Mengapa Ancaman Kabut Asap di Palembang Masih Tinggi meski Hujan Turun?

Hujan mengguyur di Sumsel selama empat hari terakhir dipengaruhi dinamika armosfer secara alami dan dibantu Operasi Modifikasi Cuaca.

irwanto
Oleh irwanto- Reporter
Mengapa Ancaman Kabut Asap di Palembang Masih Tinggi meski Hujan Turun?
Hujan melanda palembang pada sabtu (24/10/2026). merdeka.com/irwanto).

Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang, Sumatera Selatan, masih tinggi. Kondisi ini berpotensi terjadi jika kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, dan sekitarnya terus berlangsung.

Meski hujan mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan selama empat hari terakhir, kondisi tersebut belum menandakan provinsi itu memasuki musim hujan. Karena itu, risiko karhutla dan kemunculan kembali kabut asap masih perlu diwaspadai, terutama jika curah hujan berkurang dan angin membawa asap ke Palembang.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi dinamika atmosfer alami serta bantuan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Artinya, hujan yang turun beberapa hari ini bukan menandakan Sumsel sudah memasuki musim hujan, tetapi karena dinamika atmosfer dan OMC," kata Siswanto, Kamis (29/10).

Lantas, mengapa ancaman kabut asap masih tinggi, dan bagaimana upaya pemerintah untuk mengantisipasinya?

Mengapa hujan belum menandakan Sumsel memasuki musim hujan?

Hujan yang mengguyur Sumatera Selatan selama beberapa hari terakhir tidak serta-merta menunjukkan bahwa musim hujan telah dimulai. Menurut Siswanto, hujan tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer dan pelaksanaan OMC.

Potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera Selatan diperkirakan masih cukup besar hingga 30 Oktober 2026. Namun, kondisi tersebut diprakirakan berubah pada awal November 2026, ketika potensi awan hujan diperkirakan menurun.

Berkurangnya potensi awan hujan dapat membuat hujan semakin jarang turun. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.

Bagaimana kebakaran hutan dan lahan di OKI dan Ogan Ilir memicu kabut asap di Palembang?

Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir menjadi wilayah yang perlu diwaspadai karena kebakaran di kawasan tersebut dapat menjadi sumber asap yang mengancam Palembang.

Risiko kabut asap dapat meningkat ketika kebakaran terus berlangsung, sementara hujan yang membantu membasahi lahan semakin jarang turun.

Selain itu, arah pergerakan angin turut menentukan penyebaran asap. Jika angin bergerak menuju Palembang, asap dari lokasi kebakaran di wilayah sekitarnya dapat terbawa hingga ke kota tersebut.

"Asap bisa muncul kembali bahkan bisa menjadi pekat jika karhutla masih terjadi di OKI dan Ogan Ilir yang kemudian didukung pergerakan angin ke Palembang," kata Siswanto.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut berisiko memicu kebakaran baru, terutama ketika kondisi cuaca kurang mendukung terjadinya hujan.

Mengapa operasi modifikasi cuaca dan dry ice dilanjutkan?

Untuk mengantisipasi ancaman karhutla, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan penggunaan dry ice akan terus dilanjutkan di sejumlah daerah di Sumatera Selatan.

Upaya ini diharapkan dapat memicu turunnya hujan sehingga membantu proses pemadaman kebakaran yang dilakukan oleh satuan tugas di darat.

Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi risiko meluasnya kebakaran, khususnya ketika potensi awan hujan diperkirakan menurun pada awal November.

"OMC dan dry ice masih berlanjut," pungkas Siswanto.

Apa yang perlu diwaspadai masyarakat?

Ancaman kabut asap di Palembang masih bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah sekitarnya, kondisi hujan, serta arah pergerakan angin.

Meski hujan telah turun selama beberapa hari, masyarakat tetap perlu mewaspadai kemungkinan karhutla kembali terjadi ketika curah hujan berkurang.

Pencegahan kebakaran, termasuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menjadi langkah penting untuk menghindari munculnya sumber asap baru.

Sementara itu, kelanjutan OMC dan penggunaan dry ice diharapkan dapat membantu mendatangkan hujan untuk mendukung upaya pemadaman karhutla di Sumatera Selatan.

Rekomendasi