Mantan Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata Akan Diaben pada 7 Maret 2026
Upacara ngaben untuk mantan Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata akan dilaksanakan pada 7 Maret 2026, menandai penghormatan terakhir bagi tokoh penting di Bali ini.
Mantan Bupati Gianyar, Bali, Anak Agung Gde Agung Bharata, telah berpulang pada Sabtu (21/2) setelah dirawat intensif karena sakit. Tokoh berpengaruh ini meninggal dunia pada usia 77 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani, Gianyar. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Gianyar dan Bali secara keseluruhan.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir sesuai adat Agama Hindu, mendiang Anak Agung Gde Agung Bharata akan diaben atau dikremasi pada 7 Maret 2026. Rangkaian upacara adat ini akan berlangsung di Setra (Kuburan) Beng, Kabupaten Gianyar. Persiapan untuk upacara sakral ini telah mulai dilakukan oleh pihak keluarga dan kerabat.
Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang juga merupakan adik kandung mendiang, menjelaskan bahwa prosesi ini akan mengikuti tradisi yang telah ditetapkan. Mendiang sempat menunjukkan perbaikan kondisi dan pulang ke rumah, namun kesehatannya kembali menurun hingga akhirnya meninggal dunia. Upacara ngaben ini menjadi momen penting bagi keluarga dan masyarakat untuk mengantar kepergian almarhum.
Rangkaian Upacara Ngaben Mantan Bupati Gianyar
Prosesi upacara ngaben untuk Anak Agung Gde Agung Bharata akan dimulai beberapa hari sebelum puncak acara. Dijadwalkan, prosesi memandikan jenazah akan dilaksanakan pada 3 Maret 2026. Ini merupakan langkah awal dalam rangkaian upacara adat yang panjang dan sakral.
Setelah prosesi memandikan jenazah, mendiang akan ditempatkan di tempat persemayaman sementara yang disebut tumpang salu. Jenazah akan disemayamkan di sana hingga tiba waktu puncak upacara pelebon atau ngaben pada 7 Maret 2026. Tanggal tersebut dipilih sebagai hari baik untuk upacara ngaben berdasarkan kalender Bali, memastikan kesucian dan kelancaran prosesi.
Dalam upacara ngaben ini, pihak keluarga memutuskan untuk tidak menggunakan wadah jenazah Bale Naga Banda, yang merupakan tradisi untuk tokoh puri. Sebagai gantinya, mendiang akan diaben menggunakan wadah berbentuk padma dan lembu berwarna putih. Keputusan ini didasari oleh fakta bahwa mendiang semasa hidupnya telah menjalani upacara Dwijati, yaitu upacara untuk menjadi sulinggih atau rohaniawan Hindu.
Jejak Pengabdian Anak Agung Gde Agung Bharata
Anak Agung Gde Agung Bharata lahir pada 23 Juni 1949, dan sepanjang hidupnya telah mengabdikan diri pada negara dan masyarakat. Sebelum menjabat sebagai Bupati Gianyar, beliau memiliki rekam jejak yang cemerlang di tingkat nasional. Mendiang pernah bertugas sebagai staf di Sekretariat Negara Republik Indonesia, menunjukkan kapasitas dan dedikasinya dalam pemerintahan pusat.
Salah satu posisi penting yang pernah diembannya adalah Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring Gianyar. Jabatan ini dipegang selama kurun waktu 1997 hingga 2003, sebelum akhirnya beliau terpilih sebagai Bupati Gianyar. Pengalaman ini membekali beliau dengan pemahaman mendalam tentang tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Mendiang kemudian menjabat sebagai Bupati Gianyar selama dua periode, yaitu pada tahun 2003-2008 dan 2013-2018. Selama masa kepemimpinannya, Anak Agung Gde Agung Bharata dikenal sebagai sosok yang berdedikasi dan membawa banyak perubahan positif bagi Gianyar. Kontribusinya akan selalu dikenang oleh masyarakat yang pernah dipimpinnya.
Sumber: AntaraNews