Mengenal Turunani, Tradisi Lisan dan Nyanyian Adat Gorontalo
Turunani mengandalkan pola tabuhan rebana yang khas, dimainkan oleh pria dan wanita, tanpa adanya alat musik melodis yang tetap.
Tradisi Turunani merupakan salah satu bentuk seni lisan dan nyanyian adat yang kaya akan makna, serta menjadi salah satu warisan budaya Gorontalo yang masih dilestarikan hingga saat ini. Kegiatan Turunani sering kali menjadi elemen penting dalam berbagai upacara adat, seperti aqiqah, khitanan, dan pernikahan.
Dalam pelaksanaannya, Turunani mengandalkan pola tabuhan rebana yang khas, dimainkan oleh pria dan wanita, tanpa menggunakan alat musik melodis yang tetap. Lirik yang dinyanyikan menggabungkan bahasa daerah Gorontalo dengan bahasa Arab, sehingga memberikan karakteristik yang unik dan sarat dengan pesan religius.
"Nada dasar Turunani bersifat fleksibel, disesuaikan dengan kemampuan penyanyi," ungkap Rostin, seorang tokoh agama di Gorontalo.
Pesan Moral
Syair-syair dalam Turunani mengandung nilai-nilai moral, pembentukan akhlak, dan juga bertujuan untuk meningkatkan keimanan. "Tradisi ini menggambarkan eratnya hubungan kekeluargaan dalam masyarakat Gorontalo sekaligus menjadi media silaturahmi," tambah Rostin.
Turunani memiliki peran yang signifikan dalam berbagai prosesi adat, salah satunya adalah Molile Huali, yaitu tradisi meninjau kamar pengantin yang biasanya dilakukan sehari sebelum akad nikah. Selain itu, Turunani juga berfungsi sebagai sarana komunikasi, representasi simbolis, dan alat untuk memperkuat norma-norma sosial dalam masyarakat.
"Dulu, Turunani digunakan sebagai sarana penyebaran Islam di Gorontalo, terutama ketika bahasa Melayu belum dikenal luas di sini," cerita Rostin.
"Makna harfiahnya adalah 'suruh nyanyi', yang kemudian berkembang menjadi tradisi budaya yang lestari hingga sekarang," ujarnya.
Terdampak Perkembangan Zaman
Seiring dengan perkembangan zaman, pelaksanaan Turunani mengalami berbagai penyesuaian. Jika pada masa lalu tradisi ini dilaksanakan tanpa menggunakan pengeras suara, saat ini sound system sering kali digunakan. Beberapa kelompok bahkan mulai memasukkan alat musik modern untuk memberikan nuansa baru.
amun, di daerah-daerah terpencil yang masih memegang teguh adat istiadat, Turunani tetap dilaksanakan sesuai dengan tradisi yang telah ada. "Kalau di desa-desa Gorontalo, pasti ada Turunani dalam acara adat," ujar Rostin.
Rostin berharap agar generasi muda, terutama milenial dan Gen Z, mau melestarikan tradisi ini.
"Turunani adalah bagian dari identitas budaya Gorontalo. Anak muda harus bangga belajar dan meneruskan adat ini," tegasnya.
Dengan keunikan dan pesan-pesan luhur yang terkandung di dalamnya, Turunani bukan hanya merupakan warisan budaya Gorontalo, tetapi juga simbol kekayaan seni Indonesia yang perlu dijaga keberlangsungannya.