Imbas Asap Karhutla Kalimantan, Ratusan Penerbangan Dibatalkan

Asap Karhutla menurunkan jarak pandang di sejumlah bandara Kalimantan. Kemenhub mencatat ratusan penerbangan terdampak. Ini rinciannya.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
Imbas Asap Karhutla Kalimantan, Ratusan Penerbangan Dibatalkan
Kemenhub menyatakan kondisi asap akibat karhutla mempengaruhi jarak pandang di sekitar bandara di Kalimantan. (Foto: Kemenhub)

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaporkan 409 penerbangan terdampak akibat asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan. Lebih dari 250 penerbangan dibatalkan atau ditunda, dengan sisanya mengalami keterlambatan dan sebagian kecil dialihkan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menjelaskan asap Karhutla menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara sehingga mengganggu kelancaran operasional penerbangan.

"Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Apabila kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, maka penerbangan dapat mengalami keterlambatan, penundaan, pembatalan, maupun pengalihan sesuai hasil evaluasi kondisi di lapangan dan pertimbangan keselamatan," ujar Lukman dalam keterangan resmi, Selasa (22/9/2026).

Selama periode 14–20 September 2026 di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan, tercatat 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 254 dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), dan 14 dialihkan (divert).

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode 7–13 September 2026 yang mencatat 159 penerbangan terdampak.

Secara wilayah, Kalimantan Tengah mencatat 201 penerbangan terdampak (79 delay, 121 cancelled/postponed, 1 diverted), Kalimantan Timur 138 penerbangan (48 delay, 77 cancelled/postponed, 13 diverted), dan Kalimantan Utara 70 penerbangan (14 delay, 56 cancelled/postponed).

Pada periode yang sama, jarak pandang terendah mencapai 50 meter di sejumlah bandara, antara lain Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara A.P.T. Pranoto. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penentu operasional karena setiap penerbangan wajib memenuhi batas minimum keselamatan yang berlaku.

Gangguan Penerbangan di Kalbar: Keterlambatan hingga 195 Menit

Pantauan pada 21 September 2026 menunjukkan dampak asap Karhutla juga terjadi di sejumlah bandar udara di Kalimantan Barat di bawah pengawasan Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama.

Di Bandara Supadio, Pontianak, beberapa penerbangan terlambat antara 42 hingga 195 menit. Sejumlah jadwal juga dibatalkan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional.

Pada pukul 21.30 WIB, Bandara Supadio berstatus open dengan jarak pandang sekitar 1.100 meter.

Di Bandara Rahadi Oesman, Ketapang, terdapat penerbangan yang mengalami keterlambatan akibat kondisi cuaca. Sementara itu, di Bandara Singkawang, beberapa penerbangan dibatalkan karena alasan operasional, dengan status bandara tetap open dan jarak pandang sekitar 1.000 meter.

Adapun Bandara Tebelian, Sintang, dan Bandara Pangsuma, Putussibau, juga berstatus open dengan jarak pandang masing-masing sekitar 700 meter. Saat pemantauan dilakukan, tidak terdapat jadwal penerbangan pada kedua bandara tersebut.

Pemantauan Intensif Operasional Penerbangan

Lukman menyampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama Kantor Otoritas Bandar Udara dan seluruh pemangku kepentingan penerbangan terus memantau jarak pandang, melakukan koordinasi operasional, serta evaluasi berkala.

"Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan operasional penerbangan dapat berjalan dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran penerbangan," jelas Lukman.

Selain aspek operasional penerbangan, Ditjen Perhubungan Udara juga berkoordinasi dengan instansi terkait dalam mendukung penanganan Karhutla, termasuk pelaksanaan patroli udara dan operasi water bombing.

Rekomendasi