Totalitas Nirina Zubir di Film Jangan Buang Ibu: Perankan Tiga Fase Usia dengan Riasan Empat Jam
Aktris Nirina Zubir menunjukkan totalitas luar biasa dalam film "Jangan Buang Ibu", memerankan karakter ibu dari usia 30-an hingga 70 tahun, memerlukan riasan prostetik hingga empat jam setiap hari untuk menghidupkan perannya.
Aktris papan atas Indonesia, Nirina Zubir, kembali menunjukkan dedikasi aktingnya yang luar biasa dalam film terbaru sutradara Hadrah Daeng Ratu berjudul "Jangan Buang Ibu". Ia mengambil peran menantang sebagai Ibu Ristiana, karakter sentral yang harus diperankan dalam tiga fase usia berbeda. Transformasi drastis ini membutuhkan komitmen tinggi dari Nirina untuk menghidupkan setiap detail karakter.
Demi memerankan Ibu Ristiana dari masa produktif usia 30-an tahun, fase paruh baya 50-an tahun, hingga mencapai usia senja 70 tahun, Nirina harus menjalani proses tata rias yang memakan waktu berjam-jam. Proses ini menjadi salah satu aspek paling menantang dalam produksi film tersebut. Ketekunan Nirina dalam menghadapi perubahan fisik ini patut diacungi jempol.
Film "Jangan Buang Ibu" sendiri diadaptasi dari novel berjudul "Jangan Buang Ibu, Nak!" karya Wahyu Dera Priangga, yang diharapkan mampu menyentuh hati penonton. Dengan totalitas akting Nirina Zubir, film ini diharapkan dapat memberikan pengalaman sinematik yang mendalam dan berkesan bagi para penikmat film di Indonesia. Penayangan film ini direncanakan pada masa Liburan 2026.
Transformasi Drastis Nirina Zubir dengan Riasan Prostetik
Nirina Zubir mengungkapkan bahwa proses tata rias untuk memerankan karakter Ibu Ristiana membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bahkan mencapai tiga setengah hingga empat jam setiap harinya. Ia mengaku sempat terkejut melihat pantulan dirinya di cermin setelah riasan usia 70 tahun selesai diaplikasikan. "Tiga setengah, empat jam bahkan (make up) berkaca saja tuh masih kaget menjadi 70 tahun tuh seperti apa," ujar Nirina saat peluncuran poster dan temu pemeran film "Jangan Buang Ibu" di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat.
Totalitas Nirina dalam menghadapi tantangan tata rias ini mengharuskannya datang jauh lebih awal daripada pemain lainnya di lokasi syuting. Ia harus berada di lokasi empat jam sebelum kru lain dan pengambilan gambar dimulai. Pengalaman ini membuatnya memahami arti sebenarnya dari istilah "pre-call" dalam dunia perfilman, sebuah pengalaman baru baginya.
Tidak hanya datang lebih awal, Nirina juga menjadi orang terakhir yang meninggalkan lokasi syuting setiap hari. Hal ini karena ia harus membersihkan lapisan riasan prostetik yang tebal setelah semua kru selesai bekerja. Dedikasi ini menunjukkan komitmen penuh Nirina terhadap perannya, menjadikannya contoh profesionalisme di industri perfilman.
Tantangan Fisik dan Pujian Sutradara
Proses syuting menjadi semakin berat bagi Nirina Zubir karena ia harus mengenakan riasan prostetik yang tebal di bawah kondisi cuaca yang ekstrem. Tantangan fisik ini tidak menghalangi Nirina untuk tetap fokus pada karakter Ibu Ristiana. Ia berhasil menjaga emosi dan konsistensi perannya meskipun dalam keadaan fisik yang tidak nyaman sepanjang hari syuting.
Sutradara Hadrah Daeng Ratu secara khusus memuji kesabaran dan profesionalisme sang aktris. Menurut Hadrah, Nirina tetap konsisten menjaga emosi karakter Ibu Ristiana meskipun harus menghadapi kondisi fisik yang menantang. Pujian ini menegaskan kualitas akting dan dedikasi Nirina yang tak diragukan lagi di setiap proyek filmnya.
Film ini juga dibintangi oleh aktor Dwi Sasono dan Amanda Manopo, menambah deretan talenta yang terlibat dalam produksi. Kolaborasi para aktor ini diharapkan mampu memperkuat narasi film dan memberikan penampilan yang memukau bagi penonton. Kehadiran mereka juga menjadi daya tarik tersendiri bagi film yang mengangkat tema keluarga ini.
Adaptasi Novel dan Harapan Penayangan Film
Film "Jangan Buang Ibu" merupakan adaptasi dari novel berjudul "Jangan Buang Ibu, Nak!" karya Wahyu Dera Priangga. Pemilihan novel ini sebagai sumber cerita menunjukkan upaya Leo Pictures untuk menghadirkan kisah yang mendalam dan menyentuh hati. Produser film, Agung Saputra, belum merinci tanggal pasti penayangan film di bioskop, namun direncanakan untuk masa Liburan 2026.
Nirina Zubir secara pribadi berharap tanggal tayang film ini tidak terlalu berdekatan dengan Hari Natal, 25 Desember. Ia mengungkapkan keinginannya agar film tersebut tidak terlalu lama ditunggu-tunggu kehadirannya oleh penonton bioskop Indonesia. Antusiasme penonton sudah terlihat saat acara peluncuran poster di Senayan, Jakarta, pada 13 Maret lalu.
Antusiasme publik terhadap film ini cukup tinggi, terutama dengan keterlibatan Nirina Zubir dan jajaran pemain lainnya. Kisah yang diangkat dari novel populer juga menjadi magnet tersendiri. Diharapkan, film ini dapat menjadi tontonan yang menginspirasi dan menghibur pada masa liburan akhir tahun mendatang.
Sumber: AntaraNews