Hasil pemeriksaan kepolisian terhadap kasus pembunuhan tragis yang menimpa seorang ibu dan anak di Kecamatan Kebonsari, Madiun, pada Minggu (26/10) lalu mengungkap fakta yang menyita perhatian publik.
Pelaku yang merupakan suami sekaligus ayah korban diketahui memiliki karakteristik kepribadian yang superior. Di saat bersamaan, ia juga mengantongi hasil tes IQ di atas rata-rata.
Temuan ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat. Mengapa kecerdasan kognitif yang tinggi tak mampu menjadi penahan emosi? Serta, bagaimana sifat superioritas justru bisa mendorong seseorang nekat melakukan aksi kekerasan yang begitu sadis terhadap keluarganya sendiri?
Advertisement
Dinamika Karakter Superior dan Relasi Kuasa
Psikolog Klinis Cindy Tupan, M.Psi., menjelaskan bahwa karakteristik superior sebenarnya bukanlah sebuah diagnosis klinis. Namun, seseorang dengan sifat superioritas tinggi umumnya memiliki kebutuhan besar untuk mendominasi. Mereka merasa paling benar, paling penting, serta merasa selalu layak dihormati oleh orang-orang di sekitarnya.
Dalam konteks relasi rumah tangga yang masih kental dengan budaya patriarki, figur suami yang merasa superior cenderung menganggap dirinya memiliki hak penuh untuk mengontrol istri. Ketika terjadi percekcokan, individu dengan tipe kepribadian ini akan sangat sulit menerima penolakan. Mereka juga enggan menerima kritik maupun diajak berdiskusi secara kepala dingin.
Ketika dorongan untuk mendominasi tersebut terhambat, konflik akhirnya tereskalasi menjadi aksi kekerasan fisik yang ekstrem. Pelaku nekat melakukan tindakan kejam untuk memaksakan kehendak dan meluapkan emosi. Langkah tersebut juga dilakukan demi mempertahankan kekuasaan serta harga diri yang dirasanya terancam akibat perselisihan.
Eskalasi kekerasan ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor risiko. Di antaranya adalah pola perilaku kasar terdahulu yang tidak terkelola, kontrol impuls yang belum matang, hingga tingkat toleransi yang sangat rendah terhadap perbedaan pendapat.
Advertisement
Miskonsepsi IQ Tinggi dan Kecerdasan Emosional
Fakta mengenai skor IQ pelaku yang berada di atas rata-rata kerap memicu miskonsepsi di tengah masyarakat. Banyak orang mengira bahwa kecerdasan kognitif otomatis berbanding lurus dengan kemampuan mengendalikan emosi.
Cindy menegaskan bahwa tes IQ pada orang dewasa umumnya hanya mengukur kemampuan kognitif. Kemampuan ini mencakup pemecahan masalah, pemrosesan informasi, dan adaptasi belajar.
Sementara itu, kontrol emosi berada di ranah yang sama sekali berbeda, yakni kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ).
Kecerdasan kognitif yang tinggi tidak serta-merta membuat seseorang mengambil keputusan atau perilaku yang adaptif dan bermoral.
Seseorang bisa saja sangat pintar secara intelektual dalam menyusun strategi di luar rumah. Namun, ia tetap bisa mengalami kebangkrutan emosional saat berhadapan dengan tekanan, penolakan, atau konflik di dalam rumah tangga.
Pilihan perilaku seseorang pada akhirnya lebih banyak dibentuk oleh pola pengasuhan sejak dini, nilai-nilai lingkungan, serta bagaimana ia belajar memahami empati dan pengelolaan konflik.
Advertisement
Ancaman Ego dan Kepanikan Merebut Kendali
Fenomena ini berkaitan erat dengan konsep yang disebut ego threat. Ego threat adalah kondisi ketika gambaran diri, harga diri, atau posisi yang dirasa layak didapatkan oleh seseorang mendadak terancam.
Bagi individu bertipe superior yang haus akan kendali, hal-hal sederhana dari pasangan bisa dipersepsikan sebagai ancaman ego yang sangat serius. Contohnya seperti bantahan kecil atau perdebatan dalam rumah tangga.
Saat merasa kendali yang seharusnya ia miliki direbut atau dipertanyakan, pelaku mengalami kepanikan ego. Dalam kondisi tersebut, ia nekat melancarkan kekerasan ekstrem demi merebut kembali kontrol yang dirasanya hilang.
Advertisement
Mengenali Sinyal Bahaya (Red Flags) dalam Hubungan
Guna mengantisipasi hal serupa dalam hubungan, masyarakat perlu mengenali sinyal bahaya (red flags) dari pasangan yang memiliki sifat superior berlebihan.
Cindy mengingatkan bahwa red flags bukan hanya soal seberapa dominan atau seberapa besar ego seseorang. Hal utama yang harus diwaspadai adalah seberapa jauh ia merenggut rasa aman dan kebebasan pasangannya.
Tanda-tanda bahaya tersebut meliputi dorongan untuk mengontrol interaksi sosial dan keuangan pasangan secara ekstrem.
Selain itu, pelaku sering menunjukkan kebiasaan merendahkan atau mempermalukan, serta menyalahkan pasangan atas perilaku kasarnya sendiri. Pasangan tipe ini juga biasanya menunjukkan ketidakmampuan untuk menerima kata 'tidak'.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383331/original/070867600_1793082782-4ef5d21b05a0e0ba9c1a84c068c65e5d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9385166/original/091628400_1793243833-IMG-20261028-WA0097.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9385157/original/026865200_1793243261-IMG-20261025-WA0013.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9385123/original/074264400_1793240715-780030.jpg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8069661/original/073738100_1780914672-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9385082/original/084569000_1793236745-7b072_wna-penipuan-online.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9385053/original/031401100_1793231031-Screenshot_2026-10-29_063401.jpg)