Hasil Lab Menu MBG di Blora Terbit, Dinkes Ungkap Temuan Bakteri di Air Sumur dan Sop

Uji laboratorium terkait menu MBG di Blora rampung. Dinkes menemukan kontaminasi pada sampel air sumur dan makanan. Ini penjelasan serta langkah lanjutnya.

Ahmad Adirin
Oleh Ahmad Adirin - Reporter
Hasil Lab Menu MBG di Blora Terbit, Dinkes Ungkap Temuan Bakteri di Air Sumur dan Sop
19 Siswa SDN di Blora Keracunan MBG (Foto: Arief Pramono/Liputan6.com)

Hasil uji laboratorium atas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi ratusan siswa dan guru SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, telah keluar. Dinas Kesehatan Kabupaten Blora menyebut sejumlah sampel makanan dan air mengandung bakteri yang berpotensi memicu keracunan.

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora, dr. Nur Betsia Bertawati, pemeriksaan dilakukan oleh tim surveilans dinas bersama Laboratorium Kesehatan (Labkes) Kabupaten Blora serta Labkes Provinsi sebagai bagian dari penanganan kejadian keracunan makanan.

Ia menjelaskan alur epidemiologi yang dikerjakan petugas saat terjadi dugaan keracunan.

"Apabila ada keracunan, memang tugas dari dinas kesehatan itu melakukan epidemiologi, di antaranya melakukan pemeriksaan terhadap makanan dan hasil mungkin muntahan, kemudian juga kalau diare berarti hasil fesesnya untuk diperiksa," kata Nur Betsia kepada Liputan6.com saat ditemui di kantornya, Selasa (22/9/2026).

Pengujian oleh Labkes Kabupaten Blora mencakup air sumur dan air minum yang digunakan. Hasil menunjukkan kandungan Escherichia coli (E. coli) pada air sumur melebihi ambang batas, sedangkan air minum isi ulang berada dalam batas normal.

"Terutama di air sumurnya, tapi kalau airnya isi ulang itu masih dalam batas normal," ujar Nur Betsia.

Di sisi lain, pengujian sejumlah menu MBG di Labkes Provinsi menemukan bakteri Bacillus cereus pada menu sop beserta kuahnya serta pada woku ayam. Bakteri tersebut dapat memicu gejala diare, mual, dan muntah yang dialami siswa saat kejadian di SMAN 1 Tunjungan.

"Di sop itu ditemukan Bacillus cereus, bakteri yang menyebabkan keracunan makanan yang tanda-tandanya di antaranya diare, mual, muntah," katanya.

Selain pada sop dan woku ayam, menu lainnya yang diperiksa tidak ditemukan bakteri serupa. Dinkesda Blora menyebut pemeriksaan laboratorium ini merupakan inisiatif dinas sebagai bagian dari penanganan setiap kejadian dugaan keracunan makanan melalui tim surveilans.

"Jadi setiap ada keracunan makanan, otomatis tugas kita selain mengecek lokasi juga memeriksa bahan-bahan makanan, itu memang sudah menjadi tugas dari kita," ujarnya.

Hasil Lab MBG Bisa Diserahkan ke Polisi

Terkait proses hukum yang berjalan, pihak kepolisian dapat memperoleh hasil pemeriksaan laboratorium melalui permintaan resmi secara tertulis.

"Kalau untuk penyidikan kepolisian memang kita mempunyai etika, itu bisa diberikan dengan surat resmi," kata Nur Betsia.

Namun, tidak semua hasil pemeriksaan kesehatan dapat dibagikan secara terbuka kepada masyarakat karena ada ketentuan mengenai data yang dapat dipublikasikan.

"Tapi kalau untuk dishare untuk umum, itu memang tidak diperbolehkan, kita punya data-data yang boleh diberikan, ada yang tidak boleh diberikan," imbuhnya.

Dinkesda Kabupaten Blora telah melaporkan hasil pemeriksaan tersebut kepada Satgas MBG dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Adapun tindak lanjut terkait proses hukum selanjutnya menjadi kewenangan pihak kepolisian.

"Kalau kami tugasnya dari dinas kesehatan hanya melakukan epidemiologi, memeriksa kemudian mencari penyebab masalah, tugas kami itu. Kemudian melaporkan hasil dari itu, kalau dari kepolisian nanti, kita hanya menyampaikan saja, seterusnya tugasnya dari kepolisian," ujarnya.

Nur Betsia menyebut sampel untuk pemeriksaan laboratorium diambil pada 8 September 2026. Hasil dari seluruh proses tersebut kemudian diterima pada 19 September 2026.

Dia mengatakan pemeriksaan dilakukan di dua laboratorium sesuai jenis uji, yakni Labkes Kabupaten Blora dan Labkes Provinsi.

"Yang bisa dilakukan di Blora, ya di Blora, yang bisa dilakukan di provinsi ya kita harus Labkes ke provinsi," katanya.

Sementara itu, kondisi siswa dan guru yang sebelumnya mengalami gejala keracunan kini telah membaik dan seluruhnya sudah pulang. Dinkesda Blora belum memantau secara menyeluruh apakah seluruh siswa yang terdampak telah kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Rekomendasi