Prabowo Tegaskan Siap Keluar dari BoP Jika Tak Untungkan Indonesia dan Palestina
Ia berharap agar Indonesia dan anggota Group of Eight lainnya dapat memberikan kontribusi positif untuk mencapai perdamaian jangka panjang di Palestina.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ia siap untuk mengundurkan diri dari dewan perdamaian (Board of Peace/BoP) jika organisasi tersebut tidak sejalan dengan kepentingan Indonesia atau Palestina. Ia bahkan menyatakan bahwa Indonesia dapat keluar dari dewan tersebut tanpa harus melakukan perundingan terlebih dahulu dengan anggota Group of Eight lainnya.
Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam sebuah diskusi yang berlangsung di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bersama dengan jurnalis, pakar, dan pengamat, yang disiarkan di YouTube Liputan6 pada Kamis (19/3).
"Selama kita di dalam BoP bisa bantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita ambil kesimpulan tidak ada harapan dan kontraproduktif, kita menilai kita habis waktu, habis energi, dan tidak menguntungkan kepentingan nasional bangsa Indonesia, kita keluar."
Ia berharap agar Indonesia dan anggota Group of Eight lainnya dapat memberikan kontribusi positif untuk mencapai perdamaian jangka panjang di Palestina. "Jadi, saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina," tambah Prabowo.
Alasan Bergabung dengan BoP
Prabowo menjelaskan alasan di balik keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BoP. Pada 23 September, saat memberikan pidato di Sidang Umum PBB, dia menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina dan mendorong solusi dua negara (two-state solution). Beberapa jam setelah itu, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim dalam Group of Eight, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir, diundang oleh Presiden AS Donald Trump untuk sebuah pertemuan.
Dalam pertemuan ini, Trump meminta dukungan dari negara-negara tersebut untuk rencana 21 poin, yang merupakan proposal untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di Gaza.
Menurut Prabowo, rincian dari poin-poin tersebut dibacakan satu per satu oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff. Prabowo mendengarkan dengan seksama proposal tersebut dan merasa tertarik pada poin ke-19 dan ke-20, yang menjelaskan bahwa Palestina akan diberikan kesempatan untuk menjadi bangsa mandiri dan mampu menentukan nasibnya sendiri.
Selain itu, terdapat juga poin yang menyatakan bahwa AS akan memfasilitasi dialog antara Israel dan Palestina agar keduanya dapat hidup berdampingan secara damai. Isi proposal itu dinilai sejalan dengan pandangan Indonesia mengenai isu Palestina, bahwa perdamaian jangka panjang dapat dicapai melalui solusi dua negara.
"Jadi, kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina) walaupun kita tahu ini sedikit. Akhirnya, kita berdelapan (pimpinan negara mayoritas Muslim) diskusi, kita dukung ini atau tidak? Akhirnya, dalam lobi-lobi kita bilang, kita dukung," ujar Prabowo.
Gabung BoP Jadi Cara Realistis Perjuangkan Kemerdekaan Palestina
Selanjutnya, para pemimpin tersebut mengangkat Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, sebagai juru bicara untuk menyampaikan kepada Trump bahwa mereka mendukung poin-poin dalam rencana tersebut. "We like your plan. But the problem is not us. The problem is Prime Minister Netanyahu of Israel," kata Prabowo, mengingat kembali momen tersebut.
Beberapa waktu setelah pertemuan itu, muncul gagasan untuk membentuk BoP, yang telah diadopsi dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Menanggapi perkembangan ini, kedelapan negara mayoritas Muslim yang dikenal dengan sebutan Group of Eight kembali mengadakan perundingan untuk mempertimbangkan apakah mereka perlu bergabung atau tidak.
Berdasarkan hasil perundingan, mereka sepakat bahwa berpartisipasi dalam BoP akan memberikan peluang lebih besar untuk mempengaruhi kebijakan agar mendukung kepentingan Palestina. Prabowo menyatakan bahwa hal ini jauh lebih realistis dan konkret dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dibandingkan memilih untuk tidak bergabung dengan BoP.
"Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa pengaruhi dan membantu rakyat Palestina. Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa (memperjuangkan Palestina). Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk," kata Prabowo, menegaskan keputusan mereka untuk bergabung.