Terinspirasi Lautan Surya Al Dhafra, Ini Potensi Energi Surya Indonesia yang Masif
Hamparan panel surya raksasa di gurun Abu Dhabi menjadi inspirasi. Indonesia memiliki potensi energi surya yang tak kalah besar, namun masih menghadapi tantangan dalam pengembangannya.
Dari kejauhan, kawasan gurun pasir Abu Dhabi tampak berkilau. Kilauan tersebut bukan berasal dari pasir atau fatamorgana, melainkan dari hamparan panel surya yang membentang sejauh mata memandang. Gurun pasir itu kini telah berubah menjadi “lautan surya” yang memantulkan cahaya di bawah terik matahari Timur Tengah.
Hamparan seluas sekitar 20 hingga 21 kilometer persegi ini dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Al Dhafra, yang merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga surya satu lokasi terbesar di dunia. PLTS Al Dhafra berlokasi sekitar 35 kilometer dari pusat kota Abu Dhabi, berdiri di jantung kawasan yang selama puluhan tahun identik dengan minyak dan gas.
Pembangkit ini dibangun di atas gurun pasir yang telah direkayasa, dengan permukaannya diratakan dan digantikan oleh barisan panel surya yang tersusun rapi serta seragam. Warna hitam kebiruan panel-panel tersebut kontras dengan pasir kekuningan di sekelilingnya, menciptakan lanskap baru yang tidak lagi menyerupai gurun alami. Panel-panel ini bergerak perlahan mengikuti arah matahari, menandai bahwa “lautan” ini hidup dan bekerja menyesuaikan diri dengan lintasan cahaya sepanjang hari.
Al Dhafra: Inspirasi Energi Bersih dari Gurun
PLTS Al Dhafra di Abu Dhabi merupakan bukti nyata transformasi gurun menjadi sumber energi masa depan. Dengan sekitar empat juta panel surya yang membentang di area seluas 20 hingga 21 kilometer persegi, pembangkit ini memiliki kapasitas 2,1 gigawatt (GW). Kapasitas sebesar ini mampu menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 200 ribu rumah tangga di Uni Emirat Arab.
Selain memenuhi kebutuhan listrik, Al Dhafra juga berkontribusi signifikan dalam mengurangi emisi karbon hingga 2,4 juta ton per tahun. Proyek ambisius ini dikembangkan oleh perusahaan energi terbarukan UEA, Masdar, dan Abu Dhabi National Energy Company (TAQA), bersama dengan mitra global lainnya. Keberadaan Al Dhafra menunjukkan bahwa dengan inovasi dan komitmen, wilayah yang sebelumnya bergantung pada energi fosil dapat beralih ke sumber energi bersih.
Langkah Indonesia Menuju Energi Surya
Inspirasi dari Al Dhafra turut menular ke Indonesia melalui peran Masdar. Perusahaan ini juga terlibat dalam pengembangan PLTS terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, yang kini menjadi proyek tenaga surya terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 145 megawatt (MW). PLTS terapung Cirata, yang mulai beroperasi pada tahun 2023, menghasilkan energi bersih yang cukup untuk memasok listrik bagi 50.000 rumah dan menurunkan emisi karbon hingga 214.000 ton per tahun.
Proyek di Cirata dibangun di atas area seluas 250 hektare di Waduk Cirata, menunjukkan pendekatan inovatif dalam pengembangan energi surya di negara kepulauan. Pada April 2025, Masdar dan PLN bahkan telah menandatangani perjanjian untuk memperluas kapasitas PLTS Terapung Cirata sebesar 500 MW. Meskipun kapasitas Cirata masih lebih kecil dibandingkan Al Dhafra, proyek ini menandai arah jelas Indonesia dalam mengembangkan energi surya dengan pendekatan yang adaptif terhadap kondisi geografisnya.
Potensi dan Tantangan Pengembangan PLTS di Indonesia
Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, mencapai 3.300 GW, namun hingga tahun 2025 baru dimanfaatkan sebesar 1.494 MW. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kapasitas terpasang pembangkit listrik energi terbarukan Indonesia hingga 2025 mencapai 13,16 GW, yang masih didominasi oleh PLTA dan bioenergi.
Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 76 persen di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT). Pengembangan EBT ini mencakup target tenaga surya sebesar 17,1 GW. Indonesia juga memiliki potensi pengembangan PLTS terapung di sekitar 325 lokasi danau dan bendungan, dengan 259 lokasi bendungan memiliki potensi kapasitas mencapai 14,7 GW, mengutip data dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Meskipun demikian, pengembangan PLTS di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan lahan, persoalan pembiayaan, kerangka regulasi, dan kesiapan jaringan listrik. Tantangan ini membuat pengembangan PLTS skala besar di Indonesia berjalan lebih lambat dibandingkan potensi yang dimiliki. Namun, Indonesia tidak dapat menunda lagi transisi ke energi bersih, mengingat biaya yang harus ditanggung akibat ketergantungan pada energi fosil akan jauh lebih besar daripada investasi untuk EBT.
Untuk mewujudkan transisi energi ini, pemerintah perlu memastikan kelanjutan pembahasan Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBET). RUU EBET ini krusial untuk mengisi kekosongan hukum, menciptakan iklim investasi yang kondusif, serta mendukung pemanfaatan dan pengembangan sumber EBT untuk pembangunan ekonomi nasional. Transisi energi adalah proses kompleks yang menuntut komitmen jangka panjang, memastikan akses energi terjangkau sekaligus mencapai target keberlanjutan lingkungan.
Sumber: AntaraNews