Mengenang Kembali Jejak dan Karya Den Baguse Ngarso

Dunia seni Indonesia tengah diliputi duka atas berpulangnya Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso pada usia 67 tahun. Berikut perjalanan hidup dan karya-karyanya di dunia teater, televisi, hingga film.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Mengenang Kembali Jejak dan Karya Den Baguse Ngarso
Seniman Den Baguse Ngarso Berpulang. Foto: Instagram @jogjainfo

Dunia seni pertunjukan Indonesia, khususnya Yogyakarta, tengah diliputi kabar duka. Seniman senior Susilo Nugroho yang dikenal luas dengan nama Den Baguse Ngarso meninggal dunia pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 17.30 WIB di usia 67 tahun.

Kepergian Susilo terbilang mendadak bagi keluarga. Sehari sebelum meninggal, Susilo masih beraktivitas seperti biasa dengan menemui tamu hingga malam hari. Ia bahkan sempat membeli bakmi dan mengeluhkan sakit di bagian dada kiri.

"Kemarin sore masih nemui tamu. Tadi malam katanya masih bakmi. Sempat sambat sininya (dada kiri) sakit," tutur kakak ipar Susilo, Hesti, kepada tim Liputan6.com di rumah duka, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Kronologi Kepergian Den Baguse Ngarso

Susilo ditemukan meninggal dunia saat sedang tidur di kamar rumahnya. Istrinya menjadi orang pertama yang menyadari kondisi tersebut.

Menurut keluarga, Susilo memang memiliki kebiasaan tidur pada malam hari dan bangun pada siang hari. Namun, pada Senin (21/9/2026), ia tidak kunjung bangun ketika dibangunkan.

Keponakan Susilo, Uri, kemudian datang setelah mendapat kabar dari istri almarhum yang menangis. Saat itu, Uri mendapati kondisi kaki Susilo sudah dingin dan kaku.

"Saya datang kok ibu menangis terus cerita Om Sus tidur tapi kok kakinya dingin. Posisi tidurnya menyamping. Kakinya saya pegang kok anyep dan kaku. Waduh feelingku udah nggak enak. Panggil Pak Eko (mantri) untuk ngecek (kondisi Susilo)," tutur Uri pada tim Liputan6.com.

Siapa Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso?

Susilo Nugroho lahir di Yogyakarta pada 5 Januari 1959. Namanya kemudian dikenal luas masyarakat melalui dunia seni pertunjukan, terutama setelah memerankan karakter Den Baguse Ngarso dalam program Mbangun Deso yang tayang di TVRI Yogyakarta.

Program tersebut mengudara sejak 1988 hingga 2008 dan populer di kalangan masyarakat Yogyakarta, terutama pada era 1990-an. Karakter Den Baguse Ngarso digambarkan sebagai sosok priyayi yang sombong, keras kepala, kerap melontarkan ucapan tajam, sok tahu, dan ingin menang sendiri.

Peran tersebut kemudian begitu melekat dengan sosok Susilo hingga masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Den Baguse Ngarso.

Menariknya, perjalanan Susilo di dunia seni tidak berasal dari pendidikan formal kesenian. Ia tercatat menempuh pendidikan di SD Suryodiningratan II Yogyakarta, SLTP Pangudi Luhur I Yogyakarta, dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Pendidikan tingginya ditempuh di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, yang kini menjadi Universitas Sanata Dharma. Susilo kemudian menjalani profesi sebagai guru di SMK Negeri 1 Bantul, di samping tetap aktif berkesenian.

Mulai Mengenal Teater Sejak Bangku SLTA

Kecintaan Susilo terhadap dunia seni sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SLTA. Pada 1977, ia mulai terjun ke dunia teater.

Dari proses tersebut, Susilo semakin mendalami dunia panggung dan bertemu dengan sejumlah seniman yang turut membentuk perjalanan keseniannya.

Pengalamannya di dunia teater kemudian membawanya bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Saptaria Handayaningsih mendirikan Teater Gandrik pada 1983.

Teater Gandrik kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok teater yang dikenal dari Yogyakarta. Kelompok tersebut banyak mengangkat persoalan sosial dan kehidupan masyarakat dengan gaya pementasan yang memadukan kritik dan humor.

Sempat Tinggalkan Panggung Teater

Perjalanan Susilo di dunia teater tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal berteater, ia sempat mendapat kritik setelah tampil dalam pementasan Menunggu Godot.

Kritik tersebut membuat Susilo merasa penampilannya belum mampu memenuhi ekspektasi. Ia kemudian sempat meninggalkan panggung teater dan mencoba berbagai bentuk kesenian lain.

Namun, keputusan tersebut tidak membuatnya benar-benar meninggalkan dunia seni. Susilo kembali berkesenian dan justru memperluas kiprahnya ke berbagai panggung, mulai dari dagelan, ketoprak, sinetron hingga dunia komedi/lawak.

Dalam perjalanannya, Susilo juga tercatat sebagai salah satu pendiri Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong (Cap Chontong) bersama sejumlah seniman lainnya. Ia tidak hanya tampil, tetapi juga terlibat dalam penulisan naskah dan penyutradaraan berbagai pementasan.

Dari Teater hingga Layar Lebar

Kiprah Susilo tidak berhenti di panggung teater dan ketoprak. Ia juga mengikuti perkembangan industri hiburan dengan tampil dalam sejumlah film dan serial.

Di layar lebar, Susilo tercatat membintangi Preman in Love (2009), Ayat-Ayat Adinda (2015), Ipar adalah Maut (2024), dan Sah! Katanya... (2025).

Ia juga tampil dalam sejumlah film pendek, di antaranya Lemantun (2014), Nusabrata (2022), dan Mawawisa (2022).

Sementara di ranah serial web, Susilo turut bermain dalam Telu yang tayang pada 2020-2021.

Dengan demikian, perjalanan Susilo menunjukkan bahwa kiprahnya tidak hanya terbatas pada karakter Den Baguse Ngarso. Ia menjalani karier panjang di berbagai bidang seni pertunjukan, mulai dari teater, ketoprak, dagelan, televisi hingga film.

Pengabdian di Dunia Seni

Kiprah panjang Susilo di dunia seni juga mendapat apresiasi. Pada 2021, ia tercatat menerima penghargaan dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dalam kategori penggiat atau pelaku seni terbaik.

Sepanjang perjalanan kariernya, sosok Susilo dikenal tidak hanya sebagai pemeran, tetapi juga sebagai pelaku seni yang aktif mengembangkan berbagai bentuk pertunjukan seni.

Nama Den Baguse Ngarso mungkin pertama kali dikenal masyarakat melalui karakter priyayi dalam Mbangun Deso. Namun, di balik karakter tersebut terdapat perjalanan panjang seorang Susilo Nugroho yang sejak muda memilih panggung sebagai ruang untuk berkarya.

Rekomendasi