Membangun Asa Inklusi ODHIV dan Transpuan Yogyakarta: Melawan Stigma dengan Karya Nyata
Simak bagaimana para ODHIV dan transpuan di Yogyakarta berjuang meraih inklusi sosial. Dengan keterbukaan dan karya nyata, mereka melawan stigma, membangun kemandirian, dan menuntut kesetaraan hak.
Di tengah riuhnya stigma yang masih menyelimuti, Yogyakarta menjadi saksi bisu perjuangan gigih para ODHIV dan transpuan dalam merajut asa inklusi. Sosok seperti Pramono, seorang ODHIV yang kini menjadi manajer keuangan Yayasan Kebaya Yogyakarta, secara terbuka membagikan kisahnya. Keberanian ini menjadi penegas sikapnya untuk tidak lagi bersembunyi di balik status kesehatan yang kerap memicu diskriminasi.
Perjalanan Pramono, yang pernah divonis hanya bertahan enam bulan pada tahun 2014, kini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dengan disiplin mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) dan menjaga pola hidup sehat, ia membuktikan bahwa ODHIV dapat hidup normal dan produktif. Kisah ini menyoroti pentingnya dukungan dan pemahaman masyarakat terhadap kondisi ODHIV.
Tidak hanya ODHIV, komunitas transpuan di Yogyakarta juga aktif berjuang mengikis stigma melalui kontribusi nyata di masyarakat. Mereka berupaya menunjukkan bahwa keberagaman gender adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Nusantara, serta menuntut negara untuk hadir dalam melindungi hak asasi manusia setiap warga negara tanpa kecuali.
Keterbukaan dan Perjuangan ODHIV di Yogyakarta
Pramono, 45 tahun, dengan tegas memperkenalkan diri sebagai ODHIV di sebuah forum, menunjukkan identitas dan status kesehatannya tanpa ragu. Ingatannya kembali ke Januari 2014, saat ia pertama kali mengetahui statusnya setelah diare berkepanjangan dan kehilangan berat badan drastis. Kala itu, dokter memvonisnya hanya akan bertahan maksimal enam bulan, namun kini ia berdiri tegak dengan berat badan lebih dari 80 kg berkat kedisiplinannya.
Perjalanan Pramono tidaklah mudah, ia harus menghadapi berbagai label negatif dan diskriminasi, termasuk diberhentikan dari pekerjaan sebanyak empat kali. Statusnya terungkap karena ia harus rutin mengambil obat ARV di rumah sakit pada jam kerja, yang tidak bisa diwakilkan. Kondisi ini memaksanya untuk terus mencari alasan izin, hingga akhirnya ia memilih untuk terbuka kepada HRD, yang berujung pada pilihan mengundurkan diri atau diberhentikan.
Selain tantangan eksternal, Pramono juga berjuang melawan penolakan tubuhnya sendiri saat awal mengonsumsi ARV. Ia bahkan pernah memungut kembali obat yang termuntahkan, menunjukkan tekad kuatnya untuk tetap hidup dan sehat. Kisah resiliensi serupa juga dialami Ali Dani (37), ODHIV asal Bangka Belitung, yang sempat kritis namun menemukan semangat hidup berkat dukungan penuh keluarganya di Yogyakarta.
Kiprah Sosial Transpuan Membangun Inklusi
Perjuangan mengikis stigma juga diemban oleh Dona (43), Ketua Ikatan Waria Bantul, yang memilih jalur kontribusi nyata di tengah masyarakat. Dengan berpenampilan feminin, Dona aktif menginisiasi berbagai kegiatan sosial di lingkungannya, mulai dari mengajak warga senam mingguan hingga menggerakkan iuran kas RT. Dedikasinya ini mematahkan stigma negatif bahwa transpuan hanya identik dengan dunia hiburan malam.
Berkat kiprahnya, Dona dipercaya warga menjadi salah satu pengurus di tingkat RT setempat, membuktikan bahwa transpuan juga mampu bekerja dan berkarya. Ia membuktikan kemandiriannya melalui usaha jasa tata rias, yang hasilnya digunakan untuk membantu orang tua dan mewujudkan impian ibunya memiliki toko kelontong. Langkah ini sejalan dengan visi Yayasan Kebaya Yogyakarta yang fokus mendampingi kelompok minoritas agar mandiri secara ekonomi.
Yayasan Kebaya Yogyakarta, di bawah pimpinan Vinolia Wakijo, telah berdedikasi selama 22 tahun untuk mendampingi kelompok minoritas yang tidak diterima oleh keluarga biologis mereka. Hingga kini, yayasan tersebut telah merawat hampir 400 orang dengan berbagai latar belakang kesehatan, termasuk perawatan intensif bagi ODHIV lansia, layanan cuci darah, hingga pendampingan psikologis. Vinolia menekankan pentingnya kemandirian ekonomi melalui koperasi dan pelatihan membatik agar anggotanya tidak lagi bergantung pada penghasilan dari mengamen.
Menuju Masa Depan Inklusi yang Berkeadilan
Pembina Yayasan Kebaya, Ruli Malay, menyoroti peran strategis media dalam merawat kestabilan pandangan masyarakat terhadap kelompok keragaman gender. Ia mengingatkan bahwa keberagaman gender telah menjadi bagian dari sejarah Nusantara, merujuk pada kelompok “Bissu” di Bugis pada abad ke-14 yang memegang peran penting dalam ritual sosial kerajaan. Pemahaman ini penting untuk membangun empati sosial.
Melalui sekolah inklusi “Smart Trans”, Yayasan Kebaya kini merangkul 30 persen masyarakat umum untuk belajar bersama, bertujuan menghapus sekat prasangka. Inisiatif ini menciptakan ruang dialog dan pemahaman yang lebih baik antarwarga. Ruli juga menaruh harapan besar pada penyusunan regulasi yang berpihak kepada kelompok marginal, mengingat rancangan undang-undang anti-diskriminasi belum berhasil masuk Prolegnas.
Ia menegaskan bahwa negara wajib hadir untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi manusia setiap warga negara tanpa kecuali, termasuk memberikan perlindungan hukum spesifik bagi kelompok rentan diskriminasi. Melalui komunikasi yang baik dan karya nyata, para penyintas HIV dan komunitas transpuan di Yogyakarta terus berupaya membangun kehidupan bermartabat. Mereka mengajak masyarakat untuk menjauhi virusnya namun tetap merangkul orangnya, demi mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih adil dan setara bagi semua warga negara.
Sumber: AntaraNews