OJK dan Inklusi Keuangan Tingkatkan Daya Saing Wisata Majalengka di Situ Cipanten

Program inklusi keuangan yang digagas OJK berhasil meningkatkan daya saing wisata Majalengka, khususnya di Situ Cipanten, dengan mendorong literasi finansial dan ekonomi lokal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
OJK dan Inklusi Keuangan Tingkatkan Daya Saing Wisata Majalengka di Situ Cipanten
Program inklusi keuangan yang digagas OJK berhasil meningkatkan daya saing wisata Majalengka, khususnya di Situ Cipanten, dengan mendorong literasi finansial dan ekonomi lokal. (AntaraNews)

Situ Cipanten, sebuah danau tenang di Desa Gunung Kuning, Majalengka, Jawa Barat, kini menjadi magnet bagi wisatawan yang mencari ketenangan alam. Keindahan danau dengan air kebiruan dan pepohonan rindang menawarkan suasana sejuk dan damai bagi setiap pengunjung. Destinasi ini tidak hanya memikat hati wisatawan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ekonomi lokal yang signifikan.

Objek wisata ini telah membuktikan diri sebagai tulang punggung ekonomi bagi warga Desa Gunung Kuning, Majalengka, dengan pengelolaan yang melibatkan karang taruna setempat. Peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja lokal menjadi bukti nyata kontribusi Situ Cipanten. Kini, destinasi ini juga menjadi lokasi percontohan program inklusi keuangan yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Program inklusi keuangan ini bertujuan untuk memperkuat akses finansial masyarakat desa, sekaligus membangun potensi lokal melalui jalur wisata. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan literasi keuangan warga, mendorong kemandirian ekonomi, dan menjaga perputaran uang tetap sehat di kawasan wisata. Dengan demikian, Situ Cipanten tidak hanya indah, tetapi juga berdaya saing tinggi.

Daya Tarik Alam dan Penguatan Ekonomi Lokal

Situ Cipanten menawarkan pesona alam yang menenangkan, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, menjadikannya pilihan favorit bagi wisatawan seperti Eki Yulianto dari Cirebon. Pengunjung dapat menikmati suasana sejuk, pepohonan rindang, dan aktivitas memberi makan ikan koi yang bergejolak di tepian danau. Keasrian tempat ini menjadi daya tarik utama yang diharapkan tetap terjaga.

Arif, wisatawan asal Sumedang, mengaku tertarik datang setelah melihat keindahan Situ Cipanten di media sosial, yang menampilkan suasana alami dan cocok untuk melepas penat. Para pengunjung dapat bersantai di tepi danau, menyusuri jalur setapak, atau menikmati wahana air yang tersedia. Keunikan dan kesederhanaan Situ Cipanten justru menjadi nilai jual yang kuat.

Bagi warga Desa Gunung Kuning, Situ Cipanten bukan hanya destinasi wisata, melainkan sumber kehidupan yang signifikan. Direktur BUMDes Karya Mekar Desa Gunung Kuning, Yosep Hendrawan, mengungkapkan bahwa pengelolaan wisata ini telah menjadi tulang punggung ekonomi desa. Fasilitas terus dikembangkan, mulai dari mushala, area parkir, hingga tujuh wahana air, termasuk perahu dayung dan sepeda gantung.

Pendapatan bruto BUMDes dari sektor wisata terus menunjukkan peningkatan, mencapai Rp2,4 miliar pada tahun 2024 dan menembus Rp2,5 miliar hingga September 2025. Keberhasilan ini memungkinkan BUMDes menggaji sekitar 70 pekerja muda desa dengan honor mingguan sekitar Rp1,5 juta. Banyak dari mereka yang sebelumnya bekerja serabutan kini dapat bertahan di kampung halaman, menunjukkan dampak positif wisata terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.

Inklusi Keuangan Dorong Kemandirian Ekonomi Wisata

Di tengah geliat pariwisata, Desa Gunung Kuning dipilih sebagai lokasi program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membawa dampak positif yang signifikan. Program ini bertujuan untuk memperkuat akses keuangan masyarakat, terutama para pelaku UMKM di sekitar Situ Cipanten. Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian ekonomi desa.

