Titik Panas di Sumsel Turun, Bagaimana Kualitas Udara Palembang?

Penurunan titik panas tersebut terjadi setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah Sumsel dalam dua hari terakhir, terutama kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

irwanto
Oleh irwanto- Reporter
Titik Panas di Sumsel Turun, Bagaimana Kualitas Udara Palembang?
Kondisi palembang. (antara).

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyebut jumlah titik panas atau hotspot di wilayahnya kini tersisa dua titik. Penurunan tersebut terjadi setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah Sumsel dalam dua hari terakhir, terutama kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Deru mengaitkan penurunan hotspot dengan turunnya hujan, upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta doa masyarakat melalui salat meminta hujan yang dilakukan hampir setiap hari.

Mengapa hotspot di Sumsel menurun?

Menurut Deru, hujan yang turun merata dalam dua hari terakhir membantu mengurangi titik panas dan titik api di kawasan karhutla. Kondisi tersebut juga diikuti peningkatan kualitas udara di sejumlah daerah.

Dia mengapresiasi berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla, termasuk tim Satgas Doa, petugas di darat, dan personel yang mendukung penanganan dari udara.

Deru berharap penurunan hotspot tersebut dapat dipertahankan sehingga tidak berkembang menjadi firespot atau titik api yang memicu kebakaran.

"Hotspot kita tinggal dua. Mudah-mudahan tidak ada menjadi firespot (titik api). Ini sudah sesuai amal perbuatan dan doa. Terima kasih kepada semua pihak, termasuk satgas doa, darat dan udara, semoga gambut kita tetap terjaga kelembapannya," kata Deru, Senin (26/10).

Apa peran Satgas dalam penanganan karhutla?

Deru menyebut upaya masyarakat Sumsel yang menggelar salat meminta hujan menjadi salah satu bagian dari ikhtiar menghadapi karhutla. Kegiatan tersebut dilakukan hampir setiap hari dengan harapan hujan turun dan membantu mengurangi kebakaran.

Ia menyampaikan rasa syukur atas hujan yang turun dan menilai upaya manusia perlu disertai doa. Meski demikian, penanganan karhutla juga melibatkan berbagai langkah operasional, baik di darat maupun melalui udara.

Bagaimana peran Operasi Modifikasi Cuaca?

Selain doa masyarakat dan upaya petugas, Deru menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut berperan dalam upaya mendatangkan hujan di Sumsel.

Menurutnya, pelaksanaan OMC akan terus disesuaikan dengan situasi dan kondisi cuaca serta perkembangan di lapangan. Ketersediaan awan yang mengandung air menjadi salah satu kondisi yang diperhatikan dalam pelaksanaan operasi tersebut.

Deru mengatakan informasi mengenai awan yang mengandung uap air sebelumnya telah disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketika kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumsel.

"Waktu kita kabut terakhir itukan sudah disampaikan oleh Kepala BMKG bahwa itu mengandung uap air meski banyak yang menyangkal (upaya OMC). Itu kita juluk kalau dalam bahasa Palembang, dalam bahasa Jawa senggek, dalam bahasa Indonesia kita jemput hujan melalui OMC," pungkasnya.

Apa yang perlu diwaspadai setelah hotspot menurun?

Meski jumlah hotspot dilaporkan tersisa dua titik, Deru berharap tidak ada titik panas yang berkembang menjadi titik api baru. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kelembapan lahan gambut agar risiko kebakaran dapat ditekan.

Upaya penanganan karhutla pun masih bergantung pada perkembangan cuaca dan kondisi di lapangan. Pemerintah daerah akan menyesuaikan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca dengan situasi yang dihadapi, sementara upaya penanganan lainnya tetap melibatkan petugas darat, udara, dan masyarakat.

Bagaimana kualitas udara usai titik panas turun?

Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, berada dalam kategori sangat tidak sehat pada Selasa (27/10) pukul 10.00 WIB. Berdasarkan data IQAir, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) mencapai 231 dengan polutan utama berupa partikel halus PM2.5.

Konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 156 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut mencapai 31,2 kali lipat dari nilai panduan rata-rata tahunan PM2.5 yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Data IQAir menunjukkan pengukuran kualitas udara tersebut bersumber dari lima stasiun dengan lima kontributor, termasuk Greenpeace Indonesia, BMKG, dan AQMS Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sriwijaya.Apa arti kualitas udara sangat tidak sehat di Palembang?

Kategori sangat tidak sehat menunjukkan bahwa tingkat polusi udara berada pada level yang berisiko bagi kesehatan. Paparan partikel PM2.5 menjadi perhatian karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai paru-paru.

Pada kondisi tersebut, masyarakat perlu mengurangi paparan polusi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung, perlu lebih berhati-hati.

 

Bagaimana kondisi di Palembang?

PM2.5 merupakan partikel polutan dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan, pembakaran terbuka, serta emisi kendaraan dan aktivitas industri.

Pada Selasa (27/10) pagi, konsentrasi PM2.5 di Palembang tercatat mencapai 156 µg/m³. Nilai tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikel halus di udara berdasarkan pemantauan IQAir.

Meski angka ini menggambarkan kondisi pada waktu pengukuran, data tersebut tidak dengan sendirinya memastikan sumber utama polusi yang sedang terjadi di Palembang.

 

Prakiraan kualitas udara Palembang hari ini

Prakiraan per jam IQAir menunjukkan indeks kualitas udara berpotensi menurun secara bertahap sepanjang Selasa. Pada pukul 10.00 WIB, AQI tercatat 231, kemudian diprakirakan turun menjadi 225 pada pukul 11.00 WIB dan 220 pada pukul 12.00 WIB.

Indeks tersebut diprakirakan terus menurun hingga mencapai 156 pada pukul 22.00 WIB. Namun, kualitas udara masih berada pada tingkat yang perlu diwaspadai.

Sementara itu, prakiraan harian IQAir menempatkan AQI Palembang pada angka 175 untuk Selasa, 27 Oktober 2026. Perbedaan antara angka kondisi saat ini dan prakiraan harian terjadi karena keduanya menggambarkan periode pengukuran yang berbeda.

Berikut prakiraan AQI harian Palembang berdasarkan data IQAir:

Selasa (27 Oktober): 175 Rabu: 177 Kamis: 176 Jumat: 157 Sabtu: 111 Minggu: 101 Senin: 123

Prakiraan tersebut menunjukkan kualitas udara diperkirakan membaik menjelang akhir pekan, meski indeks masih berpotensi berada pada kategori tidak sehat.

 

Apa yang perlu dilakukan masyarakat?

Dengan AQI yang mencapai 231 dan konsentrasi PM2.5 sebesar 156 µg/m³, masyarakat disarankan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan mengurangi paparan udara tercemar.

Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus dengan baik. Tutup jendela saat udara luar sedang tercemar dan, bila tersedia, gunakan penyaring udara di dalam ruangan.

Masyarakat juga disarankan memantau perkembangan kualitas udara secara berkala melalui IQAir dan informasi resmi instansi terkait. Prakiraan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, pergerakan angin, dan perubahan sumber emisi.

Rekomendasi