Penjualan Toyota Anjlok Imbas Krisis Timur Tengah
Penjualan global Toyota Motor mengalami penurunan lagi pada Maret 2026.
Penjualan global Toyota Motor mengalami penurunan lagi pada bulan Maret 2026. Hal ini menjadi bulan kedua berturut-turut di mana performa pabrikan asal Jepang tersebut menunjukkan penurunan, yang dipicu oleh kondisi pasar yang tidak menguntungkan di Timur Tengah serta masalah pasokan untuk salah satu model unggulannya.
Menurut laporan yang disitat dari Autoblog, penurunan ini terutama disebabkan oleh menurunnya permintaan di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik yang tidak stabil berdampak langsung pada distribusi dan penjualan kendaraan, sehingga memberikan tekanan yang signifikan terhadap kinerja global Toyota pada periode ini.
Selain itu, transisi model untuk Toyota RAV4 juga menjadi faktor penting. SUV ini merupakan salah satu penyumbang utama penjualan Toyota, namun saat ini sedang dalam proses pergantian generasi yang memengaruhi ketersediaan unit di pasar.
Seorang juru bicara Toyota menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi oleh RAV4 lebih berkaitan dengan suplai dibandingkan permintaan.
"Ada masalah pasokan Toyota RAV4, bukan masalah permintaan," ungkapnya. Kekurangan unit ini disebabkan oleh jeda produksi di pabrik Kentucky, Amerika Serikat, yang belum sepenuhnya siap untuk memproduksi model terbaru RAV4. Dampaknya jelas terlihat pada angka penjualan, di mana pada Maret 2026, Toyota hanya mampu menjual 21.693 unit RAV4 di Amerika Serikat, jauh menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 41.509 unit.
Secara kumulatif, penjualan tahun berjalan juga mengalami penurunan menjadi 59.869 unit dari sebelumnya 115.402 unit. Meskipun demikian, kondisi ini dianggap sebagai tantangan jangka pendek. Transisi model dan gangguan regional diyakini hanya bersifat sementara, sementara permintaan terhadap kendaraan Toyota, khususnya di segmen SUV, masih tergolong kuat di berbagai pasar global.
Kerja sama dengan CATL
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) telah resmi menjalin kerja sama dengan produsen baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) untuk memproduksi baterai mobil hybrid di tanah air. Investasi yang dilakukan oleh perusahaan Jepang ini mencapai Rp 1,3 triliun. Menurut Nandi Julyanto, Presiden Direktur PT TMMIN, kolaborasi strategis antara Toyota dan CATL bertujuan untuk meningkatkan lokalisasi baterai kendaraan hybrid di Indonesia.
"Kami akan memperdalam lokalisasi baterai kendaraan hybrid dengan pembuatan komponen sel dan modul baterai yang sejauh ini masih impor. Ke depannya, akan diproduksi sendiri oleh talenta Indonesia," jelas Nandi di kawasan PIK 2, Tangerang pada Senin (20/4/2026).
Langkah kolaborasi dengan CATL ini, menurut Nandi, merupakan bagian dari strategi perusahaan sebagai anak perusahaan Toyota pertama di Asia Tenggara yang akan mengekspor baterai ke pasar global.
"TMMIN melakukan investasi sebesar Rp 1,3 triliun untuk aktivitas ini," tambah Nandi. Mengenai waktu produksi baterai hasil kolaborasi Toyota dan CATL, rencananya akan dimulai pada semester kedua tahun 2026. Namun, kapasitas produksi baterai tersebut belum diumumkan secara detail dan akan diinformasikan di kemudian hari.