal. Hasil pemeriksaan laboratorium juga dimanfaatkan oleh tim medis untuk memberikan penanganan dini terhadap keluhan kesehatan ringan. Langkah ini bertujuan agar kondisi warga dapat segera membaik dan mencegah penyakit berkembang lebih parah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi