Polemik Fakultas Kedokteran vs Menkes Kian Panas, Prabowo Diminta Turun Tangan
Pengurus IDI Iqbal Mochtar, menilai kondisi ini menunjukkan dunia kesehatan dan kedokteran Indonesia sedang mengalami turbulensi yang tak bisa dianggap sepele.
Suara protes bermunculan dari Fakultas Kedokteran di sejumlah kampus negeri. Mereka menyorot sejumlah kebijakan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Tiga universitas yang sudah secara resmi menyatakan sikap protesnya yakni FK Universitas Indonesia, FK Undap dan FK Unhas. Mereka menilai sejumlah kebijakan dan rencana program yang dibuat Kementerian Kesehatan di era Budi Gunadi sebagai pelemahan kolegium.
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Iqbal Mochtar, menilai kondisi yang terjadi menunjukkan dunia kesehatan dan kedokteran Indonesia sedang mengalami turbulensi yang tidak bisa dianggap sepele.
"Bukan hanya satu atau dua pihak, tapi puluhan universitas dari berbagai penjuru negeri—dari Sumatera hingga Sulawesi—menyatakan keprihatinan mereka secara formal dan terbuka terhadap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS)," katanya dalam rilis yang diterima merdeka.com, Rabu (21/5).
Seingatnya, gelombang protes semacam ini jarang sekali terjadi di dunia kesehatan Indonesia. Di mana ratusan guru besar, BEM, dosen hingga organisasi profesi ikut menyuarakan kegundahan mereka.
Baginya, kondisi ini bukan sekadar dinamika biasa. Ketika dunia akademik, khususnya para guru besar yang telah mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan dan pelayanan publik, ikut bersuara. Keterlibatan para guru besar justru menjadi alarm serius bahwa ada sesuatu yang salah.
"Sebab, suara mereka bukan suara reaktif. Mereka tidak sedang memperjuangkan jabatan atau kekuasaan. Mereka bukan politisi. Mereka juga bukan buzzer. Mereka telah selesai dengan dirinya sendiri dan hanya bicara ketika prinsip dan nilai dasar kehidupan berbangsa telah terguncang."
Sejumlah kebijakan Menkes dinilai telah merusak ekosistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia. Maka, ketika ada pernyataan keprihatinan itu disampaikan secara resmi dan terbuka, katanya, tak bisa memandangnya sebagai riak biasa.
"Ini adalah lonceng peringatan. Ini adalah manifestasi dari kelelahan kolektif dunia kedokteran dan akademik terhadap kepemimpinan yang dianggap tidak membumi, tidak produktif, dan tidak peka terhadap dinamika internal profesi," ujarnya.
Menurutnya, sudah saatnya Presiden Prabowo Subianto ikut peka terhadap masalah ini.
"Untuk mendengar suara nurani para akademisi dan dokter yang selama ini menjadi pilar kesehatan bangsa. Suara para guru besar adalah suara akal sehat dan hati nurani. Jika itu pun diabaikan, maka kita sedang membiarkan kerusakan berlangsung lebih jauh—dan saat itu, harga yang harus dibayar akan terlalu mahal," katanya.