Konsistensi FT UNG Lestarikan Tradisi Tumbilotohe Selama Dua Dekade
Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (FT UNG) menunjukkan dedikasi luar biasa dalam melestarikan tradisi Tumbilotohe selama dua dekade, menjaga keaslian budaya lokal di tengah modernisasi.
Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (FT UNG) kembali mengukir sejarah dengan konsisten menggelar tradisi Tumbilotohe, sebuah warisan budaya lokal yang telah dipertahankan selama dua dekade oleh para mahasiswanya. Perayaan malam pasang lampu ini menjadi bukti nyata komitmen FT UNG dalam menjaga identitas dan nilai-nilai luhur Gorontalo. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian, tetapi juga simbol semangat mahasiswa yang tak lekang oleh waktu.
Tradisi Tumbilotohe yang diselenggarakan oleh FT UNG ini telah dimulai sejak tahun 2006 di kampus lama, menunjukkan akar yang kuat dalam sejarah fakultas. Konsistensi penyelenggaraan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari pimpinan fakultas, mengingat berbagai tantangan yang dihadapi. Dedikasi mahasiswa untuk tetap menggunakan lampu minyak tanah, meskipun dihadapkan pada tingginya harga dan sulitnya pasokan, menjadi poin penting dalam mempertahankan keaslian tradisi.
Dekan FT UNG, Sardi Salim, mengungkapkan kebanggaannya terhadap idealisme mahasiswa yang menolak mengganti penerangan tradisional dengan lampu listrik. Penggunaan minyak tanah dianggap sebagai identitas yang tak terpisahkan dari kebanggaan masyarakat Gorontalo, khususnya di Kabupaten Bone Bolango. Harapan besar juga disematkan agar kegiatan ini dapat menjangkau perhatian lebih luas dari pemerintah daerah, terutama Dinas Pariwisata, untuk sinergi yang lebih kuat.
Dedikasi Mahasiswa dalam Melestarikan Tumbilotohe
Pelaksanaan tradisi Tumbilotohe oleh mahasiswa Fakultas Teknik UNG selama dua puluh tahun berturut-turut merupakan manifestasi dari dedikasi yang tak tergoyahkan terhadap warisan budaya. Sejak pertama kali digelar di kampus lama pada tahun 2006, semangat mahasiswa untuk menjaga tradisi ini tidak pernah padam. Konsistensi ini menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda dapat berperan aktif dalam pelestarian budaya lokal.
Sardi Salim, Dekan FT UNG, memberikan apresiasi mendalam kepada seluruh mahasiswa yang terus berupaya mempertahankan autentisitas perayaan. Meskipun zaman terus berkembang dan alat penerangan listrik semakin canggih, mahasiswa tetap memilih untuk menggunakan lampu minyak tanah. Keputusan ini mencerminkan pemahaman mendalam mereka akan nilai historis dan makna budaya yang terkandung dalam setiap nyala api Tumbilotohe.
Semangat untuk menjaga nilai historis ini dianggap sebagai pencapaian luar biasa di tengah gempuran modernisasi. Idealism mahasiswa yang enggan mengganti sumber cahaya tradisional dengan lampu listrik adalah bukti komitmen mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh adat, tetapi juga tanggung jawab kolektif, termasuk dari kalangan akademisi dan mahasiswa.
Tantangan dan Autentisitas Tumbilotohe
Pelestarian tradisi Tumbilotohe tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama terkait penggunaan lampu minyak tanah. Dekan FT UNG mengakui bahwa tingginya harga bahan bakar dan sulitnya pasokan minyak tanah di pasar menjadi kendala. Namun, tantangan ini justru tidak menyurutkan semangat mahasiswa untuk tetap mempertahankan metode penerangan tradisional yang menjadi ciri khas Tumbilotohe.
Autentisitas perayaan menjadi prioritas utama bagi mahasiswa FT UNG. Mereka meyakini bahwa penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar utama Tumbilotohe adalah identitas yang tidak bisa dipisahkan dari citra kebanggaan masyarakat Gorontalo. Menjaga keaslian ini berarti menolak kompromi dengan modernisasi yang berpotensi menghilangkan esensi budaya.
Keputusan mahasiswa untuk tidak mengganti lampu minyak tanah dengan penerangan listrik menunjukkan idealisme yang kuat. Ini adalah upaya untuk mempertahankan marwah budaya asli Gorontalo yang telah menjadi penerang sejak dahulu kala. Sikap ini patut diapresiasi sebagai langkah konkret dalam menjaga warisan budaya dari kepunahan akibat perubahan zaman.
Harapan Sinergi dan Pengembangan Tradisi Tumbilotohe
Dekan FT UNG berharap bahwa kegiatan Tumbilotohe yang dimediasi oleh mahasiswa ini dapat menarik perhatian lebih luas dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata. Sinergi antara akademisi dan pemangku kebijakan diharapkan dapat memperkuat promosi pariwisata berbasis budaya di Gorontalo. Kehadiran perwakilan DPRD Bone Bolango dalam seremoni ini menjadi indikasi awal potensi kolaborasi yang lebih besar.
Pengembangan tradisi Tumbilotohe di masa mendatang diharapkan dapat terus mengalami peningkatan kualitas tanpa menanggalkan nilai-nilai luhur yang telah ada. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tradisi ini memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata budaya yang lebih dikenal luas. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor pariwisata.
Sardi Salim menyatakan optimisme bahwa kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan terobosan tradisi yang lebih baik lagi. Pelestarian secara berkesinambungan dari tahun ke tahun adalah tujuan utama, memastikan bahwa Tumbilotohe tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat Gorontalo. Ini adalah investasi budaya untuk generasi mendatang.
Sumber: AntaraNews