Apakah Ukuran Mr. P Menentukan Kepuasan Hubungan Intim? Ini Penjelasan Dokter
Banyak pasangan sering kali mempertanyakan faktor mana yang paling berpengaruh terhadap kepuasan seksual wanita.
Banyak pasangan sering kali mempertanyakan faktor mana yang lebih berpengaruh terhadap kepuasan seksual wanita: panjang atau ketebalan penis?
Menurut spesialis kesehatan seksual, dokter Dimas Tri Prasetyo SpU, ketebalan penis memiliki dampak yang lebih signifikan dalam membantu wanita mencapai orgasme.
"Lebih penting mana? Yang tebal atau yang panjang? Jawabannya: yang tebal," ungkap Dimas saat peluncuran Elysium Clinic di Jakarta, sebagaimana dilansir pada Jumat (12/12).
Dokter yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan anatomi serta lokasi titik sensitif pada vagina, yang dikenal sebagai G-spot.
"Titik paling sensitif pada organ perempuan itu bukan yang ujung, bukan saat 'dimentokin'. Area paling sensitif adalah G-spot," tambahnya.
Dimas juga menjelaskan bahwa G-spot terletak di dinding anterior (atas/depan) vagina. Area ini akan lebih terstimulasi jika ada "rasa penuh" atau tekanan yang cukup, yang lebih mudah dicapai oleh penis yang memiliki ketebalan lebih.
Mitos Selalu Kaburkan Fakta
Mitos yang sering beredar di masyarakat adalah anggapan bahwa penis harus memiliki ukuran yang sangat panjang.
Namun, kenyataannya, kedalaman vagina rata-rata berkisar antara 8 hingga 12 cm. Di sisi lain, panjang penis pria Indonesia umumnya lebih dari 11 cm.
Dengan demikian, Dimas menegaskan bahwa ukuran penis yang dianggap standar sudah cukup untuk mencapai bagian dalam vagina.
Dalam konteks medis tertentu, Dimas juga menjelaskan bahwa ukuran penis bisa ditingkatkan, tetapi tetap dalam batas yang realistis.
Prosedur untuk meningkatkan ketebalan penis dapat dilakukan, di mana hasilnya bisa mencapai ketebalan hingga 4,3 cm.
"Angka ini adalah 'up to', artinya merupakan estimasi maksimal yang diberikan kepada pasien," ungkapnya.
Namun, sebelum melaksanakan tindakan tersebut, Dimas menekankan pentingnya bagi tenaga medis untuk memberikan ekspektasi yang realistis kepada pasien.
Menurutnya, menjaga harapan pasien sangat penting agar proses medis tetap aman dan sesuai dengan etika.
"Ekspektasi harus realistis. Kalau pasien meminta lebih dari itu, saya tidak bisa melakukannya. Kami tidak menjual janji," tegasnya.