Guru Besar FKUI Peringatkan Munculnya Penyakit Pasca Banjir Besar di Sumatera
Guru Besar FKUI mengingatkan adanya ancaman serius penyakit infeksi. Ketahui jenis penyakit dan langkah pencegahan esensial untuk melindungi diri.
Bencana banjir besar yang melanda wilayah Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada periode 19–25 November 2025, telah meninggalkan dampak signifikan. Musibah ini menyebabkan lebih dari 100 korban meninggal dunia serta puluhan ribu warga harus mengungsi dari tempat tinggal mereka. Kerusakan infrastruktur yang meluas juga terjadi di berbagai provinsi terdampak.
Menyikapi kondisi pasca bencana ini, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FSCP, FAC, mengeluarkan peringatan penting. Beliau menekankan adanya ancaman serius berupa penyakit infeksi yang kerap menyerang korban bencana alam. Peringatan ini menjadi perhatian utama bagi masyarakat dan pihak terkait.
Prof. Ari Fahrial Syam secara khusus menyoroti potensi peningkatan kasus penyakit infeksi di kalangan masyarakat terdampak. Kondisi pasca banjir menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap penyebaran berbagai patogen. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan langkah pencegahan menjadi krusial untuk meminimalisir dampak kesehatan yang lebih luas.
Faktor Pemicu Penurunan Daya Tahan Tubuh dan Risiko Penyakit
Masyarakat yang terdampak banjir, terutama yang kini tinggal di pengungsian, menghadapi risiko tinggi mengalami penurunan daya tahan tubuh. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor kompleks yang saling berkaitan. Stres akibat kehilangan harta benda dan ketidakpastian masa depan menjadi beban psikologis yang signifikan bagi para korban.
Selain itu, istirahat yang tidak memadai dan asupan makanan serta minuman yang ala kadarnya turut memperburuk kondisi fisik. Minimnya nutrisi esensial dapat melemahkan sistem imun tubuh secara drastis. Lingkungan yang tidak sehat pasca banjir, termasuk sanitasi yang buruk, juga menjadi faktor pemicu utama.
Kombinasi dari stres, kurang tidur, nutrisi buruk, dan sanitasi yang tidak memadai ini menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit. Imunitas masyarakat yang menurun menjadikan mereka lebih rentan terhadap serangan berbagai jenis infeksi. Oleh karena itu, perhatian khusus terhadap kebutuhan dasar pengungsi sangat diperlukan.
Jenis Penyakit yang Perlu Diwaspadai Pasca Banjir
Prof. Ari Fahrial Syam menyoroti beberapa jenis penyakit infeksi yang sangat rentan menyerang masyarakat pasca banjir. Dua penyakit utama yang memerlukan kewaspadaan tinggi adalah tetanus dan leptospirosis, yang sering muncul dalam situasi bencana serupa. Infeksi tetanus terjadi jika bakteri Clostridium tetani masuk melalui luka kecil, terutama saat membersihkan puing-puing. Bakteri ini banyak dijumpai pada debu dan kotoran hewan, dengan gejala kekakuan tangan, badan, dan tengkuk yang terasa sakit, muncul 4 hingga 21 hari setelah infeksi.
Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi, seringkali oleh kencing tikus. Penyakit ini dapat menyebabkan demam, nyeri otot, dan gangguan organ. Jika tidak ditangani dengan baik, leptospirosis dapat memicu komplikasi serius seperti gagal ginjal akut, pankreatitis, meningitis, dan perdarahan, sehingga memerlukan penanganan medis segera.
Selain itu, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia juga rentan terjadi karena penurunan daya tahan tubuh dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Penyakit ini mudah menular, terutama di lokasi pengungsian yang padat. Diare dan demam tifoid merupakan penyakit lain yang ditularkan melalui air (water-borne diseases) dan makanan (foodborne diseases) akibat higienitas yang buruk dan lingkungan yang tidak bersih pasca banjir.
Langkah-langkah Pencegahan dan Antisipasi Penyakit
Untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran penyakit pasca banjir, Prof. Ari Fahrial Syam menyarankan beberapa langkah penting. Masyarakat, relawan, dan pemilik rumah diimbau untuk selalu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap saat membersihkan sisa-sisa banjir. APD seperti sepatu bot, masker, sarung tangan, pelindung kepala, dan pelindung mata esensial untuk mencegah bakteri masuk melalui luka atau tertelan.
Distribusi disinfektan juga sangat diperlukan untuk membantu masyarakat membersihkan lokasi pasca banjir secara higienis. Selain itu, menjaga kebutuhan dasar para pengungsi adalah prioritas utama. Memastikan ketersediaan makanan dan minuman yang cukup, selimut, serta alas tidur yang memadai dapat membantu menjaga imunitas mereka.
Penyediaan fasilitas protokol kesehatan seperti masker, sabun, dan hand sanitizer juga krusial untuk menekan risiko penularan infeksi di pengungsian. Masyarakat dihimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala penyakit pasca banjir. Tindakan cepat ini dapat mencegah komplikasi serius dan penyebaran penyakit lebih lanjut.