Jejak Sunyi Bridgestone Menjaga Keselamatan dan Lingkungan
PT Bridgestone Tire Indonesia menunjukkan bahwa peran korporasi tak selalu harus bersuara nyaring untuk meninggalkan dampak.
Di tengah derasnya arus modernisasi industri, langkah-langkah kecil namun konsisten kerap menjadi penentu arah perubahan. PT Bridgestone Tire Indonesia menunjukkan bahwa peran korporasi tak selalu harus bersuara nyaring untuk meninggalkan dampak. Diam-diam, perusahaan ini terus menanamkan nilai keberlanjutan melalui program-program yang menyentuh langsung lapisan masyarakat paling dasar.
Pada ajang Nusantara CSR Awards 2025 yang diselenggarakan oleh La Tofi School of Social Responsibility, dua inisiatif Bridgestone mendapat pengakuan. Bukan sekadar penghargaan, namun lebih sebagai pengingat bahwa kerja sosial tak harus spektakuler untuk bermakna.
Sekolah, Jalan, dan Keselamatan yang Kerap Diabaikan
Salah satu program yang diapresiasi adalah Road Safety School, proyek edukasi dan intervensi keselamatan lalu lintas yang dimulai di Kota Bekasi sejak 2024. Program ini tidak berangkat dari asumsi, melainkan dari survei dan keterlibatan langsung dengan 290 guru di 89 sekolah dasar dan menengah. Hasil survei mengidentifikasi SMPN 2 Bekasi sebagai salah satu titik rawan kecelakaan.
Alih-alih hanya memberi pelatihan, Bridgestone justru turun ke lapangan: menghitung lalu lintas, menilai kondisi jalan, melatih guru dan siswa, hingga memasang zebra cross dan rambu keselamatan. Hasilnya pun terukur—dari klasifikasi Star 1 (sangat berisiko) menjadi Star 3 (risiko sedang) berdasarkan penilaian iRAP (International Road Assessment Programme), sebuah standar internasional untuk keselamatan jalan.
Inisiatif ini dinilai sejalan dengan SDGs Goal 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, serta menjadi salah satu representasi nyata dari bagaimana pendekatan edukasi dan infrastruktur bisa berjalan berdampingan dalam menciptakan ruang yang lebih aman bagi generasi muda.
Dari Sampah Rumah Tangga Menjadi Ruang Pemberdayaan
Program kedua yang mendapatkan penghargaan hadir dari tempat yang lebih sunyi: Desa Kutanegara, Karawang. Di sana, Bridgestone mendukung penguatan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dengan sentuhan sederhana namun bermakna: pembangunan ulang insinerator, perbaikan motor pengangkut sampah, serta penyediaan alat keselamatan dan seragam kerja.
Yang menarik, 70% dari 15 pekerja TPS ini adalah perempuan—mereka menjadi garda terdepan dalam mengelola sampah rumah tangga dari lebih dari 300 kepala keluarga. Program ini tak hanya soal sampah, tapi tentang akses terhadap pekerjaan yang layak, peningkatan keterampilan, serta kepercayaan diri perempuan di sektor informal yang kerap luput dari perhatian.
Penghargaan ini diberikan dalam kategori Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yang juga sejalan dengan SDGs Goal 12, serta nilai Empowerment dan Ecology dalam kerangka Bridgestone E8 Commitment.
Lebih dari Sekadar Apresiasi
Yunus Triyonggo, Human Resources & General Affairs Director Bridgestone Indonesia, menyampaikan bahwa pengakuan ini bukan tujuan akhir. “Bagi kami, ini adalah pengingat bahwa keberlanjutan perlu dijalankan dengan konsistensi dan kedekatan pada kebutuhan nyata masyarakat,” ujarnya.
Dalam dunia yang sering bergerak cepat, dua program Bridgestone ini seolah hadir sebagai jeda — memberi ruang untuk melihat kembali makna pertumbuhan. Bahwa keberlanjutan tak melulu tentang jargon global, tetapi tentang bagaimana sebuah zebra cross di depan sekolah atau motor sampah di desa bisa membuat perbedaan. Sunyi, namun berdampak.