Wamenag Apresiasi Indonesia Walk For Peace, Simbol Toleransi dan Kedamaian dari Nusantara
Wakil Menteri Agama mengapresiasi Indonesia Walk For Peace (IWFP) sebagai wujud nyata nilai toleransi umat beragama, membawa pesan perdamaian dari Bali hingga Borobudur.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Republik Indonesia Saiful Rahmat Dasuki memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Indonesia Walk For Peace (IWFP) di Buleleng, Bali. Kegiatan ini merupakan gerakan berjalan lintas daerah yang dilakukan oleh para Bhikku, menjadi manifestasi nyata dari nilai-nilai toleransi umat beragama yang telah lama hidup di Nusantara. Wamenag menekankan bahwa semua ajaran agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, menyebarkan kedamaian, serta membangun kehidupan yang harmonis.
Saiful Rahmat Dasuki menjelaskan bahwa kerukunan umat beragama yang terjalin erat saat ini lahir dari pelaksanaan ajaran-ajaran agama yang dijalankan dengan baik oleh masyarakat. Pemerintah, menurutnya, memiliki peran penting dalam memperkuat dan menjaga toleransi ini agar tetap terpelihara di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Dukungan ini menjadi fondasi kuat bagi persatuan bangsa.
Wamenag juga menyoroti bahwa perjalanan IWFP ini mendapat dukungan luas dari berbagai kepala daerah dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Hal ini menjadi bukti konkret bahwa seluruh agama mengajarkan kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang. Indonesia Walk For Peace sendiri adalah gerakan damai yang membawa pesan harmoni dalam keberagaman bangsa.
Peran Penting Indonesia Walk For Peace dalam Memperkuat Toleransi
Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki menyoroti bahwa semua ajaran agama mengajarkan bagaimana manusia mampu mengendalikan hawa nafsu dan menebarkan kedamaian. Nilai-nilai luhur tersebut, menurutnya, sebenarnya sudah hidup di Nusantara sejak ratusan tahun lalu, membentuk fondasi kerukunan yang kuat.
Kerukunan umat beragama yang kokoh saat ini merupakan hasil dari pelaksanaan ajaran agama yang dijalankan dengan baik oleh masyarakat. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat dan menjaga toleransi ini agar tetap terpelihara di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadikannya prioritas nasional.
Saiful Rahmat Dasuki juga menggarisbawahi dukungan lintas agama yang diterima oleh Indonesia Walk For Peace (IWFP). Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai universal seperti kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang dianut oleh semua keyakinan, memperkuat pesan harmoni yang dibawa oleh gerakan ini.
Bali sebagai Pusat Pancaran Pesan Perdamaian Dunia
Gubernur Bali I Wayan Koster menyampaikan bahwa Indonesia Walk For Peace (IWFP) tidak hanya bermakna sebagai ritual keagamaan semata. Kegiatan ini juga menjadi simbol perdamaian yang dipancarkan dari Pulau Dewata kepada masyarakat luas, termasuk dunia internasional, menegaskan peran Bali sebagai pusat spiritual.
Koster menambahkan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata merupakan kegiatan fisik maupun keagamaan yang sakral, tetapi juga membawa pesan perdamaian. Pesan ini dipancarkan dari Bali dan akan melintasi empat provinsi, dan ia yakin kegiatan ini akan menjadi perhatian masyarakat dunia.
Menurut Koster, semangat perjalanan damai tersebut sangat sejalan dengan visi "Nangun Sat Kerthi Loka Bali". Visi ini menitikberatkan pada upaya menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta seluruh isinya, dengan nilai toleransi dan kedamaian sebagai pondasi penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat.
Rute dan Makna Mendalam Gerakan Indonesia Walk For Peace
Indonesia Walk For Peace (IWFP) adalah gerakan berjalan lintas daerah yang membawa pesan perdamaian, persaudaraan, dan harmoni dalam keberagaman bangsa Indonesia. Kegiatan mulia ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Waisak, menekankan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Perjalanan yang dilakukan oleh para Bhikku ini memiliki rute yang panjang dan simbolis, dimulai dari Thailand. Mereka kemudian melintasi Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, dengan titik akhir di Candi Borobudur, sebuah situs bersejarah yang kaya makna.
Kabupaten Buleleng, Bali, menjadi salah satu titik pemberhentian penting bagi IWFP. Di Buleleng, para Bhikku singgah dan bermalam di Brahmavihara Arama yang berlokasi di Kecamatan Banjar, menunjukkan dukungan dan partisipasi aktif dari komunitas lokal.
Sumber: AntaraNews