Diduga Kelelahan, Mahasiswi Tewas Tenggelam saat Tolong Teman di Danau Toba
Korban diduga kelelahan saat berupaya menolong empat rekannya yang lebih dahulu tenggelam di lokasi tersebut.
Seorang mahasiswi berinisial GOS (19) meninggal dunia akibat tenggelam di Pantai II Desa Meat atau kawasan perairan Danau Toba, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba, Sumatra Utara, Sabtu (3/1) kemarin. Korban diduga kelelahan saat berupaya menolong empat rekannya yang lebih dahulu tenggelam di lokasi tersebut.
Kapolsek Balige, AKP Libertius Siahaan mengatakan, kejadian bermula saat rombongan muda-mudi Gereja GPDI Silando berjumlah 32 orang, termasuk pendamping, berangkat dari gereja menuju Pantai II Desa Meat sekitar pukul 10.00 WIB. Rombongan dipimpin Gembala Gereja GPDI Silando, Gideon Op Sunggu, untuk melaksanakan perayaan Tahun Baru sekaligus pembubaran panitia Natal 2025.
"Rombongan tiba di Pantai II Danau Toba, Desa Meat, sekitar pukul 11.30 WIB. Setelah itu, mereka melaksanakan ibadah di sekitar warung milik Kepala Desa Meat," ujar Libertius, Minggu (4/1).
Kronologi Tenggelam
Libertius menjelaskan kegiatan itu dilanjutkan dengan hiburan. Sejumlah peserta kemudian berenang di perairan pantai yang tidak jauh dari lokasi kegiatan. Tidak lama berselang, empat orang peserta dilaporkan mengalami kesulitan di air. Melihat kejadian tersebut, korban bersama beberapa rekannya berupaya memberikan pertolongan. Namun, diduga karena kelelahan, korban justru ikut tenggelam.
“Empat orang yang sebelumnya tenggelam berhasil diselamatkan. Namun korban GOS tidak dapat diselamatkan,” jelas Libertius.
Korban akhirnya ditemukan sekitar pukul 16.40 WIB dalam keadaan meninggal dunia dengan bantuan personel Polsek Balige, masyarakat setempat, dan rekan-rekan korban. Selanjutnya, korban dibawa ke Rumah Sakit HKBP Balige untuk pemeriksaan medis.
Berdasarkan keterangan pimpinan rombongan, pihak gereja telah membayar retribusi masuk Pantai II Desa Meat sebesar Rp5.000 per orang. Namun, sebelum kegiatan berlangsung, rombongan tidak melakukan pemberitahuan kepada pemerintah setempat terkait pelaksanaan kegiatan tersebut.
"Pihak keluarga korban menyatakan menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Jenazah korban kemudian dibawa pulang untuk dimakamkan," pungkas Libertius.