Organisasi nirlaba "Keluarga Kita" baru-baru ini meluncurkan inisiatif "Gerakan Main Bareng" di Yogyakarta. Program ini bertujuan untuk memulihkan interaksi esensial antara orang tua dan anak. Fokus utamanya adalah mengurangi dominasi gawai dalam lingkungan keluarga.
Kegiatan tersebut berlangsung sukses di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada hari Sabtu. Acara ini dirancang khusus untuk menunjukkan bahwa aktivitas sederhana mampu memberikan kepuasan emosional. Hal ini sangat penting bagi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
"Gerakan Main Bareng" menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan tanpa stimulasi digital memiliki dampak positif. Inisiatif ini berupaya mengembalikan "kehadiran utuh" orang tua. Ini adalah respons atas tantangan terbesar keluarga di era digital saat ini.
Advertisement
Advertisement
Direktur "Keluarga Kita", Siti Nur Andini, menegaskan bahwa tantangan utama keluarga modern bukanlah teknologi itu sendiri. Sebaliknya, masalah utamanya adalah hilangnya momentum "kehadiran utuh" orang tua saat bersama anak. Interaksi yang berkualitas sangat penting untuk perkembangan emosional anak.
Menurut Andini, bermain bersama tanpa layar adalah bentuk cinta yang paling sederhana dan berdampak besar. Aktivitas ini mampu membangun fondasi emosional yang kuat bagi anak. Ini juga mempererat ikatan antara orang tua dan buah hati mereka.
Inisiatif "Gerakan Main Bareng" ini secara langsung menjawab kebutuhan tersebut. Kegiatan ini mendorong orang tua untuk benar-benar hadir. Mereka diajak berinteraksi dengan anak-anak tanpa gangguan notifikasi digital.
Advertisement
Advertisement
Dalam "Gerakan Main Bareng", seluruh anggota keluarga diajak berpartisipasi aktif dalam berbagai sesi. Anak-anak menikmati sesi bermain "Balon Udaraku" yang penuh kegembiraan. Aktivitas ini mendorong kreativitas dan interaksi fisik.
Selain itu, ada juga kegiatan mendongeng yang dikemas menarik bersama Komunitas Lareplay. Sesi ini melibatkan permainan, balon terbang, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya. Tujuannya adalah menstimulasi imajinasi anak tanpa perlu bergantung pada gawai.
Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk membuktikan bahwa kesenangan dan pembelajaran bisa didapatkan tanpa layar. Mereka menekankan pentingnya pengalaman langsung. Interaksi sosial yang otentik menjadi fokus utama.
Advertisement
Advertisement
Bagi para orang tua, "Gerakan Main Bareng" juga menyediakan sesi edukasi yang berharga. Mereka mengikuti talkshow bertajuk "Orangtua Cerdas di Era Digital". Diskusi ini membahas tantangan pengasuhan di era digital yang semakin kompleks.
Partnership Supervisor "Keluarga Kita", Ika Sari Damayanti, menyoroti pentingnya peran ayah. Gerakan ini menjadi ajang edukasi bagi para ayah melalui sesi "Main dan Bebikinan". Ini mendorong keterlibatan aktif ayah dalam permainan fisik tanpa gawai.
Kehadiran sosok ayah dalam permainan fisik dinilai mampu menciptakan rasa aman dan kegembiraan autentik bagi anak. Damayanti berharap lebih banyak keluarga memiliki kesadaran. Mereka diharapkan belajar dan memperbaiki visi-misi keluarga mereka.
Advertisement
Kegiatan yang berhasil menarik partisipasi 100 keluarga ini menyimpulkan pesan kuat. Kebahagiaan anak tidak memerlukan teknologi mahal atau canggih. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah perhatian penuh dan waktu bermain yang bebas dari gangguan notifikasi digital. Ini adalah investasi terbaik bagi masa depan anak.
Sumber: AntaraNews