Presiden Prabowo Subianto baru saja melantik Mantan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (22/7). Langkah ini untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi mengemukakan Presiden Prabowo Subianto menunjuk Sudaryono untuk menggantikan Nanik S. Deyang yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan.
Sudaryono dipilih karena sejak awal terlibat dalam penyusunan konsep dan pembahasan teknis Program MBG.
Sudaryono atau yang akrab dipanggil Mas Dar lahir di Dusun Mangunrejo, Desa Tambirejo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada 23 Januari 1985 (41 tahun).
Sejak kecil, sosoknya dikenal sebagai anak cerdas dan pekerja keras, hingga kini mampu mengangkat derajat keluarganya. Sosok pekerja keras itu juga cukup dikenal di lingkungan sosialnya, karena aktif di berbagai organisasi yang melibatkan masyarakat kecil.
Mas Dar juga sempat menjabat sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah. Ia aktif di berbagai organisasi, seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Tani Merdeka Indonesia (TMI), Pembina DPP Pedagang Pejuang Indonesia Raya (PAPERA), serta Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Sudaryono juga merupakan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Advertisement
Pendidikan Ubah Jalan Hidup
Lahir dari keluarga petani, Sudaryono berangkat dari pengalaman hidup yang tidak mudah. Orang tuanya tak punya lahan sendiri dan menjadi buruh di sawah milik orang lain. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan.
Dalam situs web miliknya, ia bercerita setiap hari mesti memikul ember air di pundaknya dari sumur desa ke rumahnya dengan jarak hampir satu kilometer, mengingat desanya krisis air bersih, apalagi ketika masuk musim kemarau.
Sebagai anak petani, semangat belajarnya sangat tinggi sejak kecil. Selepas subuh, ia selalu menyempatkan untuk belajar mandiri sebelum mendengarkan penjelasan dari guru di sekolah. Hal itu yang kemudian membuatnya semakin berprestasi di sekolah, hingga berhasil menjadi siswa yang beruntung bisa mengenyam pendidikan di SMA Taruna Nusantara dan menjadi lulusan terbaik pada tahun 2003.
Sudaryono melanjutkan pendidikan pada tahun 2004 dengan beasiswa di Akademi Pertahanan Nasional Jepang. Ia menekuni studi di bidang teknik mesin dan lulus meraih gelar Bachelor of Engineering pada 2009, lalu menempuh pendidikan di Universitas Swiss German, Tangerang, pada tahun 2015 untuk gelar ganda Magister Manajemen dan Master of Business Administration, dan lulus pada tahun 2018.
Kemudian, ia menempuh pendidikan doktoral manajemen dan bisnis di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2020 dan meraih gelar doktor pada tahun 2025.
Advertisement
Karier
Sudaryono awalnya bekerja sebagai asisten pribadi Prabowo Subianto selama lima tahun dari 2009 sampai 2014, lalu memulai karier profesionalnya dari tahun 2014 sebagai Corporate Secretary di Nusantara Energy.
Ia kemudian dipercaya menjadi Direktur Utama Garuda TV pada 2018. Sudaryono juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Nusantara Telematics System sejak 2019, dan Chairman PT Sahabat Sejati Sejahtera Farma sejak 2020.
Ia kemudian dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian oleh Presiden Joko Widodo pada 18 Juli 2024.
Dalam beberapa sambutannya ketika datang mengunjungi masyarakat, Sudaryono seringkali menekankan pentingnya membangun pertanian Indonesia yang mandiri dan mewujudkan swasembada pangan, yang sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto.
Pengalamannya berkuliah di Jepang dan melihat bagaimana sistem pertanian yang memanfaatkan teknologi mampu mengubah hidup banyak orang menjadi bekal baginya untuk merumuskan berbagai kebijakan yang berdampak luas terhadap seluruh petani di Indonesia.
Dalam salah satu kesempatan, ia menyatakan sebelum Presiden Prabowo dilantik, pupuk diampu oleh begitu banyak kementerian dan harus melibatkan ratusan bupati dan gubernur, dengan 145 aturan yang ada. Peraturan tersebut kemudian dipersingkat dan disimplifikasi oleh Presiden menjadi satu aturan.
"Bagaimana pupuk daftarnya oleh Kementerian Pertanian, daftar diberikan ke Pupuk Indonesia, dan Pupuk Indonesia mendistribusikan langsung kepada petani, tidak menambah anggaran, tidak membebani APBN, tidak membebani siapapun dan berdampak kepada 115 juta petani di Indonesia. Secarik kertas bisa memberikan harga pupuk lebih murah 20 persen," kata Sudaryono.