DPRD DKI Dorong UMKM Takjil Ramadhan Perkuat Transaksi Digital untuk Adaptasi Modern
Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Wahyu Dewanto menekankan pentingnya UMKM takjil Ramadhan memperkuat transaksi digital. Ini peluang besar bagi pelaku usaha kecil beradaptasi dengan pola perdagangan modern dan memanfaatkan momentum Ramadhan.
Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto, mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) takjil Ramadhan untuk memperkuat transaksi berbasis digital. Langkah ini bertujuan memudahkan pembeli yang semakin sering menggunakan metode pembayaran nontunai, terutama saat bulan puasa. Digitalisasi menjadi kunci adaptasi di tengah kebiasaan masyarakat modern.
Dorongan ini disampaikan Wahyu di Jakarta pada Minggu (22/2), menyoroti tren peningkatan penggunaan transaksi digital di masyarakat. Menurutnya, masyarakat sudah terbiasa memanfaatkan sistem pembayaran digital dalam aktivitas jual beli sehari-hari. Ini menunjukkan pergeseran perilaku konsumen yang perlu direspons oleh para pelaku usaha.
Dengan penguatan transaksi digital, UMKM takjil dapat memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai kesempatan untuk berkembang. Ini juga menjadi cara bagi mereka untuk beradaptasi dengan pola perdagangan yang semakin modern dan efisien. Keberadaan UMKM takjil sendiri memiliki peran vital dalam menjaga perputaran ekonomi lokal.
Pentingnya Digitalisasi bagi UMKM Takjil Ramadhan
Wahyu Dewanto menilai keberadaan UMKM takjil sangat penting dalam menjaga perputaran ekonomi selama bulan Ramadhan. Masyarakat kerap menyerbu pedagang hidangan ringan, baik makanan maupun minuman manis, untuk berbuka puasa. Oleh karena itu, para pelaku usaha kecil harus memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin.
Tradisi berjualan takjil musiman ini diharapkan dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Dengan adopsi transaksi digital, UMKM takjil tidak hanya mempermudah pembeli, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional mereka. Hal ini juga membuka potensi pasar yang lebih luas bagi produk-produk takjil.
Penguatan transaksi digital memungkinkan UMKM takjil untuk tidak hanya melayani pembeli secara langsung, tetapi juga berpotensi menjangkau konsumen melalui platform daring. Kemudahan pembayaran nontunai dapat menarik lebih banyak pelanggan, terutama mereka yang tidak membawa uang tunai. Ini adalah langkah strategis untuk pertumbuhan usaha.
Tren Peningkatan Penggunaan QRIS di Jakarta
Data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam penggunaan QRIS. Pada tahun 2025, jumlah pengguna QRIS mencapai 6,1 juta, meningkat 3,87 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 5,9 juta. Angka ini mencerminkan adopsi yang semakin luas terhadap sistem pembayaran digital.
Selain jumlah pengguna, jumlah merchant atau toko yang memanfaatkan QRIS juga mengalami peningkatan pesat. Tercatat pada tahun 2025, peningkatannya mencapai 13,90 persen, dari 5,7 juta menjadi 6,5 juta merchant. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak pelaku usaha yang menyadari manfaat dari sistem pembayaran ini.
Mayoritas pengguna QRIS di Jakarta adalah pelaku UMKM, dengan persentase mencapai 75,22 persen. Fakta ini menegaskan bahwa UMKM adalah pendorong utama dalam ekosistem pembayaran digital di ibu kota. Oleh karena itu, dorongan untuk UMKM takjil mengadopsi transaksi digital sangat relevan dan didukung oleh data yang ada.
Sumber: AntaraNews