Ruginya Bangun Rumah Tanpa Standar Kualitas, Waspada Tawaran Biaya Murah
Masyarakat agar tidak tergiur membangun rumah dengan biaya murah tanpa mempertimbangkan standar kualitas dan keberlanjutan bangunan.
Membangun rumah dengan biaya murah kerap dianggap sebagai solusi cepat di tengah kebutuhan hunian yang terus meningkat. Namun, pendekatan yang hanya berfokus pada harga dan kecepatan pembangunan berisiko mengabaikan standar kualitas serta keberlanjutan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kenyamanan, kesehatan, dan biaya jangka panjang bagi penghuni.
Pengembang properti asal Jerman, Michael Hofmann, mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur membangun rumah dengan biaya murah tanpa mempertimbangkan standar kualitas dan keberlanjutan bangunan.
Menurut Michael yang kini menetap di Sanur, Bali, kualitas konstruksi tidak hanya menyangkut kekuatan fisik bangunan, tetapi juga berdampak langsung pada kenyamanan, kesehatan, serta biaya jangka panjang bagi penghuni.
"Bagi saya, kualitas adalah hal yang paling penting. Jika kualitas bangunannya sangat baik, orang yang tinggal di dalamnya akan bahagia. Sayangnya, terlalu banyak orang ingin membangun cepat dan murah lalu menjualnya kembali, tanpa memikirkan perawatan dan tanpa melihat ke depan 10–20 tahun," ujarnya.
Ia menilai, praktik pembangunan yang mengutamakan kecepatan dan efisiensi biaya kerap mengabaikan aspek fundamental, seperti daya tahan struktur, efisiensi energi, hingga potensi masalah kesehatan akibat kualitas material yang rendah.
Michael menjelaskan, bangunan ideal setidaknya harus memenuhi standar kualitas tinggi, ramah lingkungan, memiliki kinerja termal yang baik, tahan api, tidak memicu pertumbuhan jamur dan lumut, serta minim perawatan dalam kurun waktu minimal 10 tahun. Secara struktural, bangunan juga seharusnya mampu bertahan lebih dari 50 tahun.
"Melihat harga mungkin terasa menguntungkan sekarang, tetapi bisa membuat biaya membengkak dua kali lipat dalam 10 tahun ke depan. Masalah seperti jamur dan lumut berdampak pada kesehatan, belum lagi biaya energi untuk pendinginan atau pemanasan akibat selubung bangunan yang buruk, serta perbaikan karena retak dan penurunan struktur," jelasnya.
Sistem Bangunan jadi Hal Mendesak
Ia menambahkan, edukasi masyarakat terkait material dan sistem bangunan menjadi hal mendesak. Menurutnya, pemilik rumah perlu memahami spesifikasi dan potensi risiko bangunan yang akan mereka tempati.
"Anda perlu tahu rumah tempat Anda tinggal kelebihan, kekurangan, potensi bahaya, dan masalah perawatan di masa depan. Saat membeli ponsel atau mobil saja kita mencari informasi detail, mengapa tidak dengan rumah, tempat kita menghabiskan sebagian besar hidup?" katanya.
Bangun Rumah Keputusan Jangka Panjang
Ke depan, Michael berharap dapat mendorong perubahan pola pikir dalam industri konstruksi di Indonesia, dengan memperkenalkan sistem bangunan yang lebih berkelanjutan, tahan lama, dan efisien, sekaligus mengedukasi para arsitek, insinyur, hingga pemangku kebijakan di sektor pembangunan.
Ia menegaskan, keputusan membangun rumah bukan sekadar investasi jangka pendek, melainkan fondasi kehidupan jangka panjang yang membutuhkan perencanaan matang dan standar kualitas yang jelas.