Beranggotakan Maling dan Pelacur, Ini Kisah Pasukan Rahasia dari Yogyakarta di Era Kemerdekaan
Strategi ini pada akhirnya menjadi senjata makan tuan bagi pejuang revolusi
Strategi ini pada akhirnya menjadi senjata makan tuan bagi pejuang revolusi
Beranggotakan Maling dan Pelacur, Ini Kisah Pasukan Rahasia dari Yogyakarta di Era Kemerdekaan
Kondisi Kota Yogyakarta setelah momen kemerdekaan benar-benar tidak kondusif. Saat itu para begal dan maling banyak berkeliaran. Para pencopet beroperasi tak kenal waktu. Saat malam hari, tempat-tempat pelacuran berkembang di setiap sudut kota.
Kondisi tersebut sangat dikeluhkan oleh Raja Yogyakarta saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ia meminta Mayor Jenderal Moestopo untuk membersihkan penyakit masyarakat di wilayah Yogyakarta.
Alih-alih menertibkan para pembuat onar di masyarakat, Mayjen Moestopo justru memberdayakan mereka untuk ikut berjuang dalam perang revolusi. Dia mengirim para perampok, copet, dan pelacur ke daerah-daerah pendudukan Belanda.
Tak diduga, pihak Belanda kewalahan menghadapi strategi dari Mayjen Moestopo. Kondisi sosial di daerah yang mereka duduki jadi kacau balau. Para tentara Belanda banyak yang terkena penyakit kelamin berkat operasi senyap para pelacur revolusi.
Dikutip dari kanal YouTube Indonesia Insider, sejarawan Australia Robert Cribb mengatakan, senjata yang diperoleh para pejuang revolusi diperoleh dari hasil mencuri dari bantuan sejumlah wanita tuna susila.
Oleh Jenderal Moestopo, para maling dan pelacur diberi bekal pendidikan militer. Ia meminta Kolonel TB Simatupang untuk mengajari mereka.
Setelah itu, Moestopo membentuk sebuah pasukan bernama Terate, singkatan dari Tentara Rahasia Tertinggi. Di dalamnya bergabung Barisan Maling (BM) dan Barisan Wanita Pelacur (BWP).
Dilansir dari kanal YouTube Indonesia Insider, BWP sukses menjatuhkan mental pasukan Belanda yang terkena penyakit kelamin. Sementara BM sukses mencuri alat-alat militer seperti senjata, teropong, dan baju-baju militer.
Sayangnya strategi Moestopo itu kemudian menjadi senjata makan tuan di kemudian hari. Karena adanya pasukan pelacur, pasukan republik yang merasa kesepian ikut terkena penyakit kotor.
Tak cukup sampai di situ, barisan para maling tak hanya menjarah markas pasukan Belanda. Mereka juga mencuri rumah warga biasa. Kondisi ini menambah masalah bagi pasukan republik.
Bahkan pada akhirnya Mayjen Moestopo jadi korban maling dari salah satu anggota Pasukan Terate. Suatu hari ia melapor kepada Letkol Sukanda bahwa ia kehilangan baju. Bukannya segera menyelidiki, Sukanda malah tertawa terbahak-bahak. Moestopo pun bingung atas reaksi dari Letkol Sukanda.
Moestopo akhirnya membubarkan pasukan itu karena banyak membawa masalah. Namun usai perang, para anggota barisan wanita pelacur (BWP) tak lagi melacur. Banyak dari mereka yang kemudian menikah dengan para pemuda teman seperjuangan mereka.