Raksasa Hiburan Disney Bakal PHK Ribuan Karyawan

Disney meminta manajer menekan biaya hingga 20% dan menyiapkan PHK ribuan karyawan. Beberapa lini disebut paling terdampak. Ini rinciannya.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani- Reporter
Raksasa Hiburan Disney Bakal PHK Ribuan Karyawan
<p>Pemandangan pintu masuk taman hiburan Walt Disney World pada 11 Juli 2020 di Lake Buena Vista, Florida, Amerika Serikat. (OCTAVIO JONES / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP)</p>

Walt Disney meminta sejumlah manajer menargetkan penghematan biaya tahunan sebesar 20% sebagai bagian dari langkah efisiensi, yang mencakup rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan lintas lini operasional.

Mengutip The Straits Times, Rabu (4/11/2026), sumber menyebut target penghematan itu akan dicapai lewat penghapusan posisi dan pemangkasan pengeluaran lainnya. Beberapa area seperti taman hiburan, jaringan televisi, dan studio film disebut berpotensi terdampak lebih besar dibandingkan bagian lain.

Masih menurut sumber tersebut, CEO Josh D’Amaro berencana menginvestasikan kembali sebagian penghematan ke program film dan televisi, teknologi, serta bisnis taman hiburan dan kapal pesiar. Perusahaan juga menjanjikan pertumbuhan dua digit pada laba per saham yang disesuaikan untuk tahun fiskal berjalan, sementara perwakilan Disney menolak berkomentar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Disney telah memangkas biaya hingga miliaran dolar AS dan menghapus ribuan posisi. Pengurangan mencakup berbagai divisi, termasuk ABC, Pixar, ESPN, studio film, dan unit experiences.

Pada akhir tahun fiskal lalu, Disney memiliki 231.000 karyawan di seluruh dunia. The Wall Street Journal pada 1 Oktober melaporkan rencana restrukturisasi divisi televisi, serta pengurangan di unit hukum dan urusan global perusahaan.

Langkah Serupa di Industri Hiburan

Perusahaan hiburan lain seperti Netflix, Sony Pictures Entertainment, serta divisi Paramount dan Warner Bros. milik Skydance juga memangkas tenaga kerja seiring turunnya pendapatan dari televisi tradisional dan melambatnya pertumbuhan pelanggan layanan streaming.

Mereka turut menghadapi pergeseran perhatian penonton ke media sosial dan video daring, serta persaingan dari layanan streaming yang didukung raksasa teknologi seperti Amazon.com dan Apple.

Dalam konferensi Bloomberg Screentime di Los Angeles pada Oktober, Presiden Disney, Dana Walden, menyatakan perlunya evaluasi berkelanjutan atas susunan dan skala organisasi.

"Perusahaan teknologi kini mengincar bisnis kami. Kita harus bertahan, berkembang, dan terus tumbuh, itulah yang akan kami lakukan," ujar dia.

Rekomendasi