Den Baguse Ngarso dan Warisan Kritik Lewat Guyonan

Sosok Susilo dikenal pula sebagai seorang tokoh yang turut membangun Teater Gandrik diera tahun 80-an.

Purnomo Edi
Oleh Purnomo Edi - Reporter
Den Baguse Ngarso dan Warisan Kritik Lewat Guyonan
Jenazah seniman Den Baguse Ngarso. (merdeka.com/Istimewa).

Kabar duka datang dari dunia seni peran Yogyakarta. Susilo Nugroho atau dikenal dengan nama panggung Den Baguse Ngarso tutup usia pada Senin (21/9).

Sosok Den Baguse Ngarso ini merupakan karakter diperankan Susilo di acara Mbangun Deso ditayangkan di TVRI Yogyakarta sejak 1988 sampai 2008. Bahkan saking kuatnya karakter ini, Susilo justru lebih sering dipanggil Den Baguse Ngarso daripada nama aslinya.

Dalam serial Mbangun Deso ini, sosok Den Baguse Ngarso digambarkan sebagai sosok karakter sosok priyayi tinggi hati, sinis, suka menang sendiri dan sering meremehkan kelompok masyarakat yang berada di bawahnya.

Sosok Susilo dikenal pula sebagai seorang tokoh yang turut membangun Teater Gandrik diera tahun 80-an. Bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto dan Novi Budianto, Susilo menanamkan karakter pendekatan komedi untuk menyampaikan kritikan kepada situasi politik saat itu.

Selain menekuni dunia seni peran, Susilo juga memiliki dunia yang lain yaitu menjadi sosok guru. Susilo yang mengenyam pendidikan di jurusan Ekonomi IKIP Sanata Dharma ini juga mengabdikan dirinya sebagai sosok guru. Susilo menjadi guru di SMK Negeri 1 Bantul dan pensiun di tahun 2019 lalu.

Sosok Den Baguse Ngarso

Budayawan Bambang Paningron menilai dunia seni peran di Yogyakarta kehilangan sosok Susilo. Sosok Susilo dianggap Paningron sebagai salah seorang seniman peran yang berani mengkritik pemerintahan dalam setiap pementasannya dalam bungkusan humor dan komedi.

"Kehadiran Mas Susilo di jagat kesenian di Yogyakarta tak tergantikan," kata Paningron, Senin (21/9) malam.

Bagi Paningron, Yogyakarta saat ini kehilangan pula sosok penjaga kewarasan. Kewarasan yang dijaga, lanjut Paningron dengan kemasan komedi dan guyonan yang berisi.

"Yogyakarta kehilangan salah satu penjaga akal sehatnya. Mas Susilo itu bukan sekadar pelawak tapi dia adalah guru yang memilih panggung sebagai ruang kelasnya," ujar Paningron.

"Dari Mbangun Deso dan Teater Gandrik, Mas Susilo mengajarkan kita bahwa kritik bisa disampaikan dengan guyon," tutup Paningron.

Rekomendasi