China Tegaskan Dukungan Penuh untuk Perundingan Damai Nuklir Iran dengan AS
Beijing menyatakan dukungan kuat untuk perundingan damai nuklir Iran dengan AS di Oman, mendorong dialog sebagai solusi perbedaan dan menjaga stabilitas regional.
China secara resmi menyatakan dukungannya terhadap perundingan damai nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang sedang berlangsung di Oman. Beijing menekankan pentingnya dialog untuk menyelesaikan perbedaan dan menjaga stabilitas regional di tengah ketegangan yang meningkat. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Jumat (6/2) di Beijing.
Dukungan ini muncul setelah Wakil Menteri Luar Negeri China Miao Deyu dan Asisten Menteri Luar Negeri Liu Bin bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di Beijing pada Kamis (5/2). Dalam pertemuan tersebut, Iran menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur diplomatik dan mendorong perundingan berdasarkan keadilan dan kesetaraan.
Sementara itu, delegasi AS dan Iran telah memulai pembicaraan tidak langsung di Muscat, ibu kota Oman, pada Jumat (6/2), menandai negosiasi pertama setelah jeda berbulan-bulan. Proses ini melibatkan mediasi oleh Oman, dengan kedua delegasi berada di ruangan terpisah dan bertukar catatan melalui perantara.
Sikap Tegas China dalam Isu Nuklir Iran
China secara konsisten menjaga komunikasi dengan berbagai pihak terkait isu nuklir Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengungkapkan harapan agar semua pihak dapat menyelesaikan perbedaan melalui dialog konstruktif. Beijing berpandangan bahwa pendekatan ini krusial untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Wakil Menteri Luar Negeri China Miao Deyu menegaskan posisi negaranya yang selalu mencermati situasi Iran dengan ketat. China mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, dan martabat nasionalnya, serta melindungi hak dan kepentingannya yang sah. Sikap ini mencerminkan penolakan China terhadap unilateralisme yang bersifat hegemonik dan tekanan militer dalam hubungan internasional.
Selain itu, Beijing juga menentang campur tangan terhadap urusan dalam negeri negara lain, sebuah prinsip yang dipegang teguh dalam kebijakan luar negerinya. China berkomitmen untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan semua pihak, termasuk Iran, guna menegakkan tujuan dan prinsip Piagam PBB. Ini juga termasuk menjunjung tinggi norma dasar hubungan internasional, prinsip kesetaraan kedaulatan, dan menjaga keadilan internasional.
Komitmen Iran pada Jalur Diplomatik
Dalam pertemuan di Beijing, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memaparkan situasi domestik Iran serta perkembangan terkait isu nuklir. Gharibabadi secara eksplisit menekankan bahwa Iran berkomitmen penuh untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur diplomatik.
Iran juga menyatakan kesediaannya untuk mendorong perundingan atas dasar keadilan dan kesetaraan, menolak intimidasi dan tekanan dari luar. Gharibabadi menyampaikan apresiasi atas kontribusi China dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan serta dunia.
Lebih lanjut, Iran menyambut peran China yang lebih besar lagi dalam upaya diplomatik ini. Komitmen Iran terhadap dialog diplomatik menunjukkan upaya negara tersebut untuk mencari solusi damai di tengah tekanan internasional terkait program nuklirnya.
Ketegangan dan Perundingan AS-Iran di Oman
Perundingan tidak langsung antara delegasi AS dan Iran di Muscat, Oman, menandai upaya baru setelah jeda berbulan-bulan yang dipicu oleh konflik Iran-Israel pada Juni 2025. Negosiasi ini dimulai dengan pertemuan terpisah antara Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Hamad Al Busaidi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dan kemudian dengan Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah.
Pembicaraan ini dilaporkan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Ketegangan dipicu oleh peningkatan kekuatan militer AS di Teluk Persia dan ancaman aksi militer berulang kali oleh Presiden Trump.
Pada 4 Februari, Trump secara terbuka mengancam Iran, menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei "seharusnya sangat khawatir" dan mengancam akan melakukan "hal-hal yang sangat buruk" jika Iran melanjutkan program nuklirnya. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan tercapai, serangan AS terhadap Iran akan "jauh lebih buruk" daripada serangan sebelumnya.
AS dan sekutunya, Israel, menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Teheran. Iran menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, termasuk pembangkit listrik.
Sumber: AntaraNews