Trivia Sumpah Pemuda: Hasto Ajak Bangsa Kembali ke Jati Diri Maritim, Mengapa Penting?
Menjelang Sumpah Pemuda, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyerukan seluruh elemen bangsa untuk kembali pada semangat Jati Diri Maritim, kunci kejayaan Indonesia yang perlu dipahami.
Menjelang Peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Hasto Kristiyanto melontarkan ajakan penting. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali pada semangat jati diri maritim Indonesia yang telah lama menjadi fondasi kejayaan.
Ajakan ini disampaikan Hasto saat membuka Diskusi Grup Terarah (FGD) Bidang Pariwisata serta Bidang Kelautan dan Perikanan di Cirebon, Jawa Barat, pada Sabtu. Hasto mengingatkan kembali pesan fundamental dari Presiden pertama RI, Soekarno, mengenai urgensi menjadikan Indonesia sebagai bangsa samudera dan negara maritim yang berdaulat.
Pesan Bung Karno tersebut menekankan pentingnya penguasaan teknologi, riset, dan inovasi, serta keyakinan teguh pada kekuatan sendiri. Hal ini menjadi landasan kuat untuk membangun kembali identitas bangsa yang berakar pada lautan luas.
Mengingat Pesan Bung Karno tentang Bangsa Samudera
Hasto Kristiyanto mengutip pernyataan Presiden Soekarno yang disampaikan pada 23 September 1963, yang masih sangat relevan hingga saat ini. Bung Karno pernah menegaskan, "Kita tidak akan menjadi negara kuat, sentosa, dan sejahtera jika tidak menguasai samudera raya." Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kejayaan bangsa sangat bergantung pada penguasaan lautan.
Lebih lanjut, Bung Karno juga menyatakan bahwa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa yang besar tanpa kembali menjadi bangsa bahari dan bangsa pelaut. Ini merujuk pada masa kejayaan maritim Indonesia di masa lalu, yang kini perlu dihidupkan kembali.
Dalam konteks politik maritim, Bung Karno secara visioner menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara yang disatukan oleh laut. Ia juga menegaskan bahwa kemajuan bangsa bersumber dari kekuatan pertanian dan kelautan, bukan dari "tembok-tembok baja" yang justru mengabaikan jati diri bangsa.
Oleh karena itu, Soekarno berpesan agar Indonesia percaya bahwa kemajuan sejati bangsa lahir dari tanah dan lautnya sendiri. Hasto menambahkan bahwa ketika bangsa meninggalkan jati diri sebagai bangsa maritim, maka akan kehilangan arah pembangunan yang seharusnya.
Laut Sebagai Masa Depan dan Halaman Depan Indonesia
Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa sejak Kongres IV PDI Perjuangan, partai tersebut secara konsisten menempatkan laut sebagai halaman depan Indonesia. Pandangan ini menolak anggapan bahwa laut adalah "keranjang sampah raksasa", melainkan masa depan yang harus dipahami dan dimanfaatkan.
Momentum Sumpah Pemuda, menurut Hasto, harus digunakan untuk membangkitkan semangat dan meluruskan paradigma pembangunan yang keliru. Paradigma yang selama ini meninggalkan identitas Indonesia sebagai bangsa samudera perlu diubah untuk kembali ke jati diri maritim.
Kejayaan Indonesia, tegas Hasto, akan lahir karena kemampuan bangsa menguasai lautan. Hal ini memerlukan perubahan pola pikir dan kebijakan yang berpihak pada sektor kelautan dan perikanan.
Fokus pada sektor maritim ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan memanfaatkan potensi laut secara optimal, Indonesia dapat mencapai kemajuan yang berkelanjutan.
Potensi Kelautan Cirebon dan Peran PDI Perjuangan
Diskusi Grup Terarah (FGD) di Cirebon tersebut dihadiri oleh sejumlah Ketua DPP PDI Perjuangan. Beberapa di antaranya adalah Wiryanti Sukamdani, Rokhmin Dahuri, Tri Rismaharini, dan Ribka Tjiptaning, bersama para anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.
Narasumber dalam FGD ini juga turut memberikan pandangan berharga mengenai potensi maritim. Hendra Sugandhi, Ketua Bidang Perikanan dan Peternakan APINDO, serta juru masak Handry Wahyu, menyoroti potensi besar kelautan Cirebon.
Mereka menekankan bahwa potensi kelautan Cirebon dapat dimaksimalkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan secara signifikan melalui pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.
FGD ini menjadi wadah penting untuk mendiskusikan strategi dan langkah konkret dalam mengoptimalkan sektor kelautan. Hal ini sejalan dengan visi PDI Perjuangan untuk menjadikan laut sebagai pilar utama pembangunan nasional.
Sumber: AntaraNews