The Fed Naikkan Suku Bunga, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Lantas, apa dampaknya terhadap rupiah, harga emas, pasar saham, dan investor di Indonesia?

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
The Fed Naikkan Suku Bunga, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Ketua Dewan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh berbicara selama konferensi pers di Federal Reserve di Washington. Rabu, 29 Juli 2026. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026 waktu Amerika Serikat atau Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia. Kenaikan ini menjadi yang pertama dilakukan The Fed sejak 2023. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh anggota FOMC.

Ketua The Fed Kevin Warsh menjelaskan keputusan tersebut diambil karena tekanan inflasi dinilai masih berlangsung terlalu lama. Kondisi geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah, juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan bank sentral Amerika Serikat.

Lantas, apa sebenarnya The Fed dan bagaimana kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dapat berdampak terhadap perekonomian Indonesia?

Apa Itu The Fed?

Logo Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) di Washington. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Logo Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) di Washington. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Dikutip dari Liputan6.com, Federal Reserve atau The Fed merupakan bank sentral Amerika Serikat. Lembaga ini didirikan pada 1913 melalui Federal Reserve Act sebagai respons terhadap serangkaian kepanikan keuangan dan penarikan dana besar-besaran dari perbankan, terutama krisis pada 1907.

The Fed bertanggung jawab menjaga stabilitas sistem keuangan dan menjalankan kebijakan moneter Amerika Serikat. Salah satu instrumen utama yang digunakan adalah suku bunga acuan.

Keputusan mengenai arah kebijakan moneter dibuat melalui Federal Open Market Committee (FOMC), yang terdiri dari anggota Dewan Gubernur Federal Reserve dan presiden bank-bank Federal Reserve regional.

Secara sederhana, ketika inflasi terlalu tinggi dan perekonomian tumbuh terlalu cepat, The Fed dapat menaikkan suku bunga untuk membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut diharapkan dapat menekan konsumsi dan investasi sehingga tekanan harga berkurang. Sebaliknya, ketika perekonomian melemah dan pengangguran meningkat, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong aktivitas pinjaman, investasi, dan konsumsi.

Kenapa The Fed Menaikkan Suku Bunga?

Dalam pernyataan terbarunya, The Fed menyebut aktivitas ekonomi AS masih berkembang dengan solid. Belanja domestik tetap kuat, pertumbuhan produktivitas tinggi, investasi modal masih besar, dan kondisi pasar tenaga kerja relatif stabil.

Namun, inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral AS. Karena itu, The Fed menaikkan suku bunga untuk mendorong inflasi kembali menuju target tersebut.

Tekanan harga juga berkaitan dengan kenaikan harga energi dan kondisi geopolitik. Kenaikan harga komoditas energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi yang kemudian berpotensi mendorong harga barang dan jasa.

Sebelumnya, pasar memang sudah memperkirakan kenaikan suku bunga tersebut. Survei Reuters pada 9 September 2026 menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan FOMC menaikkan suku bunga sebesar 25 bps.

Proyeksi terbaru The Fed juga menunjukkan inflasi Amerika Serikat diperkirakan belum kembali ke target 2% dalam waktu dekat. Bank sentral AS memperkirakan target tersebut baru tercapai pada 2029.

Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Perkuat Nilai Tukar Rupiah, Bank Indonesia Turunkan Batas Pembelian Dolar AS
Sebelumnya, pada Selasa (5/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS. Tampak dalam foto, karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Rabu (5/5/2026). (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Kenaikan suku bunga The Fed tidak hanya berdampak pada perekonomian Amerika Serikat. Keputusan tersebut juga dapat memengaruhi negara lain, termasuk Indonesia, melalui pasar keuangan dan nilai tukar.

Ekonom Institute for Economic and Social Research Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan suku bunga The Fed merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi arus modal global.

"Suku bunga The Fed adalah suku bunga kebijakan yang dipakai AS," kata Riefky kepada tim Liputan6.com.

