Aktivitas Gempa Susulan Pacitan Menurun, BMKG Imbau Masyarakat Tetap Waspada
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa aktivitas gempa susulan Pacitan pascagempa M6,2 telah menunjukkan penurunan frekuensi signifikan. Masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti informasi resmi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan penurunan signifikan dalam aktivitas gempa susulan di wilayah tenggara Pacitan, Jawa Timur. Penurunan ini terjadi pascagempa bermagnitudo 6,2 yang mengguncang daerah tersebut pada Jumat (6/2) dini hari. Informasi ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi masyarakat yang sempat dilanda kekhawatiran.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, di Jakarta, Sabtu, menjelaskan bahwa pemantauan intensif terus dilakukan oleh pihaknya. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 24 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 4,0 dan terkecil 2,2.
Meskipun frekuensi gempa susulan sudah mulai meluruh dan jarang terjadi, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan. Kewaspadaan tetap diperlukan, terutama terkait potensi kerusakan bangunan dan informasi resmi dari pihak berwenang.
Frekuensi Gempa Susulan Menurun Signifikan
Aktivitas gempa susulan di Pacitan pascagempa utama bermagnitudo 6,2 telah menunjukkan tren penurunan yang jelas. Daryono menyatakan, "Frekuensi kejadian gempa susulan sudah menurun dan jarang terjadi, mohon masyarakat tidak terlalu khawatir berlebihan. Sudah luruh." Pernyataan ini disampaikan untuk menenangkan warga yang mungkin masih merasakan dampak psikologis dari guncangan sebelumnya.
BMKG mencatat bahwa periode paling aktif untuk gempa susulan terjadi pada rentang waktu pukul 01.00 hingga 06.00 WIB pada Jumat pagi, dengan total 11 kejadian. Setelah periode tersebut, jumlah dan intensitas gempa susulan terus berkurang, menandakan pelepasan energi yang semakin stabil.
Dampak Gempa Utama dan Intensitas Guncangan
Gempa bumi bermagnitudo 6,2 yang menjadi pemicu serangkaian gempa susulan ini terdeteksi pada Jumat (6/2) pukul 01.06 WIB. Pusat gempa berada di laut, tepatnya di kedalaman 58 kilometer di tenggara Pacitan, Jawa Timur. Gempa ini dikategorikan sebagai gempa megathrust dangkal, yang berpotensi menimbulkan dampak signifikan di permukaan.
Guncangan gempa utama dirasakan dengan intensitas yang bervariasi di beberapa wilayah. Intensitas IV MMI dirasakan kuat di Pacitan, Bantul, Yogyakarta, dan Sleman. Sementara itu, intensitas III MMI dilaporkan di Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Blitar, Surakarta, hingga Banjarnegara. Bahkan, guncangan dengan intensitas II MMI juga terasa hingga Tuban dan Jepara, menunjukkan jangkauan dampak yang luas.
Laporan Kerusakan dan Korban Terdampak
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data sementara mengenai dampak gempa hingga Jumat sore. Sebanyak 224 jiwa tersebar di tiga provinsi terdampak, dengan 40 orang dilaporkan mengalami luka-luka di Kabupaten Bantul. Guncangan kuat selama dua hingga tiga detik dirasakan di Kabupaten Pacitan dan Trenggalek, serta sejumlah wilayah di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Kerusakan infrastruktur juga tercatat di beberapa daerah. Berikut rincian kerusakan sementara:
- Jawa Timur: 29 rumah, 1 fasilitas pendidikan, dan 1 balai desa.
- Jawa Tengah: 18 rumah, 5 fasilitas pendidikan, 1 fasilitas peribadatan, 1 fasilitas kesehatan, dan 1 fasilitas umum.
- DI Yogyakarta: 8 rumah terdampak, serta fasilitas pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan tempat ibadah.
Imbauan dan Kewaspadaan Masyarakat
BMKG menegaskan akan terus melakukan pemantauan aktivitas kegempaan secara berkala. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta selalu mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG dan lembaga terkait. Penting untuk menghindari penyebaran berita atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal mereka. Jika terdapat kerusakan, terutama pada struktur bangunan, sangat penting untuk tidak memasuki atau mendekati bangunan tersebut guna menghindari risiko yang tidak diinginkan. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam menghadapi potensi bencana.
Sumber: AntaraNews