Majelis Ormas Islam Desak Pembukaan Kembali Masjid Al-Aqsa untuk Umat Muslim
Ribuan massa Majelis Ormas Islam (MOI) menggelar aksi di depan Kedutaan Besar AS, mendesak dunia internasional segera membuka kembali akses Masjid Al-Aqsa bagi umat muslim yang kini terkunci.
Majelis Ormas Islam (MOI) menggelar aksi besar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta pada Minggu, menyuarakan desakan kuat agar Masjid Al-Aqsa di Yerusalem segera dibuka kembali untuk umat muslim. Aksi ini menjadi sorotan publik, mengingat pentingnya situs suci tersebut bagi umat Islam di seluruh dunia. Ribuan peserta memadati area Jalan Merdeka Selatan, menunjukkan solidaritas dan keprihatinan mendalam terhadap kondisi Masjid Al-Aqsa.
Ketua Presidium MOI, KH. Nazar Haris, menegaskan bahwa penutupan Masjid Al-Aqsa bagi muslimin, sementara kelompok Yahudi diizinkan masuk, adalah ketidakadilan yang harus segera diatasi. Ia menyerukan kesadaran dunia Islam untuk bersama-sama memperjuangkan hak akses ke masjid bersejarah tersebut. Desakan ini bertujuan untuk membela, membebaskan, dan memerdekakan Masjid Al-Aqsa sebagai salah satu kiblat umat Islam.
Aksi yang dihadiri ribuan orang ini tidak hanya fokus pada isu Masjid Al-Aqsa, tetapi juga menjadi momen belasungkawa atas gugurnya tiga personel TNI di Lebanon Selatan saat menjalankan misi perdamaian PBB. Massa yang mengenakan pakaian dominan putih dengan atribut Indonesia dan Palestina, menyuarakan tuntutan agar dunia internasional memberikan perhatian serius terhadap masalah ini. Mereka berkumpul untuk memulai kesadaran global tentang pentingnya menjaga kesucian Masjid Al-Aqsa.
Fokus Desakan MOI terhadap Akses Masjid Al-Aqsa
Dalam orasinya, Ketua Presidium MOI KH. Nazar Haris dengan tegas menyatakan keprihatinannya atas situasi Masjid Al-Aqsa yang saat ini terkunci bagi kaum muslimin. "Masjid Al-Aqsa saat ini sedang dikunci untuk kaum muslimin, sedangkan Yahudi boleh masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa. Inilah sesuatu yang perlu kita gebrak di dunia Islam, bahwa harus ada kesadaran dunia Islam," kata Nazar Haris. Pernyataan ini menyoroti diskriminasi akses yang terjadi di salah satu tempat suci paling penting bagi umat Islam.
Menurut Nazar, aksi yang dihadiri ribuan orang ini merupakan bentuk desakan kolektif terhadap dunia internasional untuk segera membuka akses masjid tersebut bagi umat muslim. Ia menekankan pentingnya perjuangan ini sebagai upaya membela dan membebaskan Masjid Al-Aqsa. Tujuannya adalah untuk memastikan umat Islam dapat kembali beribadah dan mengakses situs suci mereka tanpa hambatan.
Nazar Haris juga mengingatkan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah salah satu dari tiga masjid utama umat Islam, selain Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. "Kita mengingatkan bahwa Masjid Al-Aqsa, salah satu masjid utama umat Islam. Selain Masjid Al-Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, ada Masjid Al-Aqsa, bahkan disebutkan dalam Al-Quran," tambahnya. Hal ini menggarisbawahi kedudukan spiritual dan historis Masjid Al-Aqsa yang tak ternilai.
Aksi Solidaritas di Depan Kedutaan Besar Amerika Serikat
Ribuan warga memadati area Jalan Merdeka Selatan arah barat di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia pada Minggu pagi. Aksi ini diprakarsai oleh Majelis Ormas Islam (MOI) dan menarik perhatian banyak pihak. Massa bahkan membeludak hingga ke gerbang Monas dekat Stasiun Gambir, menunjukkan antusiasme dan jumlah peserta yang sangat besar.
Aksi bertajuk "Berjuta Doa untuk Syuhada" ini tidak hanya berfokus pada isu Masjid Al-Aqsa, tetapi juga menjadi momen belasungkawa. Para peserta menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga personel TNI di Lebanon Selatan. Mereka adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Fariza Rhomadhon, yang gugur saat menjalankan misi perdamaian PBB.
Di seberang Kedubes AS, tepatnya di samping brikade beton, sebuah panggung orasi didirikan dengan tinggi sekitar dua meter. Latar belakang panggung tersebut menampilkan gambar ketiga prajurit TNI yang gugur, sebagai bentuk penghormatan. Massa aksi mayoritas mengenakan pakaian gamis berwarna putih, lengkap dengan atribut Indonesia dan Palestina, melambangkan solidaritas nasional dan internasional.
Pentingnya Masjid Al-Aqsa sebagai Situs Suci Umat Islam
Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan yang sangat fundamental dalam ajaran Islam dan sejarah peradaban muslim. Sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum Ka'bah, Al-Aqsa menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting. Ia juga merupakan tempat Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, menjadikannya salah satu tempat paling suci di dunia.
KH. Nazar Haris secara eksplisit menyebutkan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah salah satu masjid utama umat Islam, sejajar dengan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Pengakuan ini bukan hanya berdasarkan tradisi, tetapi juga disebutkan dalam Al-Quran, menegaskan statusnya yang tak terbantahkan. Oleh karena itu, akses terhadap masjid ini adalah hak fundamental bagi muslim di seluruh dunia.
Desakan MOI untuk membuka kembali akses Masjid Al-Aqsa bagi umat muslim adalah refleksi dari kepedulian global. Ini bukan hanya tentang kebebasan beribadah, tetapi juga tentang menjaga warisan sejarah dan spiritual yang tak ternilai harganya. Komunitas internasional diharapkan dapat merespons seruan ini untuk memastikan keadilan dan kesetaraan akses bagi semua pihak.
Sumber: AntaraNews