DPRD Kalsel Dukung Penuh Program Hari Keluarga Tanpa Gawai untuk Perkuat Interaksi Keluarga
DPRD Kalimantan Selatan mengapresiasi inisiatif generasi muda Tabalong meluncurkan Hari Keluarga Tanpa Gawai (HAKTAWA), sebuah program bulanan untuk meningkatkan kualitas interaksi dalam keluarga.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Firman Yusi, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif program Hari Keluarga Tanpa Gawai (HAKTAWA). Program ini digagas oleh generasi muda di Kabupaten Tabalong untuk memperkuat interaksi positif dalam lingkungan keluarga. Peluncuran HAKTAWA diharapkan dapat menjadi solusi atas minimnya komunikasi tatap muka.
HAKTAWA, yang telah diluncurkan sejak Februari 2026, akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan menetapkan satu hari khusus tanpa penggunaan gawai. Tujuannya jelas, yakni meningkatkan ketahanan keluarga melalui interaksi yang lebih berkualitas dan bermakna. Inisiatif ini datang dari Perkumpulan Saraba Kawa atau Pusaka.
Firman Yusi menyampaikan apresiasi atas gerakan ini yang menekankan pada penepian gawai atau gadget. Program ini bertujuan untuk menciptakan ruang interaksi positif di tengah keluarga. Konsep "Saraba Kawa" sendiri berarti serba bisa, yang merupakan motto daerah Tabalong.
Fokus HAKTAWA dan Dukungan DPRD Kalsel
Program Hari Keluarga Tanpa Gawai (HAKTAWA) secara spesifik menargetkan peningkatan kualitas interaksi antar anggota keluarga. Ini dilakukan dengan mendorong setiap individu untuk sementara menyingkirkan perangkat gawai mereka. Anggota DPRD Kalsel, Firman Yusi, melihat program ini sebagai langkah strategis yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Dukungan dari DPRD Kalsel, khususnya Firman Yusi, menunjukkan pengakuan terhadap pentingnya ketahanan keluarga. Beliau menekankan bahwa interaksi langsung dan berkualitas adalah fondasi utama dalam membangun hubungan keluarga yang harmonis. Apresiasi ini juga menjadi dorongan moral bagi para inisiator muda.
Firman Yusi berharap program HAKTAWA dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi warga Banua, khususnya masyarakat Tabalong. Ia juga menyarankan agar program serupa dapat dicontoh oleh generasi muda di kabupaten/kota lain. Hal ini demi membangun kembali komunikasi aktif saat berkumpul bersama keluarga.
Inisiator dan Implementasi Program
Inisiatif Hari Keluarga Tanpa Gawai (HAKTAWA) berasal dari Perkumpulan Saraba Kawa, sebuah kelompok generasi muda di Tabalong. Nama "Saraba Kawa" sendiri diambil dari bahasa daerah Banjar yang berarti serba bisa, sekaligus menjadi motto Kabupaten Tabalong. Semangat "serba bisa" ini tercermin dalam upaya mereka menciptakan solusi inovatif.
Program HAKTAWA dilaksanakan secara rutin setiap bulan, dengan menetapkan hari tertentu sebagai "hari tanpa gawai". Gerakan ini didukung oleh banyak relawan yang secara aktif memfasilitasi interaksi di berbagai keluarga di wilayah Tabalong. Keterlibatan relawan menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini.
Sebagai bagian dari realisasi program, inisiator juga menghadirkan Kepala Sekolah "Rumah Semut". Kehadiran tokoh atau ahli dalam bidang interaksi keluarga ini diharapkan dapat memberikan panduan dan inspirasi tambahan. Hal ini untuk memastikan kualitas interaksi yang terbangun selama Hari Keluarga Tanpa Gawai.
Manfaat dan Harapan HAKTAWA
Salah satu manfaat utama dari Hari Keluarga Tanpa Gawai (HAKTAWA) adalah mengembalikan fokus pada komunikasi tatap muka. Di era digital ini, banyak keluarga seringkali sibuk dengan gawai masing-masing, bahkan saat sedang berkumpul. Program ini berfungsi sebagai pengingat pentingnya kehadiran penuh dalam momen kebersamaan.
Firman Yusi menyoroti bahwa program ini sangat baik untuk mengingatkan semua pihak akan pentingnya interaksi. Dengan menyingkirkan gawai, diharapkan anggota keluarga dapat lebih fokus mendengarkan dan berbicara satu sama lain. Ini akan memperkuat ikatan emosional dan menciptakan kenangan berharga.
Harapan besar diletakkan pada program HAKTAWA agar dapat menjadi model bagi daerah lain. Firman Yusi secara eksplisit menyatakan bahwa program seperti ini bisa dicontoh oleh generasi muda di kabupaten/kota lainnya. Tujuannya adalah agar interaksi berkualitas saat berkumpul dalam keluarga dapat terbangun kembali di seluruh Indonesia.
Sumber: AntaraNews