Dorong Kolaborasi BUMN dan Swasta Perkuat Kemandirian Industri Pertahanan
Pemerintah kini semakin mendorong kolaborasi antara BUMN dan swasta untuk industri pertahanan.
Industri pertahanan Indonesia tengah didorong menuju kemandirian agar tidak bergantung pada asing. Kehadiran perusahaan swasta dalam negeri diharapkan mendorong untuk mencapai kemandirian pertahanan.
Pemerintah menargetkan agar pengadaan alat pertahanan dapat sepenuhnya dipenuhi industri dalam negeri. Mulai dari senjata ringan seperti pistol dan senapan serbu yang diproduksi secara lokal maupun pemeliharaan serta produksi suku cadang di dalam negeri.
Salah satu tonggak kemandirian industri pertahanan Indonesia adalah kemampuan memproduksi senjata ringan di dalam negeri melalui PT Pindad (Persero).
Pemerintah kini semakin mendorong kolaborasi antara BUMN dan swasta untuk industri pertahanan. Kehadiran pihak swasta menjadi bagian dari rantai pasokan lokal bagi BUMN bidang pertahanan.
Direktur Operasi PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI), Agus Prihanto, menegaskan pihaknya telah telah menjalin Letter of Intent (LoI) dengan PT Pindad untuk pengadaan 100 pucuk pistol produksi Pindad. Langkah ini menunjukkan kolaborasi antar industri dalam negeri untuk saling mendukung kemandirian alutsista dan komponen pendukungnya.
"Kami telah mengantongi lisensi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata, selongsong dan proyektil amunisi, serta komponen presisi untuk pesawat terbang, kapal, dan kendaraan tempur," jelas Agus dalam keterangannya, Rabu (21/1).
PT NKRI juga berperan sebagai produsen komponen dan sub-assembly pertahanan dalam negeri dan fokus memproduksi komponen senjata juga amunisi.
"Kami juga membantu memenuhi kebutuhan suku cadang lokal untuk Pindad, PT DI, PT PAL, dan perusahaan pertahanan lain tanpa harus mengimpor. Dengan modal dan tenaga ahli dalam negeri," katanya.
Melalui kolaborasi semacam, diharapkan mampu mempercepat inovasi alutsista lokal dan memperluas kapasitas industri secara menyeluruh.