Momen Emosional: Dee Lestari Buka Musikal Perahu Kertas dengan Lagu Ikonik
Penulis dan musisi Dee Lestari hadir spesial di pembukaan Musikal Perahu Kertas, menyanyikan lagu ikonik 'Perahu Kertas' ciptaannya. Saksikan adaptasi panggung ini hingga 15 Februari 2026.
Penulis dan musisi ternama, Dee Lestari, memberikan sentuhan istimewa pada pembukaan Musikal Perahu Kertas di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada Jumat (30/1). Ia membuka pertunjukan dengan membawakan secara langsung lagu ikonik "Perahu Kertas", yang merupakan karyanya sendiri. Momen ini menjadi sangat berarti bagi para penggemar dan penikmat seni.
Kehadiran Dee Lestari di atas panggung menandai pertama kalinya ia menyanyikan lagu tersebut di hadapan publik, setelah 15 tahun lagu itu tercipta. Sebelumnya, lagu "Perahu Kertas" lebih dikenal luas melalui interpretasi Maudy Ayunda yang menjadi soundtrack film adaptasinya. Dee menyampaikan pernyataan singkat sebelum penampilannya, menambah kesan mendalam pada acara tersebut.
Acara pembukaan Musikal Perahu Kertas ini menjadi sorotan utama, mengingat perjalanan panjang karya "Perahu Kertas" dari novel hingga kini diadaptasi ke panggung musikal. Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung hingga 15 Februari 2026, menawarkan pengalaman baru bagi penikmat cerita Kugy dan Keenan.
Momen Historis Dee Lestari di Panggung Musikal
Penampilan Dee Lestari di pembukaan Musikal Perahu Kertas tidak hanya sekadar pertunjukan musik biasa, melainkan sebuah momen historis. Ia mengungkapkan bahwa ini adalah kesempatan pertamanya menyanyikan lagu "Perahu Kertas" ciptaannya sendiri di hadapan publik. "Setelah 15 tahun tercipta, akhirnya saya punya lagu Perahu Kertas versi sendiri. Pendahulu saya adalah Maudy Ayunda,” kata Dee, mengenang perjalanan lagu tersebut.
Refleksi Dee Lestari ini menyoroti bagaimana sebuah karya dapat tumbuh dan memiliki kehidupan sendiri melampaui penciptanya. Ia mengakui perbedaan usianya saat ini dengan Maudy Ayunda ketika Maudy pertama kali mempopulerkan lagu tersebut. Namun, Dee menegaskan bahwa pesan universal dalam "Perahu Kertas" tetap abadi dan relevan bagi setiap individu.
Kehadiran Dee menjadi pengingat akan akar cerita yang kuat dan bagaimana inspirasi awal dapat berkembang menjadi berbagai bentuk seni. Penonton disuguhkan dengan emosi tulus dari sang pencipta, yang secara langsung membawakan karya ikoniknya di panggung megah Musikal Perahu Kertas.
Relevansi Abadi Kisah Perahu Kertas
Dalam kesempatan tersebut, Dee Lestari juga merefleksikan perjalanan "Perahu Kertas" yang telah melewati berbagai fase adaptasi. Dari sebuah karya sastra, kemudian diangkat menjadi film, lagu, hingga kini bertransformasi menjadi pementasan musikal. Perjalanan ini membuktikan kekuatan narasi dan karakter yang diciptakannya.
Dee percaya bahwa pesan inti dari "Perahu Kertas" memiliki resonansi yang kuat lintas generasi dan fase kehidupan. “Saya percaya, berapa pun usia kita dan di fase mana pun hidup kita berada, semua orang punya kesempatan untuk kembali mengalami keajaiban perjalanan hati,” ujarnya. Pesan ini menekankan pentingnya penemuan diri dan keberanian untuk mengikuti kata hati.
Menurut Dee, cerita "Perahu Kertas" tidak hanya berkisah tentang pencarian tambatan hati, tetapi juga tentang keberanian untuk menghidupkan kembali cita-cita dan mimpi yang mungkin sempat terpendam. Hal ini menjadikan kisah Kugy dan Keenan tetap relevan dan menginspirasi banyak orang, terlepas dari format penyajiannya.
Adaptasi Panggung Musikal Perahu Kertas
Musikal Perahu Kertas secara resmi telah memulai rangkaian pementasannya di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pertunjukan ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Indonesia Kaya dan Trinity Entertainment Network, dengan dukungan dari Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST). Adaptasi ini menjanjikan pengalaman visual dan audio yang berbeda dari versi-versi sebelumnya.
Pertunjukan musikal ini dijadwalkan berlangsung dengan total 21 kali pementasan hingga 15 Februari 2026. Ini memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk menyaksikan kembali kisah cinta dan persahabatan antara Kugy dan Keenan dalam format panggung yang megah di Ciputra Artpreneur, sebuah pusat seni multi-disipliner yang berlokasi strategis di Jakarta.
"Perahu Kertas" pertama kali diterbitkan pada tahun 2009 dan sejak itu telah dikenal luas melalui berbagai medium, termasuk sebagai cerita bersambung digital pada 2007. Versi musikal ini menghadirkan kembali romansa dan drama dengan pendekatan musik dan visual yang segar, menawarkan interpretasi baru terhadap cerita yang sudah akrab di hati banyak orang.
Sumber: AntaraNews