Praktek pergeseran konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi ke BBM bersubsidi kian meresahkan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melontarkan imbauan tegas agar masyarakat berekonomi mampu tidak menggerogoti jatah BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi warga berhak.
"Saya mengimbau kepada saudara-saudara yang mampu, pendapatannya bagus, ekonominya menengah ke atas, mobilnya bagus, janganlah pakai BBM bersubsidi," ujar Bahlil usai menghadiri agenda Electricity Connect 2026 di Tangerang, Banten, Selasa.
Pernyataan keras Bahlil merujuk pada kasus antrean panjang SPBU di Makassar, Sulawesi Selatan. Di sana, pihak kepolisian membongkar modus mobil mewah yang memodifikasi tangki hingga sanggup menampung hingga 700 liter BBM.
"Memang terjadi shifting (konsumen nonsubsidi ke subsidi), gimana nggak shifting kalau mobil bagus begitu saja diisi pakai minyak subsidi, habis itu dijual lagi," ucap Bahlil menyindir aksi nakal tersebut.
Advertisement
Minyak Dunia Melonjak dan Instruksi Presiden
Bahlil menjelaskan bahwa gejolak harga minyak dunia yang menembus di atas 100 dolar AS per barel memicu perpindahan konsumsi ini. Tingginya harga minyak nonsubsidi mendorong sebagian pemilik kendaraan beralih memburu BBM bersubsidi.
Meski begitu, persoalan kelangkaan BBM yang sempat memicu antrean mengular di Makassar pada Kamis (17/9) kini telah terurai dan pasokannya dipastikan kembali stabil.
Selain faktor kenaikan harga global, aksi borong dan dugaan pemakaian BBM subsidi secara berlebihan menjadi penyebab utama perpanjangan antrean di sejumlah lokasi.
Menanggapi fenomena ini, Bahlil menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi langsung untuk menertibkan penyimpangan distribusi di lapangan. Pemerintah pun terus menjalin koordinasi intensif bersama PT Pertamina (Persero) guna menata kembali implementasi aturan BBM bersubsidi secara ketat.