Gubernur Koster: Kongres Warga Long Yan Jembatani Pertukaran Budaya Global di Bali
Gubernur Bali Wayan Koster menyebut **Kongres Warga Long Yan** ke-10 sebagai jembatan pertukaran budaya yang memperkuat hubungan antar-bangsa. Acara ini menjadi bukti nyata komitmen pelestarian nilai seni.
The 10th World Congress of Long Yan People di Bali menjadi sorotan utama dalam upaya memperkuat hubungan internasional. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan acara ini sebagai platform penting bagi diplomasi budaya. Kongres ini berfungsi sebagai jembatan nyata bagi pertukaran budaya global yang inklusif.
Koster menyampaikan pandangannya di Denpasar pada hari Sabtu mengenai signifikansi acara tersebut. Ia melihat kongres ini sebagai wujud nyata pelestarian nilai seni dan budaya luhur. Selain itu, kegiatan ini memperkuat hubungan antar-bangsa melalui jalur diplomasi budaya yang efektif.
Acara internasional ini mempertemukan warga Long Yan dari berbagai negara di seluruh dunia. Terutama, kongres ini membangun koneksi erat dengan masyarakat di Provinsi Bali, Indonesia. Pesan perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan dapat disuarakan secara luas melalui seni dan budaya.
Bali sebagai Pusat Diplomasi Budaya dan Perdamaian
Pemilihan Bali sebagai lokasi penyelenggaraan kongres membuktikan daya tariknya sebagai destinasi perdamaian dunia. Vibrasi pulau dewata ini memberikan keyakinan banyak pihak untuk terus membangun solidaritas. Persaudaraan erat antar-negara, daerah, dan suku menjadi fokus utama dari pertemuan ini.
Kegiatan pertukaran budaya menjadi inti dari kongres ini, mempertemukan seniman dan budayawan dari beragam latar belakang. Mereka bertemu untuk saling memahami dan menghormati kekayaan budaya masing-masing. Hal ini menciptakan suasana kolaborasi yang harmonis.
Koster menekankan bahwa semangat masyarakat Long Yan sejalan dengan nilai-nilai ini. Mereka menjunjung tinggi tradisi, kesadaran, dan kebersamaan. Ini sangat relevan di tengah tantangan globalisasi yang terus berkembang dan kompleks.
Inovasi Pelestarian Budaya di Era Digital
Gubernur Bali menyoroti pentingnya adaptasi dalam pelestarian budaya di era digital yang dinamis. Cara konvensional saja tidak lagi cukup untuk menjaga warisan leluhur bangsa. Oleh karena itu, generasi muda harus didorong untuk terlibat aktif dalam proses ini.
Generasi muda perlu mempelajari, mengapresiasi, dan mengadaptasi budaya dengan pendekatan baru. Ini dapat dilakukan melalui kreativitas dan modernisasi yang relevan dengan zaman. Pertukaran seni dan budaya harus menjadi wadah bagi mereka untuk berkembang.
"Pertukaran seni dan budaya seperti ini harus menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk memperluas wawasan, membangun jejaring dan menumbuhkan rasa bangga terhadap seni dan budaya yang dimilikinya," kata Koster. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dan pewaris budaya yang aktif dan kreatif.
Pemerintah Provinsi Bali mengagumi peradaban Tiongkok yang kuat dan kaya sejarah. Koster bahkan mengenakan baju tenun endek khas Bali berwarna merah, simbol ciri khas Tiongkok. Ia memahami bahwa peradaban yang kuat akan menjadikan Tiongkok negara besar dan maju di dunia.
Kolaborasi Budaya untuk Masa Depan Berkelanjutan
Pemprov Bali menyatakan keterbukaannya untuk bekerja sama dalam bidang kebudayaan dengan Tiongkok. Koster percaya bahwa kerja sama berkesinambungan akan membuat nilai-nilai luhur budaya bertahan dan berkembang. Lebih dari itu, budaya dapat tumbuh dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Koster juga menyampaikan harapannya untuk Yayasan Paguyuban Warga Long Yan Jakarta. Ia berharap yayasan ini dapat terus bersinergi dengan instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Komunitas seni juga diharapkan terlibat aktif dalam pengembangan program budaya.
Program-program yang diusulkan meliputi festival budaya internasional tahunan yang menarik perhatian dunia. Selain itu, pertukaran pelajar dan seniman antar negara, pameran, serta lokakarya budaya juga penting. Program pelatihan dan pengembangan ekonomi berbasis budaya juga menjadi prioritas utama.
Sumber: AntaraNews