Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki mengumumkan identifikasi sebuah fragmen tablet beraksara paku dari Hattusa sebagai bagian dari Perjanjian Damai Kadesh, salah satu kesepakatan damai tertulis paling awal yang diketahui. Fragmen itu ditemukan dalam penggalian arkeologi di Buyukkale, kawasan kota kuno Hattusa di Corum, Turki. Dikutip dari Anadolu, Selasa (22/9/2026), Menteri Mehmet Nuri Ersoy menyampaikan temuan tersebut.
Menurut kementerian, fragmen memuat sejumlah baris ketentuan yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang yang melarikan diri dari satu negara ke negara lainnya. Bagian teks yang berhasil diidentifikasi berasal dari Pasal 12 hingga 20 perjanjian. Fragmen ditemukan di dekat Bangunan E Buyukkale dan sisi yang masih bertahan diteliti secara mendetail selama sekitar satu tahun sebelum dikukuhkan sebagai bagian dari salinan perjanjian itu.
"Kami telah menemukan jejak perdamaian yang berasal dari ribuan tahun lalu di tanah Anatolia," kata Ersoy dalam unggahan di media sosial.
"Pemeriksaan ilmiah telah menentukan bahwa sebuah fragmen tablet bertuliskan aksara paku yang ditemukan selama penggalian di Buyukkale, Hattusa, Corum, merupakan bagian dari salah satu salinan Perjanjian Damai Kadesh," lanjutnya.
Ersoy menuturkan, bagian yang masih dapat dibaca merujuk pada orang-orang yang melarikan diri dari wilayah Mesir dan Hatti (Kerajaan Het). Ia juga menyebut adanya ketentuan mengenai penghancuran rumah. Dalam penjelasan kementerian, teks yang tersisa turut memuat ketentuan mengenai perlindungan rumah dari penghancuran.
Perjanjian Damai Kadesh dibuat antara Raja Het Hattusili III dan Raja Mesir Ramesses II. Kesepakatan ini luas dikaitkan dengan berakhirnya konflik antara Het dan Mesir setelah Pertempuran Kadesh pada abad ke-13 SM.
Ersoy menambahkan, pengumuman penemuan ini dilakukan pada 21 September, bertepatan dengan Hari Perdamaian Sedunia. "Pernyataan mengenai penghancuran rumah-rumah masyarakat membawa pesan kuat dari ribuan tahun lalu hingga saat ini," ujarnya.
Dalam unggahannya, Ersoy juga menyinggung situasi di Palestina dan menyatakan bahwa warisan kuno tersebut mengingatkan manusia pada tanggung jawab untuk melindungi kehidupan serta martabat manusia. "Kami berharap masa depan di mana semua orang, khususnya saudara-saudari Palestina kami, dapat hidup dalam keamanan, perdamaian dan ketenangan," katanya.
Advertisement
Fragmen Baru Perjanjian di Hattusa, Turki
Versi Mesir dari Perjanjian Damai Kadesh ditulis dalam hieroglif pada dinding kuil di Mesir. Sementara itu, sejumlah fragmen tablet tanah liat yang memuat versi Akkadia dari perjanjian tersebut ditemukan di Hattusa dalam penggalian pertama di lokasi itu pada 1906–1912.
Hattusa terletak di dekat kota modern Bogazkale, Provinsi Corum, dan merupakan ibu kota Kekaisaran Het, salah satu kekuatan besar di Anatolia pada milenium kedua SM.
Situs arkeologi Hattusa tercatat dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1986.
Fragmen-fragmen perjanjian yang telah ditemukan sebelumnya kini menjadi koleksi Museum Arkeologi Istanbul, Museum Peradaban Anatolia di Ankara, Vorderasiatisches Museum di Berlin, serta Museum State Hermitage di St. Petersburg.
Fragmen yang baru diidentifikasi ini diharapkan membantu upaya merekonstruksi salinan tablet tanah liat perjanjian yang ditemukan di Hattusa.
Penggalian di Buyukkale masih berlangsung, dan para peneliti berharap dapat menemukan fragmen lain yang masih hilang dari perjanjian tersebut.