Ketika Kabut Asap di Palembang Merenggut Rindu Anak-Anak pada Sekolah

Kualitas udara di Palembang menunjukkan belum ada tanda-tanda perbaikan. Justru partikulat halus atau PM2.5 semakin meningkat di level berbahaya.

irwanto
Oleh irwanto- Reporter
Ketika Kabut Asap di Palembang Merenggut Rindu Anak-Anak pada Sekolah
Udara palembang akibat kabu asap kebakaran hutan dan lahan. (foto antara).

Kualitas udara di Palembang menunjukkan belum ada tanda-tanda perbaikan. Justru partikulat halus atau PM2.5 semakin meningkat di level berbahaya.

Berdasarkan grafik indeks standar pencemar udara (ISPU) yang terpantau di Stasiun Talang Betutu Palembang, Rabu (21/10), PM2.5 berada di angka 336,8 mikrogram meter per kubik pukul 09.00 WIB. PM2.5 tertinggi hari ini terjadi pukul 04.00 WIB yang berada di angka 876,8 mikrogram meter per kubik.

Dalam pantauan BMKG, kualitas udara di Palembang masih berlevel hitam atau kategori berbahaya sejak pukul 00.00 WIB. Bahkan jarak pandang sempat hanya 200 meter akibat tertutup asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Masih memburuknya kualitas udara menyebabkan sebagian besar sekolah di Palembang masih melalui daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini membuat siswa sangat merindukan kembali belajar di sekolah secara tatap muka.

 

Siswa Kangen Sekolah

Andika (15), siswa salah satu SMP Negeri di Palembang mengaku sudah bosan belajar dari rumah. Sejak sebulan lebih, dia harus menghadapi pembelajaran melalui daring dan mengerjakan banyak tugas dari setiap mata pelajaran setiap hari.

"Sudah kesal belajar daring, sudah capek pakai HP melulu tiap hari. Maunya sekarang belajar di sekolah langsung," kata Andika, Rabu (20/10).

Kondisi yang sama juga dialami wali siswa, Fitriana, warga Kalidoni Palembang. Dia terpaksa membeli paket kuota internet lebih banyak dari biasanya untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

"Sehari ini bisa habis dua giga lebih, karena online terus, bisa boros kalau begini terus, apalagi kami belum pasang Wifi," kata Fitriana.

Selain paket internet, Fitriana juga harus menambah kesibukan dengan mengajari anaknya yang masih duduk di bangku SD sesuai tugas yang diberikan guru. Dia terpaksa mengatur mengurus rumah tangga karena harus mendampingi anaknya belajar daring.

"Yang SMP sudah bisa mandiri, belajar sendiri. Tapi anak yang SD harus didampingi, mana disuruh foto bareng. Guru sih enak, cuma kasih tugas saja, mana banyak-banyak lagi," kata dia.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengungkapkan, asap yang menyelimuti langit Palembang berasal dari karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Sumsel. Saat ini pihaknya masih melakukan pemadaman di Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Muara Enim.

"Potensi asap masih ada karena karhutla masih terjadi, terutama di wilayah Ogan Komering Ilir yang menjadi penyumbang terbesar. Kami terus lakukan pemadaman sampai tuntas," kata Ferdian.

Rekomendasi