Pesawat Tempur AS Kembali Jatuh di Laut Merah, Dua Insiden Hanya dalam Sepekan
Sebuah F/A-18 Super Hornet jatuh di Laut Merah setelah gagal mendarat di USS Truman, kapal perang AS.
Sebuah pesawat tempur F/A-18 Super Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat jatuh ke Laut Merah pada Selasa (6/5). Insiden ini terjadi saat pesawat tersebut berupaya mendarat di dek penerbangan kapal induk USS Harry S. Truman. Ini merupakan kecelakaan kedua yang melibatkan pesawat tempur AS yang jatuh dari kapal induk yang sama dalam kurun waktu kurang dari seminggu.
Dua pejabat AS, yang berbicara dengan syarat tak disebutkan namanya, mengatakan pesawat itu gagal berhenti dengan benar setelah mendarat di kapal induk. Salah satu dari mereka mengonfirmasi bahwa pilot melontarkan diri sebelum pesawat jatuh ke air dan diselamatkan oleh helikopter penyelamat, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Kamis (8/5).
Salah satu pejabat mengatakan, hasil pemeriksaan medis mengungkapkan pilot hanya mengalami cedera ringan, dan tidak ada personel yang bekerja di dek penerbangan yang terluka.
Angkatan Laut AS belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang insiden tersebut.
Kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keselamatan operasi di atas kapal induk USS Harry S. Truman. Dugaan sementara mengarah pada kegagalan sistem penahan (arrestment) pada dek penerbangan kapal induk sebagai penyebab utama kecelakaan. Sistem penahan ini berupa kait yang menangkap kawat baja, berfungsi untuk memperlambat pesawat saat mendarat dan mencegahnya jatuh ke laut. Kegagalan sistem ini menyebabkan pesawat F/A-18 Super Hornet tersebut gagal berhenti dan akhirnya jatuh ke laut.
Pekan lalu, jet tempur lain jatuh ke laut dari kapal induk yang sama, yang selama ini mendukung serangan udara AS di Yaman. Harga satu jet tempur AS lebih dari USD60 juta atau sekitar Rp987 miliar. Jatuhnya dua pesawat dalam waktu singkat merupakan kerugian finansial yang signifikan bagi Angkatan Laut AS.