Menurut Riefky, suku bunga The Fed yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan risiko capital outflow atau aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hal ini berkaitan dengan rate differential atau perbedaan tingkat suku bunga antara Amerika Serikat dan Indonesia. Ketika imbal hasil aset di Amerika Serikat menjadi lebih menarik, sebagian investor global dapat mempertimbangkan mengalihkan dananya ke aset berdenominasi dolar AS.

Jika arus modal keluar meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat bertambah. Dengan demikian, salah satu jalur utama dampak kenaikan suku bunga The Fed ke Indonesia adalah melalui pasar keuangan dan nilai tukar.

Kondisi tersebut juga dapat membuat dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang. Setelah keputusan The Fed pada 16 September 2026, indeks dolar AS menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat.

Bagaimana dengan Harga Emas?

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)
Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Kenaikan suku bunga The Fed juga dapat memengaruhi harga emas dunia. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan kenaikan suku bunga The Fed berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas dunia.

Secara umum, kenaikan suku bunga dapat membuat aset berbunga seperti obligasi dan instrumen pasar uang menjadi lebih menarik dibandingkan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga seperti emas.

Namun, dampaknya terhadap harga emas di Indonesia tidak selalu sama dengan pergerakan harga emas dunia.

Ibrahim memperkirakan harga emas dunia berpotensi terkoreksi, tetapi pelemahan rupiah dapat menahan penurunan harga emas dalam denominasi rupiah. Artinya, meskipun harga emas dunia turun, harga emas yang dibeli investor Indonesia belum tentu turun dalam persentase yang sama apabila rupiah pada saat yang sama melemah.

Sebagai gambaran, setelah keputusan The Fed pada 16 September, harga emas tercatat sebesar Rp 2.460.253 per gram, naik dibandingkan harga pada hari Rabu yang sebesar Rp 2.437.828.

Bagaimana Dampaknya Bagi Investor Indonesia?

trading dan investasi
trading dan investasi (sumber: freepik)

Kenaikan suku bunga The Fed juga dapat meningkatkan sensitivitas pasar saham. Dikutip dari liputan6.com, ketika suku bunga meningkat, biaya pinjaman dapat menjadi lebih mahal dan instrumen pendapatan tetap dapat menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian investor meninjau kembali alokasi dananya, termasuk terhadap aset berisiko seperti saham.

Ketika bunga dan imbal hasil aset AS naik, investor mempunyai alternatif investasi yang lebih menarik dengan risiko yang relatif rendah, sehingga sebagian dana dapat berpindah dari negara berkembang menuju aset dolar.

Namun, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya ditentukan oleh keputusan The Fed. Kinerja laba perusahaan, kondisi ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah, harga komoditas, kebijakan pemerintah, serta sentimen investor juga dapat memengaruhi pergerakan pasar saham.

Karena itu, satu kali kenaikan suku bunga The Fed tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan keputusan investasi.

Jadi, Apa Artinya bagi Indonesia?

Kenaikan suku bunga The Fed pada dasarnya membuat kondisi keuangan global menjadi lebih ketat. Bagi Indonesia, salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah potensi perubahan arus modal dan tekanan terhadap rupiah.

Jika rupiah melemah, harga sejumlah barang atau komoditas yang bergantung pada impor dapat ikut terpengaruh. Di sisi lain, eksportir tertentu dapat memperoleh manfaat dari penerimaan dalam dolar AS, tergantung pada struktur biaya dan bisnis masing-masing perusahaan.

Bagi investor, keputusan The Fed juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan bersama dengan kondisi ekonomi domestik, kebijakan Bank Indonesia, kinerja emiten, nilai tukar, harga komoditas, serta perkembangan ekonomi global.

Dengan demikian, dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap Indonesia tidak berlangsung melalui satu jalur saja. Perubahan suku bunga AS dapat merambat melalui arus modal, nilai tukar, pasar saham, obligasi, hingga harga komoditas dan pada akhirnya memengaruhi perekonomian Indonesia.

Rekomendasi