Dalam kasus Dwi Bagus bunuh istri dan anak di Kota Madiun, Dwi Bagus Martono (40) menyatakan penyesalan mendalam. Ia menundukkan kepala saat digelandang polisi dan berulang kali meminta maaf.
"Saya minta maaf kepada keluarga dan masyarakat," kata Dwi Bagus saat digelandang polisi.
Momen itu terjadi ketika ia menjalani pemeriksaan di Polda Jawa Timur. Ia mengenakan pakaian tahanan oranye dan dikawal petugas, sebagaimana diberitakan Liputan6 SCTV pada Rabu (28/10/2026).
"Saya merasa bersalah dan menyesal banget. Saya minta maaf kepada keluarga dan ibu dan semua. Saya minta maaf pada keluarga dan masyarakat juga. saya khilaf," ucap Dwi Bagus.
Advertisement
Kronologi Dwi Bagus Bunuh Istri dan Anak
Dalam prarekonstruksi, penyidik memperagakan 48 adegan yang menelusuri jejak aksi pelaku di tiga tempat kejadian perkara (TKP). Tiga lokasi utama yang diuji adalah Hotel Mataram Baru di Jalan dr. Soetomo (Madiun Lor), rumah orang tua tersangka di Gang Tentrem (Winongo), serta rumah pribadi tersangka di Jalan Kunir (Ngegong).
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, menjelaskan rangkaian berawal dari adu mulut di area resepsionis Hotel Mataram Baru.
"Prarekonstruksi kita mulai dari hotel. Ada peragaan komunikasi di resepsionis yang berujung percekcokan, hingga akhirnya korban meninggal dunia di sana," terang Jumhur, Rabu (28/10/2026).
Usai menghabisi Dini, pelaku membungkus jasad ke dalam sleeping bag dan mengangkutnya menggunakan mobil. Temuan ini selaras dengan rekaman CCTV hotel.
Aksi berlanjut ke TKP kedua, yakni rumah orang tua tersangka di Jalan Doho. Di lokasi ini, penyidik merekonstruksi tewasnya AGF (4) di dalam mobil Suzuki Karimun yang terparkir di halaman. Beberapa adegan diperbaiki agar sesuai dengan konfirmasi teknis penanganan tersangka.
"Di TKP kedua ada adegan yang kurang pas, lalu kita perbaiki bersama terkait cara tersangka menghabisi anak korban hingga tewas," tambah Jumhur.
Puncak upaya penghilangan jejak terjadi di rumah pribadi tersangka di Jalan Kunir. Di tempat ini, tersangka diduga kuat mencincang dan membakar dua jasad korban. Penyidik juga menelusuri temuan tungku di lokasi; menurut keterangan, tungku itu sengaja dibangun setelah proses pembakaran dan pembersihan abu selesai untuk menyamarkan jejak.
Tersangka diketahui membeli mesin pencacah sesudah proses pembakaran, lalu menjualnya kembali melalui perantara rekannya dua hari kemudian.
"Abu jenazah dilarutkan dan diduga dibuang ke kawasan Jembatan Sungai Winongo. Mesin pencacah, sisa abu, serta fragmen tulang kini sudah diamankan untuk uji Laboratorium Forensik (Labfor) guna memastikan identifikasi jasad dewasa dan anak-anak," tegas Arbaridi.
Soal motif, penyidik mengindikasikan percekcokan berawal dari masalah hubungan asmara dan tuntutan perhatian dari korban. Hingga kini, kepolisian masih mencocokkan pengakuan tersangka dengan bukti fisik di lapangan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384194/original/066997100_1793159637-e33d97d0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384714/original/023499900_1793179748-Polisi_bunuh_ibu_kandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384688/original/019365000_1793179434-IMG_20261028_140518.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384636/original/044421900_1793178362-098593800_1792514001-Polisi_memburu_pelaku_penyerangan_di_Dago_Bandung.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5137785/original/055250800_1739961431-20250219-Penambahan_Jalur_Transjakarta-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384193/original/059773100_1793159637-Screenshot_20261027-210652_WhatsApp-2389649007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384505/original/061479000_1793174473-1001403458.jpg)