Pemahaman Langgar Kemanusiaan Hingga Terjadi Huru-Hara Harus Dihindari
Jika ada ajakan atau pemahaman melanggar kemanusiaan jelas harus dihindari
Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai fanatisme agama sarat politisasi dan adu domba. Jika ada ajakan atau pemahaman melanggar kemanusiaan jelas harus dihindari.
"Walaupun seringkali diserukan dengan jargon gerakan damai, namun nyatanya ditemukan narasi dan propaganda intoleran," kata Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, Bukhori Sail At-Tahiri dalam keterangannya, Selasa (2/12).
Menurutnya, sikap berlebihan seringkali menjadi fanatisme salah tempat yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Menjadi moderat sebenarnya memberikan imunitas terhadap umat agar tidak mudah terbawa arus.
"Dalam beragama juga demikian, sikap berlebihan yang salah tempat justru akan merusak praktik beragama seseorang," ungkapnya.
Menurut Bukhori, agama sangat menjunjung tinggi terjadinya kesejahteraan dan kedamaian di masyarakat. Menurutnya, kemanusiaan dan realitas sosial sangat dijunjung tinggi dalam Islam.
"Tujuan kita beragama supaya kita bisa hidup damai dan sejahtera. Kalau kemudian kita menerapkan ajaran yang terjadi huru-hara akhirnya malah saling serang hanya karena perbedaan yang remeh, itu adalah pemahaman dan pengamalan beragama keliru," jelasnya.
Dia juga menanggapi adanya gerakan yang ditengarai sarat menggunakan jargon-jargon agama hingga seruan penolakan terhadap bendera merah putih.
Bukhori memiliki pandangan bahwa bendera negara adalah hal yang terkait dengan filosofi bernegara di wilayah masing-masing negara.
"Ide atau gagasan untuk mengganti bendera itu sama sekali tidak bermanfaat karena korelasi bendera merah putih dengan sejarah Indonesia itu sudah sudah tepat," tandasnya.