Menlu Sugiono Pastikan Keamanan dan Kesejahteraan Pasukan TNI yang Bertugas di ISF
Menlu Sugiono mengungkapkan berbagai risiko dan tantangan yang akan dihadapi oleh pasukan Indonesia dalam konteks keterlibatan mereka di ISF.
Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan bagi pasukan TNI yang akan dikerahkan dalam misi The International Stabilization Force (ISF). Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono saat memberikan informasi kepada media di Four Seasons, Washington D.C., pada hari Jumat, 20 Februari 2026, pukul 13.28 waktu setempat.
Menanggapi pertanyaan seputar kesejahteraan prajurit, Menlu Sugiono menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab penuh terhadap anggota militer yang dikirim untuk misi penjagaan perdamaian tersebut.
"Kesejahteraan pasukan yang kita kirim ya pasti kita jamin," ungkap Menlu Sugiono dalam press briefing yang membahas keikutsertaan Indonesia di KTT Board of Peace.
Ia menambahkan bahwa aspek kesejahteraan sosial bagi prajurit sudah memiliki standar yang ditetapkan dalam operasi penjagaan perdamaian. "Kesejahteraan sosial ya, kesejahteraan prajurit sebagai penjaga perdamaian kan sudah ada indeksnya juga," jelasnya.
Namun, Menlu Sugiono juga mengakui bahwa setiap operasi militer selalu mengandung risiko. "Kalau namanya operasi, operasi tentara ya tentu saja ada risiko," ujarnya. Menurutnya, dalam forum sebelumnya, berbagai tantangan yang mungkin dihadapi selama pelaksanaan misi telah dibahas. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memiliki mandat yang jelas dan aturan pelibatan atau rule of engagement yang tegas.
"Dan juga kemarin kan disampaikan ada tantangan-tantangan yang kita hadapi; makanya kita perlu suatu mandat yang jelas pertama; kemudian rule of engagement yang jelas; karena kita juga tidak mau prajurit kita jadi korban di luar misi yang sedang dilaksanakan," tegas Menlu Sugiono.
Keberadaan Indonesia dalam struktur board of peace dan posisinya sebagai Deputy Commander bidang Operasi diyakini akan memperkuat perlindungan terhadap prajurit di lapangan.
"Dan saya kira itu yang menjadi tanggung jawab kita semua; dan keberadaan kita di board of peace, kemudian keberadaan kita sebagai deputy commander operasi, saya kira akan memperbesar keyakinan dan kemungkinan bahwa keamanan prajurit itu tetap bisa jadi yang utama," ujarnya.
Menlu Sugiono menekankan bahwa jaminan keamanan dan kesejahteraan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam setiap penugasan pasukan di luar negeri, termasuk dalam misi ISF.
Lima Negara Mengirimkan Pasukan
Pasukan stabilisasi untuk Gaza, yang dikenal dengan nama International Stabilization Force (ISF), telah mengumumkan lima negara pertama yang menjadi anggota Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) yang akan mengirimkan pasukan perdamaian ke Jalur Gaza. Salah satu negara tersebut adalah Indonesia. Namun, dalam daftar lima negara yang menyatakan kesediaan untuk mengirimkan pasukan, tidak terdapat nama Amerika Serikat.
"Saya dengan gembira mengumumkan bahwa lima negara pertama yang akan mengirim personel untuk bertugas dalam ISF yaitu Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania," ucap Panglima ISF, Mayor Jenderal Jasper Jeffers, dalam pertemuan perdana tingkat kepala negara Dewan Perdamaian di Washington DC, pada Kamis pagi waktu setempat. Dilansir pada Jumat (20/2/2026), pernyataan ini menandakan langkah awal yang signifikan dalam upaya perdamaian di wilayah tersebut.
Dalam siaran daring yang dipantau dari Gedung Putih di Jakarta pada Kamis malam, Jeffers juga menyampaikan bahwa Mesir dan Yordania bersedia memberikan pelatihan bagi pasukan kepolisian Gaza yang akan dibentuk. Panglima ISF menegaskan bahwa badan stabilisasi ini memiliki dua tujuan utama, yaitu menjaga keamanan dan stabilitas di Gaza serta mendukung pembentukan pemerintahan sipil di wilayah Palestina.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan apresiasi kepada Indonesia atas keputusan negara tersebut untuk mengirimkan personel militer guna menjaga gencatan senjata di Jalur Gaza. "Sejumlah negara menjanjikan personel untuk membantu menjaga gencatan senjata dan memastikan perdamaian yang berkelanjutan ... khususnya kepada Indonesia, terima kasih banyak Indonesia, negara besar, terima kasih lagi," kata Trump kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.
Lima Sektor
Tim ahli militer telah beroperasi langsung dari pusat komando bersama yang akan berfungsi sebagai markas bagi ISF. Sesuai dengan rencana, anggota ISF akan dibagi menjadi lima sektor di Jalur Gaza, di mana setiap sektor akan dilengkapi dengan satu brigade ISF.
Kelima sektor tersebut mencakup Rafah, Khan Younis, Deir al Balah, Gaza City, dan Gaza Utara. Dalam waktu dekat, ISF akan dikerahkan ke wilayah Rafah di Gaza selatan, dan secara bertahap akan melanjutkan operasinya ke utara Gaza. Selain itu, pelatihan untuk pasukan kepolisian juga akan dilakukan bersamaan dengan pengiriman pasukan ini.
Mayjen Jeffers menyebutkan bahwa dalam jangka panjang, pihaknya memperkirakan akan ada sekitar 20.000 personel ISF dan 12.000 personel kepolisian yang akan bertugas di Jalur Gaza.
"Dengan langkah-langkah awal ini, kami akan mewujudkan keamanan yang diperlukan Gaza untuk masa depannya yang sejahtera dan perdamaian yang berkelanjutan," ungkap Jeffers.