Yosep Hendrawan menjelaskan bahwa dampak program EKI mulai terlihat jelas di kawasan wisata, dengan 28 warung binaan di Situ Cipanten kini telah menggunakan pembayaran digital melalui QRIS. Meskipun sistem pembayaran non-tunai sudah ada sebelumnya, program ini memperkuat adopsi dan literasi digital di kalangan pelaku usaha. Penguatan literasi menjadi kunci agar masyarakat lebih memahami penggunaan uang digital.

Selain adopsi QRIS, masyarakat sekitar juga mendapatkan edukasi komprehensif mengenai tabungan, kredit usaha, dan bahaya pinjaman daring ilegal. Materi disampaikan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan spesifik warga desa. Program ini berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap uang, mendorong kebiasaan menabung, dan memperkenalkan layanan perbankan formal.

Menurut Yosep, penguatan literasi keuangan menjadi fondasi krusial agar ekonomi desa tidak hanya tumbuh, tetapi juga memiliki daya tahan yang kuat. Wisata menyediakan pemasukan, sementara inklusi keuangan memastikan perputaran uang tetap sehat dan berkelanjutan di lingkungan desa. Hal ini mencegah ketergantungan pada pinjaman informal atau rentenir.

Perluasan Program EKI dan Dukungan untuk UMKM

Program Desa EKI di Situ Cipanten kini diperluas dengan fokus pada pengembangan desa wisata ramah difabel, menunjukkan komitmen terhadap pariwisata yang inklusif. Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menegaskan bahwa program EKI memperkuat akses keuangan dan membangun potensi lokal sebagai keunggulan kawasan. Kolaborasi antara OJK, Bank Indonesia, pemerintah daerah, BUMDes, serta industri jasa keuangan menjadi kunci keberhasilan.

Pendekatan program ini tidak hanya terbatas pada penyaluran kredit, melainkan membangun ekosistem keuangan yang komprehensif di tingkat desa. Peningkatan inklusi keuangan sangat penting agar masyarakat menjadi lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada pinjaman ilegal atau rentenir. Program ini dirancang dalam tiga tahap hingga tahun 2026: pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi.

Pada tahap awal, OJK memetakan kebutuhan akses keuangan 108 peserta, dengan hasil 51 persen membutuhkan tabungan, 19 persen kredit usaha, 4 persen deposito, dan 3 persen pembiayaan kendaraan. Tahap selanjutnya adalah product matching antara perbankan dan industri keuangan non-bank. Masyarakat juga diedukasi tentang risiko pinjaman daring ilegal dan pentingnya menggunakan layanan keuangan resmi.

Selain Majalengka, OJK juga memperluas program Inkubasi Desa EKI di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, di Desa Karangtawang dan Desa Kaduela. Program ini melibatkan sekitar 200 UMKM, fokus pada penguatan pemahaman produk pembiayaan formal yang aman dan berizin. Edukasi ini krusial untuk mencegah masyarakat terjebak penipuan berkedok lembaga keuangan dan meningkatkan daya saing usaha UMKM.

Komitmen Pemerintah Daerah untuk Wisata Berkelanjutan

Situ Cipanten diproyeksikan menjadi ikon wisata alam Majalengka, dengan pemerintah daerah setempat melihatnya cocok untuk wisata keluarga dan ekowisata. Bupati Majalengka, Eman Suherman, menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan kawasan ini melalui penataan infrastruktur dan peningkatan akses. Dukungan ini bertujuan memastikan pertumbuhan wisata yang berkelanjutan.

Pengembangan wisata harus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Warga desa secara aktif dilibatkan dalam pengelolaan fasilitas, penyediaan jasa wisata, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif. Keterlibatan masyarakat lokal memastikan bahwa manfaat ekonomi dirasakan secara merata.

Pemerintah daerah juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, komunitas, dan lembaga pendidikan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan inovasi dalam pengelolaan destinasi, mulai dari penataan kawasan hingga promosi digital. Penyelenggaraan kegiatan budaya dan lingkungan yang menarik minat wisatawan juga menjadi fokus utama.

Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan program inklusi keuangan, Situ Cipanten diharapkan tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa. Pendekatan holistik ini menciptakan ekosistem wisata yang kuat, mandiri, dan berdaya saing tinggi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi