Harga emas dunia masih bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Meski saat ini mengalami koreksi, harga logam mulia dinilai masih memiliki ruang untuk kembali menguat hingga akhir 2026.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia berpotensi menuju level USD 5.000 per troy ounce pada November-Desember 2026.
Menurut Ibrahim, sejumlah faktor global masih menjadi penopang harga emas, mulai dari konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, ketegangan geopolitik di Eropa Timur, hingga potensi kembali memanasnya perang dagang.
"Optimis bahwa harga logam mulia ini masih akan terus mengalami penguatan hingga akhir 2026," kata Ibrahim pada Merdeka.com, Kamis (17/9).
Advertisement
Perang AS-Iran Jadi Salah Satu Pemicu
Ibrahim mengatakan konflik antara AS dan Iran turut memengaruhi pergerakan harga komoditas global, terutama setelah gangguan terhadap lalu lintas energi di kawasan Selat Hormuz. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga minyak mentah karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Kenaikan harga minyak kemudian berdampak pada biaya transportasi dan logistik. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi, khususnya di AS.
"Biaya logistik, biaya transportasi semakin mahal berdampak terhadap turunannya. Terutama di Amerika harga-harga bahan pokok mengalami kenaikan," ujarnya.
Perkembangan tersebut menjadi penting bagi pasar emas karena kebijakan suku bunga bank sentral AS akan ikut dipengaruhi oleh kondisi inflasi. Jika inflasi tetap tinggi dan The Federal Reserve mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat, harga emas berpotensi mendapat tekanan dalam jangka pendek.
Namun, di sisi lain, berlanjutnya konflik geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset yang dipandang investor sebagai lindung nilai ketika ketidakpastian meningkat. Reuters melaporkan konflik AS-Iran telah berlangsung selama enam bulan hingga September 2026. Gangguan terhadap pasokan energi akibat konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan memberikan tekanan inflasi.
Advertisement
Bank Sentral Mulai Beralih ke Emas
Selain konflik geopolitik, Ibrahim juga menyoroti perubahan strategi investasi sejumlah bank sentral global. Menurutnya, ketidakpastian terhadap kondisi global membuat sebagian bank sentral mulai mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar AS dan meningkatkan perhatian terhadap emas.
"Bank sentral global saat ini dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Eropa kan menarik emasnya dari Amerika, memindahkan emasnya dari Amerika ke Inggris," kata Ibrahim.
Ibrahim menilai perpindahan penyimpanan emas tersebut menunjukkan adanya upaya sejumlah negara untuk mengamankan cadangan emas sekaligus melakukan diversifikasi aset.
"Artinya apa? Mereka tahu bahwa kondisi global terus akan memanas dan ini membuat bank sentral global itu mengalihkan investasinya yang tadinya dengan mata uang dolar, dirubah dengan logam mulia," ujarnya.
World Gold Council mencatat bahwa pembelian dan kebijakan bank sentral tetap menjadi salah satu faktor penting dalam pasar emas. Sementara itu, mengutip data Sputnik, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent mengatakan bahwa terdapat negara seperti Rusia dan China yang mengurangi kepemilikan cadangan dolar, meski sejumlah negara lainnya masih aktif di pasar dolar AS. Karena itu, perubahan komposisi cadangan global tidak berarti seluruh bank sentral meninggalkan dolar.
Advertisement
Perang Dagang hingga Akhir Tahun
Ibrahim juga memperkirakan ketidakpastian pasar dapat kembali meningkat menjelang akhir 2026 apabila perang dagang kembali memanas. Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong masyarakat, investor, hingga bank sentral global meningkatkan pembelian emas.
"Memanasnya perang dagang ini juga masyarakat maupun investor maupun bank sentral global akan kembali melakukan pembelian terhadap logam mulia," katanya.
Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, serta meningkatnya perhatian bank sentral terhadap emas, Ibrahim melihat prospek logam mulia masih positif hingga penghujung tahun. Dia memperkirakan harga emas dunia berpotensi mencapai USD 5.000 per troy ounce pada November-Desember.
"Kalau tidak terjadi penutupan di Selat Hormuz, harga emas itu akan melompat. Tetapi lompatannya ini terbatas untuk saat ini. Dan kemungkinan di bulan November-Desember itu akan mencapai 5 ribu," ujar Ibrahim.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Ibrahim memperkirakan harga logam mulia di pasar domestik berpotensi kembali menembus Rp3 juta.
"Logam mulia kemungkinan kembali di atas Rp3 juta," katanya.
Meski demikian, proyeksi tersebut merupakan perkiraan Ibrahim dan pergerakan harga emas tetap akan bergantung pada perkembangan suku bunga AS, nilai tukar dolar, harga minyak, kondisi geopolitik, serta keputusan investor dan bank sentral global.